Target 2026, Bio Farma Cs Bidik EBITDA Rp1,55 Triliun dan Raih Laba
JAKARTA — Holding BUMN farmasi yang dikomandoi oleh PT Bio Farma (Persero) merasa yakin dapat melanjutkan tren positif pada tahun 2026.
Hal ini menyusul kesuksesan mereka dalam membalikkan performa operasional pada tahun 2025 dengan mengantongi EBITDA positif senilai Rp827 miliar, setelah sebelumnya pada tahun 2024 sempat terpuruk di zona negatif.
Direktur Utama Bio Farma, Shadiq Akasya, menyebutkan bahwa tahun 2024 merupakan masa-masa yang penuh dengan tantangan bagi kelompok usaha farmasi milik negara tersebut.
Pada periode itu, pendapatan konsolidasi yang dihimpun ialah sebesar Rp15,1 triliun, yang bersumber dari Bio Farma sebesar Rp5,2 triliun, PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) senilai Rp9,9 triliun, dan PT Indofarma Tbk. (INAF) sebanyak Rp210 miliar.
Meskipun Bio Farma masih sanggup mencetak EBITDA positif sebesar Rp539 billion, secara akumulatif EBITDA grup justru terekam negatif lantaran kinerja Kimia Farma dan Indofarma yang masih mengalami tekanan.
Bila ditinjau dari sisi laba bersih, holding farmasi ini menelan kerugian konsolidasi menembus Rp1,08 triliun pada tahun 2024.
Kerugian tersebut diakibatkan oleh merosotnya kinerja Kimia Farma dengan rugi Rp1,2 triliun dan Indofarma sebesar Rp334 miliar, walau Bio Farma sendiri sebenarnya masih membukukan laba sebesar Rp418 miliar.
Kendati begitu, berbagai langkah pembenahan yang diaplikasikan di sepanjang tahun 2025 sudah mulai memperlihatkan hasil.
Walau pendapatan konsolidasi mengalami penurunan tipis menjadi Rp14,67 triliun akibat keterbatasan modal kerja, tingkat profitabilitas operasional grup justru memperlihatkan peningkatan yang sangat signifikan.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Namun, di tahun 2025 kami sudah mencatatkan EBITDA yang positif, nampak di sini dari Rp14,6 triliun, 827 adalah EBITDA-nya, yang bersyukur bahwa ini kami bisa mencatatkan kinerja EBITDA yang positif," tutur Shadiq ketika menghadiri rapat kerja bersama Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada hari Selasa (9/6/2026).
Ia mengimbuhkan bahwa Bio Farma bertindak sebagai kontributor paling besar dengan capaian EBITDA Rp580 miliar. Di sisi lain, Kimia Farma berhasil mewujudkan turnaround dari posisi EBITDA negatif Rp348 miliar pada tahun 2024 menjadi positif Rp245 miliar pada tahun 2025.
Untuk Indofarma, walaupun masih menorehkan EBITDA negatif sebesar Rp112 miliar, angka ini terpantau membaik jika dikompariasikan dengan posisi negatif Rp225 miliar pada tahun sebelumnya.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Secara umum dengan EBITDA yang positif ini sangat memungkinkan perusahaan untuk mendapatkan keuntungan," kata Shadiq.
Rebound ini pun tampak pada pos laba bersih konsolidasi. Kerugian yang diderita holding farmasi mengecil secara tajam menjadi Rp45 miliar pada tahun 2025 dari yang sebelumnya Rp1,08 triliun di tahun lalu.
Bio Farma mencatatkan laba bersih senilai Rp345 miliar, sementara kerugian Kimia Farma menyusut menjadi Rp443 miIiar dari yang sebelumnya Rp1,2 triliun.
Indofarma dinilai masih mengantongi kerugian, akan tetapi memperlihatkan tren yang membaik dibanding dengan tahun-tahun terdahulu.
Shadiq menilai, pemulihan performa ini disokong oleh keberhasilan proses restrukturisasi keuangan yang telah dijalankan lebih dari satu tahun pada beberapa anak perusahaan, termasuk Kimia Farma beserta entitas afiliasinya.
Di samping restrukturisasi, manajemen juga mengimplementasikan efisiensi operasional melalui pengendalian harga pokok penjualan serta penghematan beban penjualan dan administrasi di seluruh sektor bisnis.
Holding BUMN Farmasi Membidik EBITDA Rp1,55 Triliun pada 2026
Memasuki tahun 2026, holding BUMN farmasi mematok target pendapatan menyentuh Rp15,9 triliun seperti yang termaktub dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).
Target tersebut ditopang oleh Bio Farma sebesar Rp5,5 triliun, Kimia Farma Rp10,4 triliun, dan Indofarma Rp351 miliar.
Pihak perusahaan juga menargetkan perolehan EBITDA sebesar Rp1,55 triliun, yang mencakup andil Bio Farma Rp620 miliar, Kimia Farma Rp868 miliar, serta Indofarma Rp48 miliar.
Melalui penetapan target ini, holding farmasi berharap dapat kembali meraup laba bersih konsolidasi di kisaran Rp2 miliar pada akhir tahun 2026.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "[Laba bersih] Bio Farma [sendiri sesuai RKAP] harus mencapai Rp246 miliar, kemudian Kimia Farma ini walaupun masih negatif [rugi] Rp268 miliar, dan Indofarma itu [laba Rp13Base miliar]," urai Shadiq.
Sampai dengan kuartal I/2026, performa grup menunjukkan dinamika tren yang sejalan dengan target. Penjualan konsolidasi tercatat telah menyentuh Rp2,7 triliun dengan perolehan EBITDA sebesar Rp320 miIiar serta laba bersih senilai Rp175 miliar secara unaudited.
Ke depannya, Bio Farma akan meneruskan transformasi bisnis melalui penguatan penjualan produk yang mempunyai margin lebih tebal, meluncurkan produk baru, sekaligus memangkas ketergantungan pada produk-produk generik yang tingkat profitabilitasnya lebih rendah.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Kami juga harus merubah portfolio dari produk-produk yang generik salah satunya di produk farmasi, dan juga di Bio Farma ini harus merubah portofolionya dari produk-produk yang lama, sekarang harus diimbangi dengan produk-produk yang baru," pungkasnya.
Pihak manajemen turut memandang bahwa langkah pergeseran portofolio produk serta kedisiplinan dalam efisiensi operasional akan menjadi faktor penting demi menjaga tren pemulihan kinerja sekaligus merealisasikan target laba di tahun 2026.