Antisipasi Rupiah Rp18.036, Pemerintah Intensifkan Koordinasi

Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS. (Foto: merdeka.com)
Penulis: Ibtihal
Minggu, 07 Juni 2026 | 09:25:43 WIB

JAKARTA - Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi memberikan penegasan bahwa penyelarasan kerja antarotoritas finansial pemerintah saat ini bergulir secara mendalam demi menyikapi anjloknya kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat di Kompleks Parlemen, Senayan, Sabtu (6/6/2026).

Kebijakan ini diaplikasikan usai mata uang tanah air tersebut terkoreksi hingga melewati batasan psikologis anyar dan terdampar pada posisi Rp 18.036 per dolar AS merujuk pada catatan Bloomberg pada Jumat (5/6/2026).

Kemerosotan ini memantik sorotan khalayak berkenaan dengan metode penyampaian informasi pemerintah dalam mengawal ketahanan mata uang domestik. 

Pelemahan kurs rupiah ini pun dinilai oleh koran internasional selaku salah satu yang paling ambles di wilayah Asia sepanjang beberapa bulan belakangan.

"Kita rapatnya intens, pertemuan antara pelaku-pelaku otoritas ekonomi itu intens," kata Prasetyo kepada wartawan.

Prasetyo memaparkan pula bahwa buah dari penyelarasan kerja yang mendalam tersebut tidak dapat seketika ditakar dalam waktu dekat lewat perputaran nilai tukar sesaat. Menurut pandangannya, naik-turunnya rupiah mengikutsertakan limpahan variabel finansial yang rumit.

"Ya, kan, ya, bukan berarti kalau kemudian komunikasi intens terus belum menghasilkan seperti yang kita harapkan, kemudian kita tidak ada komunikasi, kan, enggak begitu juga," ujarnya.

Pihak kabinet memetakan bahwa hantaman terhadap mata uang dalam negeri distimulasi oleh perpaduan unsur global sekaligus problem struktural domestik, layaknya ketergantungan pada lini impor.

"Ini, kan, semua bagian dari upaya, upaya dengan naiknya nilai tukar rupiah itu, kan, tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor," katanya.

Ia pun menggarisbawahi sisi kedaulatan finansial domestik yang memegang andil masif dalam mengukuhkan posisi nilai tukar pada bursa valuta asing.

"Faktor variabelnya juga banyak. Maksudnya yang tadi saya sampaikan tadi itu juga bagian dari yang mempengaruhi juga. Kemandirian kita secara ekonomi itu juga mempengaruhi kekuatan mata uang kita," lanjut dia.

Lebih jauh, keterikatan sejumlah bidang usaha pada komoditas dari luar negeri dianggap memperburuk hantaman tatkala timbul guncangan finansial global.

"Ada beberapa yang masih ketergantungan impor, itu juga akan mempengaruhi. Makanya ini tidak bisa berdiri sendiri begitu. Nah, sehingga yang dibutuhkan sekarang tentu kerja sama," imbuh Prasetyo.

Menyadur dari money.kompas.com, unsur eksternal layaknya tingginya tingkat bunga di Amerika Serikat serta eskalasi geopolitik di Timur Tengah memicu para pemodal dunia memindahkan dana menuju instrumen dolar AS. 

Di sudut lain, bursa pun menyoroti unsur domestik seperti ketahanan fiskal serta keselarasan regulasi demi menangkal munculnya krisis kepercayaan atau crisis of confidence.

Bank Indonesia saat ini berhadapan dengan kendala besar demi melangsungkan intervensi bursa valuta asing tanpa menumbalkan kemajuan bidang riil. 

Sementara itu, kalangan korporasi diwanti-wanti menempuh tindakan penyesuaian layaknya proteksi nilai (hedging) serta memaksimalkan pemakaian materiil lokal guna menyikapi beban impor yang kian melambung tinggi.

Reporter: Ibtihal