JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat (AS) kembali menorehkan rekor baru pada sesi perdagangan Kamis (15/5/2026) waktu setempat. Pergerakan ini dipacu oleh melesatnya saham-saham teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) serta munculnya optimisme pelaku pasar terhadap pulihnya hubungan dagang antara AS dan China.
Indeks S&P 500 mengalami kenaikan sebesar 0,8% dan berhasil melewati level 7.500 untuk pertama kalinya sepanjang sejarah. Di waktu yang sama, Nasdaq merangkak naik 0,9% menuju rekor tertinggi baru pada posisi 26.635.
Indeks Dow Jones Industrial Average pun turut menguat 0,75%, bahkan kembali melampaui level psikologis 50.000 untuk kali pertama semenjak konflik perang Iran meletus pada Februari yang lalu.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber yang mengutip Trading Economics, secara mendalam, reli di pasar modal ini dikomandoi oleh saham-sektor teknologi, terutama di bidang AI. Saham Cisco Systems melonjak drastis 13,4% usai perusahaan tersebut merevisi naik proyeksi pendapatan serta laba tahunan mereka.
Sementara itu, NVIDIA turut naik sebesar 4,4%, yang memperlama tren reli bulanan mereka menjadi sekitar 15%. Kenaikan harga saham Nvidia ini terjadi sesudah pemerintah AS merilis izin bagi 10 korporasi China untuk mendapatkan chip AI H200 produksi Nvidia.
Keputusan tersebut dipublikasikan di sela kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Beijing yang didampingi oleh beberapa CEO perusahaan teknologi raksasa asal AS.
Pelaku pasar menangkap langkah ini sebagai tanda meredanya ketegangan teknologi antara Washington dan Beijing yang selama ini menjadi beban bagi sektor semikonduktor di tingkat global.
Pada bagian lain, Menteri Keuangan AS Scott Bessent memaparkan bahwa Washington dan Beijing sedang mendalami mekanisme untuk mempercepat persetujuan investasi tertentu dari China ke wilayah AS.
Tak hanya itu, kedua negara tersebut juga mulai membuka celah untuk pengurangan tarif pada sejumlah komoditas yang bersifat non-strategis.
Pemaparan tersebut mempertebal optimisme para investor bahwa hubungan ekonomi antara dua negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia ini mulai bergerak ke fase yang lebih stabil.
Mengingat sebelumnya, perselisihan dagang dan restriksi teknologi telah menjadi pusat konflik utama bagi keduanya.