Rupiah Sentuh Level Terendah, Ekspektasi Kenaikan BI Rate Kian Menguat

Selasa, 19 Mei 2026 | 08:53:42 WIB
Ilustrasi Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. (Foto: ANTARA)

JAKARTA — Turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kini mulai memicu proyeksi kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate oleh Bank Indonesia pada tahun ini. Paling dekat, BI akan mengadakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 19-20 Mei 2026. 

Untuk saat ini, BI Rate tetap bertahan di posisi 4,75%. Merujuk pada riset Stockbit, konsensus pasar yang dikumpulkan Bloomberg saat ini memperkirakan median BI Rate sampai akhir 2026 akan menyentuh level 5%, atau mengindikasikan adanya peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps). 

"Tekanan terhadap rupiah saat ini didominasi faktor eksternal, terutama meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed setelah inflasi AS melampaui ekspektasi pasar dan harga minyak bertahan tinggi," papar tim analis Stockbit.

Nilai tukar rupiah sempat merosot ke posisi terendah sepanjang sejarah di level Rp17.669 per dolar AS pada perdagangan intraday Senin (18/5/2026), sebelum akhirnya ditutup pada posisi Rp17.656 per dolar AS. 

Secara year-to-date (YTD), rupiah tercatat sudah terdepresiasi sebesar 5,8% dan masuk dalam jajaran mata uang dengan performa terburuk di Asia sepanjang tahun ini.

Tekanan pada mata uang garuda melonjak seiring dengan penguatan dolar AS yang disebabkan oleh ekspektasi pengetatan moneter lanjutan oleh bank sentral AS, Federal Reserve System. 

Biro Statistik Tenaga Kerja AS merilis data inflasi indeks harga konsumen (IHK) AS pada April 2026 yang menyentuh 3,8% secara tahunan, angka ini lebih tinggi dari Maret 2026 yang sebesar 3,3% sekaligus melewati konsensus pasar di level 3,7%. Posisi ini juga menjadi yang paling tinggi sejak Mei 2023.

Menanggapi data inflasi itu, probabilitas The Fed untuk mengerek suku bunga paling tidak 25 bps menjadi 3,75%—4% sampai akhir 2026 merangkak naik ke kisaran 51% mengacu pada CME FedWatch Tool per Senin (18/5/2026). 

Angka tersebut meningkat tajam bila dibandingkan dengan probabilitas sepekan sebelumnya yang hanya sebesar 21%. Proyeksi kenaikan suku bunga AS ini ikut mendongkrak indeks dolar AS (DXY) yang menguat 1,19% secara mingguan menuju level 99,1. 

Di samping itu, harga minyak Brent pun bertahan tinggi pada rentang US$110 per barel pascainsiden drone di Uni Emirat Arab dan Arab Saudi. Situasi ini kian memperbesar kecemasan pasar atas tekanan inflasi global.

Apresiasi dolar AS selanjutnya mendatangkan tekanan bagi aset-aset emerging markets, termasuk di dalam negeri. Yield obligasi pemerintah Indonesia untuk tenor 10 tahun terpantau naik 11 bps menuju posisi 6,81%. 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga melemah 1,85% ke posisi 6.599 yang dibarengi dengan aksi jual bersih investor asing senilai Rp464 miar pada perdagangan Senin.

Di tengah gempuran tekanan tersebut, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan optimistis rata-rata kurs rupiah pada tahun ini masih dapat bergerak menguat kembali ke rentang Rp16.500 per dolar AS, sejalan dengan asumsi APBN 2026 pada kisaran Rp16.200—Rp16.800 per dolar AS. 

Menurut Perry, penyusutan nilai rupiah pada kuartal II merupakan tren musiman karena melonjaknya permintaan dolar AS, khususnya demi mengakomodasi kebutuhan pembagian dividen. 

Dia memproyeksikan rupiah memiliki peluang untuk kembali menguat pada kuartal berikutnya. 

“Pelemahan rupiah sebesar 5,8% secara YtD masih dalam kategori terkendali,” ujar Perry dalam rapat bersama DPR, Senin (18/5/2026). 

Perry menambahkan, BI saat ini lebih fokus dalam mengawasi volatilitas nilai tukar dibanding angka absolut rupiah dengan memakai rata-rata pergerakan 20 hari sebagai patokan.

Terkini