Pasar Modal Tertekan, Simak Proyeksi IHSG dan Rekomendasi Saham

Ilustrasi Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) tampak pada layar ponsel. (Foto: kontan.co.id)
Penulis: Ibtihal
Minggu, 07 Juni 2026 | 10:17:37 WIB

JAKARTA – Pasar saham dalam negeri mendapati gempuran yang cukup berat sepanjang sepekan belakangan. 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melosor ke level paling dasar dalam kurun waktu lima tahun terakhir, bersamaan dengan nilai tukar mata uang rupiah yang menembus angka Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) untuk kali pertama sepanjang sejarah.

Sebagai rujukan, IHSG ditutup melorot sebesar 245,02 poin atau setara 4,2 persen ke level 5.594 pada akhir sesi perdagangan hari Jumat (5/6/2026). Dalam perhitungan satu minggu, IHSG terdata mendapati penyusutan tajam hingga 8,73 persen. 

Penurunan nilai ini juga diikuti oleh aksi jual bersih (net sell) oleh para pemodal internasional dengan akumulasi mencapai Rp 13,78 triliun pada jangka waktu tersebut.

Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengutarakan bahwa pelemahan IHSG terhitung cukup dalam dan masih dibayangi oleh desakan jual yang terbilang masif.

 Dari sisi sentimen, Herditya menyoroti arus keluar modal asing secara tahun berjalan (year-to-date) yang kini sudah menyentuh Rp 57,63 triliun. Di sudut lain, posisi kurs rupiah terhadap dolar AS tercatat mendapati pelemahan sebesar 1,3 persen dalam rentang pekan ini.

"Pelemahan pasar diperkirakan dipicu oleh menurunnya kepercayaan investor global terhadap kebijakan yang terjadi di Indonesia," kata Herditya, Jumat (5/6/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pada kesempatan terpisah, Head of Research and Education Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan, memberikan pelengkap bahwa atmosfer ketidakpastian regulasi dari pemerintah serta desas-desus pasar yang ditanggapi secara minor kembali memperberat aksi jual di bursa saham domestik. 

Salah satu pemicunya ialah rencana revisi Undang-Undang tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) yang melahirkan kecemasan publik seputar potensi terganggunya independensi otoritas keuangan.

Di saat yang bersamaan, Kementerian Keuangan mempublikasikan realisasi APBN 2026 hingga Mei 2026 mendapati defisit sebesar Rp180,4 triliun atau 0,7 persen dari Produk Domestik Bruto. 

Angka ini meningkat bila dikomparasikan dengan defisit senilai Rp20,9 triliun (0,09 persen dari PDB) pada masa yang sama di tahun 2025. Kendati demikian, besaran defisit tersebut terpantau masih berada di bawah pagu target sepanjang tahun 2026 yang dipatok di level Rp689,1 triliun atau 2,68 persen dari PDB.

Selanjutnya, mata uang rupiah ditutup terkoreksi 0,46 persen menuju level Rp18,049 per dolar AS. Gejolak pada nilai rupiah ini melahirkan spekulasi di tengah pasar bahwa Bank Indonesia berpotensi menyelenggarakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) darurat di luar jadwal reguler yang sejatinya baru diagendakan pada 17–18 Juni 2026.

Menuju sesi perdagangan hari Senin (8/6/2026), Herditya memperkirakan IHSG masih memiliki kecenderungan untuk melanjutkan tren pelemahannya dengan rentang support di level 5.517 dan resistance pada posisi 5.734.

Menurut kalkulasinya, hawa sentimen yang bergulir pada pekan ini diproyeksikan masih akan berlanjut hingga minggu depan. Terkait rekomendasi pergerakan saham, Herditya memberikan saran untuk melirik ANTM dengan target nilai Rp 3.020-Rp 3.200, BRMS pada kisaran Rp 610-Rp 660, serta MBMA dengan target nilai di angka Rp 472-Rp 520.

Sementara itu, Valdy mengutarakan bahwa para pelaku pasar akan mencermati rilis sederet data krusial pada pekan depan, di antaranya laporan cadangan devisa periode Mei 2026 pada hari Senin (8/6), indeks keyakinan konsumen (consumer confidence) periode Mei 2026 pada hari Rabu (10/6/2026), serta data penjualan ritel (retail sales) periode April 2026 pada hari Kamis (11/6/2026).

"Di tengah minimnya katalis positif dan di bawah tekanan sentimen negatif, diperkirakan IHSG berpotensi menguji level 5.500 pada pekan depan," jelas Valdy, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Reporter: Ibtihal