Proyeksi IHSG 8 Juni 2026: Rawan Koreksi, Intip ANTM hingga TLKM

lustrasi IHSG Rawan Koreksi. (Foto: net)
Penulis: Ibtihal
Senin, 08 Juni 2026 | 11:14:46 WIB

JAKARTA – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih akan mengalami tekanan pada sesi perdagangan hari Senin (8/6/2026). 

Situasi kelabu ini merupakan kelanjutan dari tren negatif yang terus menyelimuti pasar saham sepanjang pekan kemarin.

Analis teknikal dari MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengamati adanya potensi penurunan IHSG yang masih akan berlanjut. 

Menurut proyeksinya, titik support indeks bakal berada di posisi 5.517, sementara untuk area resistensi akan bertengger di kisaran 5.734.

“Untuk Senin, kami perkirakan IHSG masih rawan melanjutkan koreksinya dengan support 5517 dan resist 5734. Kami perkirakan, sentimen yg terjadi pada pekan ini masih akan berlanjut di pekan depan,” ujar Herditya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Herditya turut memberikan rekomendasi beberapa emiten yang dapat dicermati oleh para investor ritel pada awal pekan ini. Saham milik PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) diperkirakan bakal bergerak pada rentang harga Rp 3.020 hingga Rp 3.200 per lembar saham.

Selanjutnya, saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) diproyeksikan fluktuatif di kisaran Rp 610 hingga Rp 660 per saham. Di samping itu, pergerakan saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) diperkirakan berada di area Rp 472 sampai Rp 520 per saham.

Pada sudut pandang berbeda, analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, berpendapat bahwa pergerakan IHSG masih memperlihatkan kecenderungan yang volatil untuk minggu ini. 

Menurutnya, indeks berisiko melemah lebih dalam, terlebih bila aksi lepas portofolio oleh pemodal asing (foreign outflow) serta depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih terus berlangsung.

Elandry menunjuk level 5.500 sebagai batas support psikologis yang krusial. Seandainya batas tersebut jebol, IHSG berisiko merosot lebih jauh menuju kisaran 5.300 sampai 5.400. 

Walakin, peluang untuk terjadinya pembalikan arah secara teknikal (technical rebound) mulai terbuka setelah indeks terkoreksi cukup dalam.

Kesempatan rebound tersebut dapat terealisasi apabila didorong oleh hadirnya stimulus positif, seperti pergerakan kurs rupiah yang mulai stabil serta berkurangnya tekanan capital outflow. 

Elandry memaparkan bahwa kebijakan menaikkan suku bunga pada umumnya memicu sentimen negatif bagi bursa saham karena berpotensi mendongkrak biaya pendanaan (cost of fund), menekan nilai valuasi saham, serta menjadikan produk pendapatan tetap (fixed income) terlihat lebih memikat.

Akan tetapi, dampaknya bisa membuahkan hasil yang berbeda andai kenaikan suku bunga itu sanggup memperkokoh stabilitas rupiah, meredam laju inflasi, serta membangun kembali rasa percaya investor mancanegara. 

Situasi tersebut, dinilai Elandry, dapat membantu mereparasi sentimen pasar untuk jangka menengah.

Elandry pun membagikan sejumlah lini saham yang terhitung menarik di tengah iklim suku bunga tinggi:

  • PT Bank Central Asia Tbk (BBCA): Memiliki peluang penguatan sekitar 10 persen untuk jangka pendek, ditopang oleh kualitas aset yang sehat serta struktur dana murah (CASA) yang kokoh.
  • PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI): Cukup prospektif dengan potensi kenaikan berkisar 10 persen, disokong oleh pertumbuhan penyaluran kredit yang kuat serta profitabilitas yang terjaga.
  • PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI): Diproyeksikan mempunyai potensi penguatan hingga 15 persen karena berpeluang untuk bangkit ditopang oleh fundamental perusahaan yang solid.
  • PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM): Diperkirakan berpotensi naik sekitar 8 persen dan dapat dijadikan opsi saham defensif berkat kondisi arus kas yang stabil di kala pasar berfluktuasi.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Reporter: Ibtihal