Bitcoin Melonjak, Michael Saylor Isyaratkan Borong Kripto Lagi

Michael Saylor, salah satu pendiri dan ketua eksekutif Strategy Inc. (Foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Senin, 08 Juni 2026 | 11:14:46 WIB

JAKARTA – Nilai tukar Bitcoin (BTC) mencatatkan kenaikan yang cukup tajam pada perdagangan Senin (8/6/2026) pagi, berjalan selaras dengan kondisi pasar aset kripto global yang berangsur pulih.

Apresiasi nilai ini berbarengan dengan adanya indikasi dari Executive Chairman Strategy, Michael Saylor, terkait rencana korporasi untuk memperbesar portofolio Bitcoin mereka. 

Langkah ini muncul menjelang pemungutan suara oleh pemegang saham mengenai penyesuaian aturan dividen saham preferen.

Merujuk data dari CoinMarketCap pada pukul 06.50 WIB, nilai kapitalisasi pasar kripto global sejatinya sempat terkoreksi sebesar 3,86% ke posisi US$ 2,18 triliun. 

Namun di waktu yang sama, harga Bitcoin (BTC) justru melesat 3,75% menuju posisi US$ 63.158 per koin atau berkisar Rp 1,13 miliar (menggunakan acuan kurs Rp 18.036 per dolar AS).

Pergerakan instrumen kripto lainnya pun terpantau berada di zona hijau, tercermin dari Indeks CoinDesk 20 yang naik sebesar 4,25%. 

Ethereum tercatat melonjak 7,57% menuju level US$ 1.687, Binance (BNB) terangkat 5,06% ke posisi US$ 603, XRP merangkak naik 5,62% ke angka US$ 1,15, Solana (SOL) tumbuh 6,87% menjadi US$ 66,45, serta Dogecoin (DOGE) terkerek 5,33% menuju level US$ 0,09.

Melansir dari CoinTelegraph, Michael Saylor kembali melempar kode seputar potensi akumulasi Bitcoin lewat pernyataan di media sosialnya. Hal tersebut mencuat di tengah besarnya atensi para pelaku pasar terhadap rencana amandemen regulasi dividen saham preferen perusahaan.

Lewat status yang diunggah di platform X pada Minggu (8/6/2026), Saylor membagikan bagan akumulasi Bitcoin milik perusahaan dengan menyertakan pesan ‘A good time to add more dots’. 

Kalimat tersebut merupakan pesan yang biasa ia sampaikan tiap kali korporasi berniat menambah aset kripto mereka.

CEO Strategy, Phong Le, memperkuat sinyal tersebut dengan menegaskan komitmen perusahaan untuk terus meningkatkan kepemilikan Bitcoin, baik secara absolut maupun per saham. 

“Strategi korporasi kami adalah meningkatkan net Bitcoin dan Bitcoin per share dari waktu ke waktu. Rumor selain itu hanyalah rumor,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sebagai entitas korporasi pemilik Bitcoin terbesar di dunia, Strategy hingga saat ini menguasai total 843.706 Bitcoin dengan rata-rata harga perolehan berada di angka US$ 75.701 per koin. 

Di sisi lain, sepanjang pekan kemarin, pergerakan harga Bitcoin sempat mengalami penurunan sebesar 16,6% ke tingkat US$ 62.153.

Kode pembelian dari Saylor ini mencuat bertepatan dengan rencana voting pemegang saham perihal usulan perubahan jadwal distribusi dividen saham preferen STRC, yang awalnya dibayarkan sebulan sekali menjadi dua kali dalam satu bulan. 

Kebijakan ini diproyeksikan manajemen dapat mengoptimalkan efisiensi likuiditas, mempercepat siklus investasi kembali, sekaligus menekan tingkat volatilitas.

“Pembayaran dividen dua kali sebulan akan mengurangi jeda reinvestasi dan meningkatkan efisiensi pasar. 

Ini juga dapat menurunkan volatilitas secara signifikan dan meningkatkan Sharpe ratio,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Manajemen korporasi memaparkan apabila usulan tersebut disetujui, maka skema baru ini akan mulai diimplementasikan pada rentang bulan Juni–Juli 2026. 

Kendati demikian, aturan baru ini memerlukan lampu hijau dari paling sedikit 50% dari total 85 juta saham yang beredar. Hasil akhir dari pemungutan suara ini dijadwalkan bakal ditetapkan dalam pertemuan pemegang saham Strategy pada awal minggu ini.

Sebelumnya, Strategy sempat melakukan langkah pembelian kembali (buyback) surat utang perusahaan. 

Aksi ini sempat memicu spekulasi di kalangan pelaku pasar mengenai potensi perlambatan laju akumulasi Bitcoin, atau adanya risiko penjualan aset guna mendanai agenda korporasi tersebut.

Di sudut lain, tingkat keterlibatan investor ritel dalam agenda pemungutan suara pemegang saham ini dipandang masih sangat rendah. 

Mengacu pada data Harvard Law School Forum on Corporate Governance, tingkat keikutsertaan voting dari sektor investor ritel hanya menyentuh angka 29%, tertinggal jauh dari kelompok investor institusi yang mencatatkan tingkat partisipasi hingga 77%.

Reporter: Ibtihal