IHSG Berisiko Jeblok ke 5.100, Cek 4 Saham Pilihan dari Analis
JAKARTA – Phintraco Sekuritas memprediksikan bahwa pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rentan terjungkal ke level 5.100 pada putaran transaksi perdagangan Selasa (9/6/2026).
Indeks diproyeksikan bakal bergulir pada koridor resistance 5.500, pivot 5.400, serta support 5.100. Walakin, Phintraco Sekuritas menilai peluang untuk meraup profit masih terbuka pada empat saham tertentu, salah satunya adalah ADMR.
Pihak Phintraco Sekuritas memaparkan bahwa IHSG pada penutupan sesi transaksi kemarin terkoreksi melemah menuju area 5.342,14 (4,52%), di mana seluruh sektor saham kompak terjerembab ke zona merah dengan sektor industri membukukan kejatuhan paling parah mencapai 6,39%. Di sudut lain, nilai tukar rupiah berakhir lunglai 0,84% ke posisi Rp 18.188 per dolar AS.
Berdasarkan kajian teknikal, Phintraco Sekuritas menerangkan bahwa posisi IHSG yang saat ini mendekam di bawah garis MA200 monthly membuka celah terjadinya penurunan lanjutan.
“Selanjutnya, diperkirakan IHSG hari ini berpotensi menguji level support di 5.100,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Mengenai posisi cadangan devisa RI, Phintraco Sekuritas mencatatkan adanya penciutan menjadi US$ 144,9 miliar pada periode Mei 2026, jika disandingkan dengan raihan US$ 146,2 miliar pada April 2026, yang memosisikannya sebagai rekor paling rendah sejak Juni 2024.
Penyusutan ini distimulasi oleh agenda pemenuhan kewajiban utang luar negeri pemerintah serta kebijakan intervensi Bank Indonesia dalam rangka mengawal stabilitas nilai tukar rupiah.
Posisi cadangan devisa tersebut dinilai masih aman untuk memenuhi keperluan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor sekaligus pelunasan utang luar negeri pemerintah, yang mana berada di atas standar ketentuan internasional yakni sebesar 3 bulan impor.
Phintraco Sekuritas memberikan peringatan bahwa kemerosotan cadangan devisa secara terus-menerus memicu risiko tergerusnya tingkat kepercayaan dari kalangan investor maupun lembaga pemeringkat kredit.
“Untuk itu, pemerintah perlu meningkatkan kepercayaan investor pasar keuangan, mendorong ekspor, mengurangi impor, serta menarik investasi asing,” tambah Phintraco Sekuritas, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Beralih ke sektor kekuatan finansial masyarakat, Phintraco Sekuritas memberikan sorotan atas melorotnya angka penjualan sepeda motor sebesar 5,1% secara tahunan (YoY) menjadi sebanyak 479.388 unit pada Mei 2026, setelah pada April 2026 sempat mencatatkan pertumbuhan 28,1% YoY.
Gejala ini memperlihatkan adanya tekanan beban biaya terhadap alokasi belanja konsumen yang menjadi indikasi melemahnya daya beli publik.
Dalam kurun waktu Januari-Mei 2026, grafik penjualan sepeda motor terpantau menanjak 0,7% secara tahun berjalan (YTD) menjadi 2,61 juta unit.
Pihak AISI mematok target volume penjualan untuk sepanjang tahun ini berada pada kisaran 6,4 juta sampai 6,7 juta unit, cenderung bergerak konstan dari torehan tahun lalu yang sebesar 6,4 juta unit.
“Sehingga sampai Mei 2026, penjualan sepeda motor mencapai sekitar 38,96% hingga 40,78% dari target akhir 2026. Penjualan sepeda motor juga mendapatkan tantangan dari potensi kenaikan suku bunga pembiayaan,” papar Phintraco Sekuritas, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Adapun kuartet saham yang masuk dalam daftar rekomendasi dari Phintraco Sekuritas untuk dicermati adalah ADMR, SILO, BRMS, dan MBMA.