Dolar AS Perkasa, Pasar Antisipasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
JAKARTA – Kurs dolar Amerika Serikat (AS) kokoh berada di level tertingginya dalam dua bulan terakhir pada sesi perdagangan Senin (8/6/2026).
Laju penguatan mata uang utama dunia ini didorong oleh rilis data ketenagakerjaan AS yang di luar dugaan tampil impresif, sehingga mendorong para pelaku pasar memperbesar estimasi terkait kebijakan pengetatan moneter oleh The Federal Reserve (The Fed) pada tahun ini.
Berdasarkan laporan yang dirilis, sektor non-pertanian (nonfarm payrolls) AS mencatatkan penambahan sebanyak 172.000 lapangan kerja sepanjang bulan kemarin.
Jumlah tersebut melesat jauh di atas perkiraan pasar seperti yang dilaporkan Reuters, Senin. Kepala Ekonom Pasar di Capital Economics, Jonas Goltermann, berpendapat bahwa pencapaian ini mencerminkan kondisi pasar ketenagakerjaan AS yang tetap kokoh di tengah terpaan gejolak harga energi dunia.
"Kondisi ini membuat kebijakan pengetatan oleh The Fed semakin mungkin terjadi tahun ini. Kami memprediksi FOMC akan melakukan dua kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin," sebagaimana dilansir dari berita sumber ujar Goltermann, Senin.
Berdasarkan indikator CME FedWatch, pelaku pasar kini memperkirakan peluang bagi The Fed untuk mengerek suku bunga pada bulan Desember nanti telah menembus angka di atas 70 persen, melompat signifikan dibandingkan dengan probabilitas pekan lalu yang masih berada di kisaran 45 persen.
Keperkasaan dolar AS ini di sisi lain memberikan tekanan yang berat bagi mata uang yen Jepang, yang kini bertengger di kisaran 160,29 per dolar.
Mata uang Negeri Sakura tersebut terpantau telah kehilangan seluruh momentum penguatan yang sempat diraih lewat aksi intervensi pasar oleh pemerintah senilai 11,7 triliun yen (US$ 73,01 bilyar) pada satu bulan yang lalu.
Ekonom dari Julius Baer, David Meier, menjelaskan bahwa posisi yen masih rentan tertekan akibat adanya kesenjangan suku bunga yang masif dan persisten, ditambah dengan penilaian bahwa Bank of Japan (BOJ) cenderung lambat dalam menormalisasi arah kebijakannya.
Kendati demikian, informasi dari Reuters mengindikasikan bahwa BOJ berpeluang untuk menaikkan suku bunga mereka pada bulan ini, dengan catatan tidak ada eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu volatilitas pasar secara ekstrem.
Performa dolar yang terus melaju mengakibatkan sejumlah mata uang utama global lainnya terpeleset ke zona merah.
Euro terpangkas ke level terendah dalam dua bulan terakhir pada posisi US$ 1,1507, sementara pound sterling jatuh ke titik terendahnya dalam tiga minggu di level US$ 1,33165.
Tak ketinggalan, dolar Australia beserta dolar Selandia Baru ikut melemah ke tingkat terendah mereka dalam kurun waktu dua bulan.
Bergeser ke pasar kripto, Bitcoin (BTC) berhasil menguat di atas 1 persen menuju posisi US$ 62.838,60 setelah sempat terperosok ke dasar terendah sejak Oktober 2024 pada pekan kemarin.
Di waktu yang sama, Ether ikut terkerek lebih dari 3 persen ke level US$ 1.680,87.
Euforia terhadap saham di sektor kecerdasan buatan (AI) serta rencana penawaran umum saham perdana (listing) korporasi besar seperti SpaceX dinilai telah mengalihkan modal para investor keluar dari instrumen kripto sejak awal tahun ini.
Situasi ekonomi global saat ini dinilai tengah melewati masa transisi yang sarat akan tantangan sebagai imbas dari meningkatnya tensi geopolitik yang melibatkan Iran serta efeknya bagi stabilitas kawasan Timur Tengah.
Ancaman krisis pasokan energi yang bersumber dari konflik tersebut bertindak sebagai motor utama yang memicu kekhawatiran publik akan potensi kembali naiknya angka inflasi dunia.
Kondisi ketidakpastian ini semakin diperumit dengan adanya pergeseran fokus investasi dari aset-aset kripto menuju ke sektor saham berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) yang sedang dalam tren ekspansi, sehingga menambah dinamika kompleks dalam fluktuasi nilai tukar mata uang global.