Kurs Rupiah 10 Juni 2026: Berpotensi Melemah ke Rp 18.100 per Dolar AS

Ilustrasi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. (Foto: katadata.co.id)
Penulis: Ibtihal
Rabu, 10 Juni 2026 | 09:27:36 WIB

JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hari ini Rabu 10 Juni 2026 diproyeksikan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp18.050 sampai Rp18.100 per dolar AS. 

Berdasarkan data RTI Infokom, rupiah ditutup menguat sebesar 170 poin atau 0,94% ke level Rp18.000 per dolar AS pada akhir perdagangan, Selasa (9/6/2026). 

Rupiah ditutup menguat beriringan dengan mata uang di Asia seperti yuan China menguat 0,19%, dolar Hong Kong naik 0,01%, yen Jepang turun 0,01%, dan won Korea naik 0,38%. 

Kemudian dolar Singapura naik 0,16%, baht Thailand turun 0,12%, dan dolar Taiwan turun 0,03%.

Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi memaparkan sentimen pasar membaik setelah Iran dan Israel mengatakan mereka telah menghentikan serangan satu sama lain. 

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump meminta agar mereka segera menghentikan penembakan, meskipun Teheran mengatakan akan melanjutkan serangan jika Israel terus menyerang Hizbullah di Lebanon. 

Pasar juga cemas bahwa inflasi yang dipicu oleh energi dapat tetap tinggi, memicu investor untuk memangkas ekspektasi terhadap penurunan suku bunga Federal Reserve dan, dalam beberapa situasi, memperhitungkan kemungkinan pengetatan kebijakan lebih lanjut. Hal ini telah memicu imbal hasil obligasi pemerintah dan dolar AS lebih tinggi.

Dari internal negeri, Bank Indonesia (BI) mengerek suku bunga acuan, BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50%, kemarin. 

Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5% kurang lebih 1% yang ditetapkan Pemerintah. 

Sehubungan dengan itu, BI memandang perlu untuk menempuh langkah-langkah lanjutan guna memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dengan meningkatkan kembali imbal hasil dan sejumlah insentif lain untuk mendorong masuknya aliran investasi asing.

Reporter: Ibtihal