Analis Morgan Stanley: Meta Punya Potensi Besar di Sektor AI

Ilustrasi Meta Platforms. (Foto: kontan.co.id)
Penulis: Ibtihal
Minggu, 07 Juni 2026 | 11:31:45 WIB

JAKARTA – Sikap skeptis pelaku pasar di Wall Street atas tingginya angka pengeluaran kecerdasan buatan (AI) yang digelontorkan oleh Meta Platforms Inc (NASDAQ:META) dinilai berpotensi melewatkan keunggulan kompetitif perusahaan yang kian kokoh, seperti yang dipaparkan oleh analis dari Morgan Stanley, Brian Nowak.

Melalui laporan analisis terbarunya, Nowak menegaskan kembali posisi Meta sebagai "top pick" atau saham pilihan utama serta menetapkan target harga pada level $775, yang merepresentasikan potensi pertumbuhan berkisar 30 persen dari posisi harga saat ini.

Atmosfer sentimen para pemodal terhadap Meta terpantau masih tertinggal jika dikomparasikan dengan emiten teknologi bermodal raksasa (megacap) lainnya, imbas dari minimnya keterbukaan terkait tingkat pengembalian investasi dari skema belanja modal Meta yang ditaksir menyentuh angka $380 miliar untuk jangka waktu 2027 hingga 2028.

Namun demikian, Nowak memberikan argumentasi bahwa empat lini produk baru yang tengah dikembangkan masing-masing berpeluang memberikan kontribusi senilai $1 hingga $3 terhadap laba per saham korporasi pada tahun 2028, sekaligus memicu akselerasi kelipatan valuasi secara masif.

Faktor pendorong pertama berfokus pada potensi lini pencarian bernilai miliaran dolar yang disematkan di dalam ekosistem Meta AI. Nowak memproyeksikan jika fitur tersebut sanggup menggaet 1 miliar pengguna serta menjalankan langkah monetisasi pada kisaran 10 persen saja dari total pencarian harian, maka omzet tahunan yang diraup bisa melampaui angka $10 miliar.

Pada saat yang bersamaan, Meta tengah memaksimalkan pos pendapatan bermargin tebal lewat peluncuran opsi paket langganan berbayar berjenjang yang menyasar 3,5 miliar basis pengguna aktif hariannya.

Berdasarkan analisis Nowak, tingkat penyerapan yang terbilang moderat saja di kalangan 50 juta pembuat konten serta jutaan entitas pengiklan dapat menghasilkan tambahan omzet senilai $7 giga dolar AS sekaligus mendongkrak $2 pada porsi laba per saham.

Di samping lini produk konsumen tersebut, mesin bisnis periklanan utama milik Meta terus mendapati dampak positif dari pembaruan teknologi pembelajaran mesin yang digerakkan oleh unit pemrosesan grafis (GPU).

Pihak analis menegaskan bahwa tiap pertumbuhan sebesar 1 persen pada omzet iklan yang diproyeksikan untuk tahun 2028 bakal menyuntikkan dana senilai $3,5 miliar ke dalam internal bisnis serta mengerek laba per saham hingga 2,5 persen.

Terakhir, Nowak memberikan perhatian khusus pada skema "jaring pengaman Neocloud" yang menyajikan ruang fleksibilitas bernilai tinggi bagi Meta untuk menyewakan sisa kapasitas komputasi yang sedang menganggur kepada para klien korporat eksternal.

Apabila Meta bersedia menyewakan hanya satu gigawatt dari total kapasitas raksasanya dengan mengacu pada tarif pasar yang berlaku, langkah taktis ini dinilai sanggup mempertebal raihan arus kas bebas serta menyumbang lonjakan minimum 8 persen pada perolehan laba di tahun 2028.

Kendati proyeksi jangka panjang dari Morgan Stanley berada pada posisi positif, kecemasan terkait alokasi modal dalam jangka pendek terus memberikan tekanan bagi nilai ekuitas perusahaan teknologi ini. 

Saham Meta tercatat mengalami koreksi turun sebesar 15 persen sepanjang tahun lalu, berada jauh di bawah performa indeks S&P 500 yang sukses membukukan kenaikan hingga 23 persen pada kurun waktu yang sama.

Tekanan mendasar tersebut mencapai puncaknya pada hari Jumat saat saham korporasi melosor sebesar 5,5 persen di sepanjang jam perdagangan reguler. 

Aksi pelepasan saham ini dipicu oleh rilis laporan dari Financial Times yang mengabarkan bahwa induk dari Facebook tersebut tengah mengkaji opsi penerbitan saham baru berskala besar demi menyokong pendanaan pembangunan infrastruktur AI mereka.

Mengacu pada laporan itu, Meta secara intensif tengah menjajaki peluang untuk melepas puluhan miliar dolar saham baru demi mendanai ambisi proyek AI yang sangat masif tersebut.

Pada level valuasi saat ini, raksasa sektor teknologi tersebut sedang ditransaksikan dengan potongan harga mencapai 30 persen dibanding Google kepunyaan Alphabet Inc berdasarkan estimasi laba konsensus, sebuah posisi yang berada hampir dua standar deviasi di bawah catatan rata-rata historisnya.

Reporter: Ibtihal