Harga Emas Dunia Merosot Tajam Dekati Level 4.000 USD

Ilustrasi harga emas hari ini (Foto: dok. Liputan6.com)
Penulis: Ibtihal
Kamis, 11 Juni 2026 | 09:22:23 WIB

JAKARTA  – Nilai tukar emas global kembali mengalami tekanan yang cukup berat dan saat ini kian mendekati batas psikologis US$ 4.000 per ons troi. 

Perpaduan antara lonjakan angka inflasi di Amerika Serikat (AS), naiknya tingkat pengembalian obligasi, serta eskalasi ketegangan antara AS dan Iran memicu pudarnya daya tarik logam mulia, kendati situasi geopolitik diselimuti ketidakpastian.

Saat laporan ini disusun, harga emas hari ini terpantau merosot 0,73% menuju posisi US$ 4.044,04 per ons troi. 

Pada sesi perdagangan Rabu (10/6/2026), harga emas spot sempat anjlok hingga 4,26% ke kisaran US$ 4.078 per ons troi. Pada waktu yang sama, harga perak spot melemah 2,66% menjadi US$ 63,61 per ons troi.

Melansir data dari Kitco, tekanan berat pada emas muncul menyusul rilis data yang menunjukkan inflasi AS pada Mei terkerek 0,5% secara bulanan dan naik 4,2% secara tahunan dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. 

Di pihak lain, inflasi inti yang menepis sektor pangan dan energi mengalami kenaikan 0,2% secara bulanan serta 2,9% secara tahunan.

Melesatnya harga sektor energi menjadi salah satu faktor utama penentu inflasi. Angka energi membubung 23,5% dari tahun lalu, sementara harga bensin melesat hingga 40,5%. 

Situasi ini melahirkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar bahwa bank sentral AS (The Fed) akan mempertahankan tingkat suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama atau malah kembali mengereknya naik.

Bagi komoditas emas yang tidak menawarkan imbal hasil tetap, skenario kenaikan suku bunga serta penguatan imbal hasil obligasi AS menjadi katalis negatif karena mendongkrak daya tarik instrumen investasi lain yang berbasis bunga.

Para pelaku pasar saat ini juga memantau dengan cermat perkembangan perselisihan antara AS dan Iran yang kembali memanas dalam beberapa waktu belakangan. Selat Hormuz, sebagai urat nadi distribusi energi dunia, kini menjadi fokus perhatian para investor global.

Presiden AS Donald Trump menyatakan kemungkinan serangan lanjutan terhadap Iran masih terbuka. Angkatan militer AS pun dikabarkan kembali melancarkan aksi penindakan terhadap kapal yang disinyalir mengangkut komoditas minyak milik Iran.

Pada umumnya, gejolak geopolitik bakal memicu lonjakan permintaan emas yang berfungsi sebagai instrumen lindung nilai (safe haven). 

Namun, dalam momentum kali ini pasar cenderung lebih memperhatikan efek domino konflik terhadap pergerakan inflasi dan komoditas energi. Imbasnya, harga minyak global melambung tinggi, imbal hasil obligasi AS merangkak naik, sedangkan emas justru terus mengalami koreksi.

Level US$ 4.000 Jadi Penentu

Melihat dari analisis teknikal, angka US$ 4.000 per ons troi kini bertindak sebagai zona support krusial yang tengah diawasi ketat oleh pelaku pasar. 

Jikalau aksi jual masih terus masif hingga menembus batas bawah tersebut, harga emas berpeluang melanjutkan tren penurunan menuju area US$ 3.883 per ons troi.

Sebaliknya, jika harga sanggup bertahan dan berbalik menguat, emas harus bisa melewati batas resistance di kisaran US$ 4.180 sampai US$ 4.200 per ons troi demi membuka celah pemulihan (rebound) menuju target US$ 4.250 hingga US$ 4.350 per ons troi.

Di sisi lain, pergerakan harga perak terpantau masih dibayangi tekanan dengan area resistance berada pada rentang US$ 65-US$ 66 per ons troi dan level support terdekat di kisaran US$ 63,39 per ons troi.

Di tengah kondisi inflasi yang masih tinggi, tren penguatan harga minyak dunia, serta ketidakpastian situasi keamanan di Timur Tengah, fluktuasi harga emas dalam jangka pendek diproyeksikan masih akan sangat bergantung pada orientasi kebijakan moneter The Fed serta dinamika geopolitik internasional.

Reporter: Ibtihal