BUNGO – Usai sempat terpuruk lantaran naik turunnya harga dan penurunan daya beli pasar, komoditas karet di Kabupaten Bungo saat ini mulai memperlihatkan pergerakan positif.
Sepanjang beberapa minggu belakangan, nominal getah karet pada level tengkulak konsisten bertahan di kisaran Rp18 ribu sampai Rp18.500 per kilogram, sebuah keadaan yang mulai menyalakan kembali kegiatan perkebunan warga.
Peningkatan harga tersebut menjadi angin segar bagi ribuan petani karet di wilayah tersebut. Di sejumlah dusun, kegiatan menyadap yang dulunya sempat berkurang kini kembali padat dilakukan sejak subuh.
Para petani mulai merasa optimis lantaran perolehan kebun kembali mampu menyokong keperluan rumah tangga.
Bagi warga Bungo, karet bukan sekadar tanaman perkebunan biasa, melainkan tumpuan hidup utama yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Ketika harga merosot dalam beberapa tahun belakangan, banyak petani terpaksa mengurangi pemeliharaan kebun, bahkan ada yang beralih profesi menjadi buruh harian demi mencukupi keperluan keluarga. Kini, seiring harga yang berangsur membaik, asa petani kembali tumbuh.
Sopian, seorang petani karet dari Dusun Mangun Jayo, menyampaikan bahwa stabilnya harga dalam beberapa minggu belakangan amat menopang perekonomian warga desa.
Menurut dia, keadaan saat ini jauh lebih bagus ketimbang ketika harga berada di bawah Rp10 ribu per kilogram.
“Sebagai petani karet tentu kami sangat senang karena harga masih stabil dari pekan lalu. Harga sekarang sangat membantu masyarakat,” ujar Sopian, Senin (18/5/2026).
Dia menyampaikan, saat harga anjlok, pemasukan dari hasil sadapan kerap kali tidak seimbang dengan ongkos operasional serta keperluan sehari-hari. Akan tetapi saat ini, petani mulai kembali bergairah untuk mengurus kebun secara berkala.
Kondisi serupa turut dirasakan oleh Ibnu. Dia menganggap peningkatan harga karet memicu para petani kembali bersemangat pergi ke kebun walaupun cuaca belakangan ini tidak menentu dan sering mengganggu jalannya proses penyadapan.
“Setiap hari Minggu hasil sadapan langsung kami jual ke tengkulak. Alhamdulillah sekarang harganya sudah sangat menjanjikan. Kami jadi lebih semangat lagi karena harga sudah mendekati Rp20 ribu per kilogram,” ungkapnya.
Berdasarkan penuturan para petani, peningkatan harga tidak cuma memberi dampak bagi pemasukan keluarga, melainkan juga mulai menggerakkan roda perekonomian desa.
Kedai-kedai kecil kembali ramai, aktivitas transaksi meningkat, hingga pelunasan utang petani kepada toko maupun pengepul mulai berjalan lancar.
Di sisi lain, tengkulak atau pengepul getah karet turut merasakan pergantian yang berarti dalam beberapa waktu belakangan. Salah seorang tengkulak, Dolet, menyebutkan bahwa peningkatan harga pada level petani disebabkan oleh naiknya harga jual dari pabrik pengolahan.
“Kalau harga dari pabrik naik, otomatis kami di bawah juga membeli dengan harga lebih tinggi. Kami tidak bisa main-main soal harga karena kasihan masyarakat,” jelas Dolet.
Dia menerangkan, mata rantai niaga karet amat bergantung pada situasi pasar dan mutu barang yang dilego petani.
Karet dengan kadar air yang rendah serta kondisi yang bersih mempunyai nilai jual yang lebih tinggi ketimbang getah yang bercampur kotoran.
“Kalau kualitas bagus tentu harganya juga tinggi. Semoga harga terus naik dan kami sebagai tengkulak akan tetap membeli sesuai harga pasar,” tutupnya.
Walaupun tren harga saat ini terbilang menjanjikan, para petani berharap ketetapan harga dapat bertahan dalam kurun waktu yang panjang.
Sebab, naik turunnya harga karet selama ini menjadi kendala utama yang memengaruhi tingkat kesejahteraan warga perkebunan di Kabupaten Bungo.
Lewat harga yang mulai mendekati Rp20 ribu per kilogram, sebagian petani saat ini mulai kembali menggantungkan harapan besar pada sektor perkebunan karet sebagai penyokong ekonomi keluarga serta masa depan usaha tani mereka.