Anglo American Jual Aset Batu Bara ke Dhilmar Senilai US Dolar 3,875 M

Selasa, 19 Mei 2026 | 12:21:37 WIB
President Director Amman Mineral Alexander Ramlie. (Sumber Gambar : theeconopost.com)

JAKARTA – Korporasi tambang berskala global, Anglo American, telah menyetujui penjualan seluruh portofolio tambang batu bara metalurgi mereka di Australia kepada Dhilmar Limited, sebuah entitas milik Alexander Ramlie. 

Nilai dari transaksi jumbo ini dikabarkan menyentuh angka US$3,875 miliar.

Skema pembayaran dalam perjanjian ini mencakup dana tunai di muka sebesar US 2,3 miliar yang di bayarkan saat finalisasi transaksi.

Di samping itu, ada pula tambahan yang nilainya bergantung pada pergerakan harga komoditas dengan potensi mencapai US1,575 miliar.

Chief Executive Officer Anglo American, Duncan Wanblad, menjelaskan bahwa seluruh dana yang didapat dari aksi divestasi ini akan dipergunakan untuk mengurangi beban utang bersih perusahaan.

sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Kesepakatan ini merupakan langkah besar lainnya dalam penyederhanaan portofolio kami menjelang penyelesaian merger dengan Teck,” ujar Wanblad.

Melalui strategi pelepasan aset ini, Anglo American akan sepenuhnya keluar dari bisnis batu bara metalurgi. 

Sebelumnya, korporasi tersebut juga telah merampungkan divestasi porsi saham mereka di tambang Jellinbah dengan nilai berkisar US$1 miliar.

Jika dihitung secara keseluruhan, pihak manajemen memperkirakan total dana segar yang didapat bisa mencapai US$4,9 miliar dari hasil penjualan seluruh aset batu bara metalurgi tersebut.

Daftar aset yang dilego kepada Dhilmar Limited mencakup kepemilikan saham pengendali pada deretan proyek tambang batu bara metalurgi di Australia.

Portofolio tersebut meliputi 88% kepemilikan saham pada joint venture Moranbah North dan Grosvenor, 70% saham di Capcoal, serta beberapa porsi kepemilikan lainnya di Dawson, Roper Creek, hingga Moranbah South.

Duncan Wanblad memandang bahwa Dhilmar mempunyai rekam jejak yang panjang dalam mengoperasikan aset tambang berskala raksasa, termasuk komoditas batu bara metalurgi di wilayah Asia Tenggara dan Kanada.

Pihak manajemen menargetkan seluruh proses divestasi ini dapat rampung pada kuartal I/2027, setelah mengantongi persetujuan dari badan regulasi resmi serta memenuhi seluruh ketentuan kompetisi usaha yang berlaku.

Pada saat yang bersamaan, Anglo American juga tengah menghadapi proses arbitrase dengan Peabody Energy terkait kesepakatan akuisisi portofolio batu bara metalurgi yang sempat disepakati pada November 2024 silam.

Anglo American menegaskan optimisme mereka bahwa kendala yang sempat terjadi di tambang Moranbah North yang digunakan sebagai dasar oleh Peabody untuk membatalkan kontrak tidak termasuk dalam kategori material adverse change.

Dhilmar Limited sendiri merupakan entitas tambang swasta yang baru saja dibentuk dan berbasis operasi di Inggris.

Perusahaan ini dikomandoi langsung oleh Alexander Ramlie yang bertindak sebagai CEO sekaligus Managing Director, serta disokong oleh jajaran direksi bereputasi yang memiliki pengalaman puluhan tahun di industri pertambangan, baik untuk metode tambang terbuka maupun bawah tanah bagi berbagai jenis komoditas.

Sebelum terjun ke industri pertambangan, miliarder termuda di Indonesia ini telah meraih gelar sarjana dan magister di bidang ekonomi dari University of Boston. 

Ia memulai karier profesionalnya sebagai seorang bankir investasi di Lazard Frères & Co.

Sebelum ikut menginisiasi berdirinya Amman pada tahun 2015, Alexander menjabat sebagai Presiden Direktur dan Chief Executive Officer di PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk. (BORN), sebuah emiten produsen batu bara metalurgi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Selama memegang kepemimpinan di Borneo, dia memegang andil yang sangat krusial dalam proses akuisisi saham pengendali di Bumi PLC yang terdaftar di Bursa Efek London (LSE) pada tahun 2011.

Selanjutnya pada periode tahun 2012 sampai 2015, dia dipercaya mengemban tugas sebagai Direktur Non-Eksekutif di Bumi dan menduduki posisi di dewan direksi pada berbagai lini anak usaha Bumi, seperti PT Berau Coal Energy Tbk. (BRAU) yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, PT Berau Coal, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), PT Kaltim Prima Coal, hingga PT Arutmin Indonesia.

Pada tahun 2015, ia ikut mendirikan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) dan kemudian ditunjuk menempati posisi Komisaris di AMMAN pada Juni 2025.

Di bawah kendali kepemimpinannya, entitas AMMAN, yakni PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) melewati proses transformasi yang amat signifikan sekaligus membukukan pertumbuhan pada sektor operasional.

Ia juga memegang peran strategis dalam aksi korporasi akuisisi saham pengendali AMMAN di Macmahon Holdings Ltd yang melantai di Bursa Efek Australia (ASX), serta aktif menjabat sebagai Direktur Non-Eksekutif sepanjang tahun 2017 hingga 2023.

Lewat kiprahnya di Amman, Alexander sukses mengukuhkan posisi sebagai salah satu orang terkaya sekaligus miliarder paling muda di Indonesia dengan taksiran total kekayaan mencapai US$2,4 miliar atau setara kisaran Rp39,77 triliun.

Terkini