IHSG Selasa, 9 Juni 2026 Berisiko Melemah, Simak Rekomendasi Sahamnya

Ilustrasi IHSG Melemah. (Foto: kontan.co.id)
Penulis: Ibtihal
Selasa, 09 Juni 2026 | 08:57:26 WIB

JAKARTA - Banyak analis memprediksi arah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari ini Selasa 9 Juni 2026 berpotensi melanjutkan penurunan dan menyodorkan jajaran saham pilihan pada sesi perdagangan. 

Mengacu pada data resmi IDX Mobile, Senin (8/6/2026), IHSG terperosok jatuh sebesar 254,36 poin atau anjlok 4,11% menuju posisi 5.941,07 saat pasar ditutup. 

Sepanjang hari kemarin, indeks saham bergerak fluktuatif dari batas bawah di 5.842 hingga batas atas di 6.213,18. Ditinjau dari aspek likuiditas, total nilai transaksi sepanjang hari ini menyentuh Rp25,19 triliun, didukung volume perdagangan yang mencapai 36,2 miliar lembar saham. 

Adapun intensitas perdagangan tercatat dilakukan sebanyak 2,72 juta kali. Dalam perdagangan tersebut, hanya 75 saham yang mampu bertahan di zona hijau, sementara 726 saham terdepresiasi ke zona merah, dan 158 saham lainnya bergerak mendatar. 

Beberapa emiten yang menjadi motor pelemahan indeks LQ45 meliputi saham PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) yang merosot 14,91% ke harga Rp3.310, diikuti saham PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) yang terpangkas 12,12% ke level Rp2.320. 

Selanjutnya, saham PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) susut 11,98% ke posisi Rp294. Saham PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) pun melemah 11,82% menjadi Rp2.610, serta saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) jatuh 10% ke harga Rp1.305.

Analis dari MNC Sekuritas memproyeksikan posisi IHSG saat ini tengah berada di bagian dari wave (v) dari wave [v] dari wave 5. "Cermati 5.184-5.282 sebagai area koreksi berikutnya," seperti dikutip dalam riset MNC Sekuritas, Selasa (9/6/2026). 

Para analis memprediksi batas support IHSG bertengger di rentang 5.261 dan 5.191, sedangkan area resistance berada di level 5.462 dan 5.594. MNC Sekuritas menyarankan para pelaku pasar untuk mengambil opsi buy on weakness pada saham PT Astra International Tbk. (ASII), PT Buana Listya Tama Tbk. (BULL), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA), dan PT PAM Mineral Tbk. (NICL).

Sebelumnya, Equity Analyst Indo Premier Sekuritas Hari Rachmansyah berpandangan bahwa secara teknikal, tren penurunan di pasar modal masih sangat kuat sampai detik ini, dengan pola tren melemah yang belum memperlihatkan tanda-tanda pembalikan arah (reversal) yang kuat.

 Menurutnya, pada situasi market seperti ini, taktik terbaik yang perlu diaplikasikan oleh para pemodal adalah mengutamakan penyelamatan modal dengan memangkas kepemilikan pada saham-saham lapis kedua dan ketiga yang tingkat likuiditasnya minim. 

Ditambah lagi, Hari mengingatkan agar para pemodal tidak melakukan pembelian saham di bawah (averaging down) secara agresif sebelum didapati kepastian stabilnya mata uang rupiah serta sinyal titik terendah yang sahih dari harga saham.

”Bagi investor jangka menengah, manfaatkan momentum ini untuk selektif mencermati saham-saham big caps di sektor perbankan dan consumer staples yang valuasinya sudah sangat atraktif secara historis, tetapi tetap masuk secara bertahap dengan alokasi porsi kecil sembari menunggu kepastian arah kebijakan moneter BI,” katanya dalam keterangan resminya, Senin (8/6/2026).

Reporter: Ibtihal