Harga CPO Berbalik Naik, Ditopang Ringgit dan Minyak Kedelai
JAKARTA – Mayoritas harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) kembali merangkak naik pada Rabu (10/6/2026), setelah sempat anjlok pada hari sebelumnya.
Sinyal hijau ini dipicu oleh depresiasi mata uang ringgit Malaysia serta lonjakan harga minyak kedelai di pasar global, kendati laju penguatan tertahan oleh proyeksi ekspor yang masih loyo.
Merujuk pada data penutupan BMD hari Rabu (10/6/2026), harga kontrak berjangka CPO periode Juni 2026 merosot 4 Ringgit Malaysia ke angka 4.450 Ringgit Malaysia per ton.
Sebaliknya, kontrak berjangka CPO untuk Juli 2026 menanjak 4 Ringgit Malaysia hingga menyentuh 4.498 Ringgit Malaysia per ton.
Sementara itu, untuk kontrak berjangka CPO Agustus 2026 terpantau naik 10 Ringgit Malaysia ke level 4.538 Ringgit Malaysia per ton.
Begitu pula dengan kontrak berjangka CPO September 2026 yang terangkat 12 Ringgit Malaysia menjadi 4.578 Ringgit Malaysia per ton.
Selanjutnya, kontrak berjangka CPO Oktober 2026 menguat sebesar 12 Ringgit Malaysia menuju 4.615 Ringgit Malaysia per ton.
Adapun untuk kontrak berjangka CPO November 2026 ikut melesat 12 Ringgit Malaysia ke posisi 4.649 Ringgit Malaysia per ton.
Melansir data Tradingview, fluktuasi positif harga CPO mendapat sokongan dari melemahnya kurs ringgit Malaysia dan reli harga minyak kedelai (soyoil) di Chicago.
Namun, sentimen positif ini harus berhadapan dengan koreksi harga minyak nabati substitusi yang diperdagangkan di Bursa Dalian, China.
Para pelaku pasar terpantau bersikap defensif sembari menanti rilis data resmi mengenai industri kelapa sawit. Hasil jajak pendapat dari Reuters memproyeksikan bahwa stok minyak sawit Malaysia berpotensi membubung lagi pada Mei, yang disebabkan oleh lesunya performa ekspor yang melampaui penyusutan volume produksi.
Permintaan Pulih
Melihat dari aspek serapan pasar, aktivitas impor India selaku konsumen minyak sawit terbesar di dunia mulai memperlihatkan perbaikan bertahap setelah sempat anjlok ke titik terendah dalam empat bulan pada April lalu.
Walau begitu, volume permintaan tersebut dinilai masih berada di bawah angka rata-rata historisnya.
Di sisi lain, Indonesia selaku negara produsen minyak sawit paling besar sejagat tengah memberlakukan regulasi teknis anyar guna memperketat kontrol terhadap ekspor komoditas vital, termasuk minyak sawit.
Langkah restriktif ini memicu kecemasan di kalangan para pelaku ekspor dan berpeluang memindahkan sebagian porsi permintaan ke pasar Malaysia.
Kendati demikian, proyeksi arus ekspor komoditas minyak sawit masih dibayangi tantangan berat.
Berdasarkan laporan dari firma pemantau kargo, volume pengapalan minyak sawit Malaysia selama bulan Mei diestimasi merosot di kisaran 8,8% hingga 15,5% jika dikomparasikan dengan pencapaian pada April.
Situasi tersebut menjadi indikator bahwa penyerapan pasar global masih cenderung lesu, sehingga berpotensi menahan laju kenaikan harga CPO untuk periode jangka pendek.