Prediksi Rupiah Kamis: Masih Loyo Jelang Pengumuman Suku Bunga BI
JAKARTA — Kurs rupiah terhadap dolar AS diproyeksikan masih akan mengalami pelemahan pada sesi perdagangan Kamis (18/6/2026) di saat para pelaku pasar sedang menunggu hasil keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pasca The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya.
Pada sesi perdagangan Rabu (17/6/2026), nilai tukar rupiah ditutup terkoreksi sebesar 0,21% atau mengalami penurunan 37 poin menuju level Rp17.762 per dolar AS. Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) terpantau bergerak mendatar pada posisi 99,53.
Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengemukakan bahwa pasar keuangan global saat ini tengah dipengaruhi oleh sederet sentimen krusial yang berdampak pada pergerakan mata uang negara-negara berkembang, termasuk mata uang rupiah.
Dari aspek global, pelaku pasar memberikan respons positif atas tercapainya kesepakatan damai antara pihak Amerika Serikat dan Iran.
Perjanjian tersebut membuka peluang bagi Iran untuk kembali melangsungkan aktivitas ekspor minyak sekaligus memperlama masa gencatan senjata yang sudah berjalan sebelumnya.
"Kesepakatan tersebut mencakup ketentuan yang memungkinkan Iran untuk melanjutkan ekspor minyak dan memperpanjang gencatan senjata," kata Ibrahim, Rabu (17/6/2026).
Detail mengenai perjanjian itu dipublikasikan pada hari Selasa waktu setempat. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa kesepakatan ini akan mengeliminasi program pengembangan senjata nuklir oleh pihak Teheran.
Selain itu, salah seorang pejabat AS turut menyampaikan bahwa Iran diperbolehkan kembali memperdagangkan minyaknya seusai perjanjian resmi ditandatangani.
Kendati kondisi geopolitik menunjukkan tanda-tanda perbaikan, fokus perhatian pasar saat ini bergeser pada putusan kebijakan moneter Federal Reserve di bawah kepemimpinan Ketua The Fed Kevin Warsh. Dalam pertemuan FOMC yang rampung pada Rabu (17/6/2026), The Fed menetapkan untuk menahan tingkat suku bunga acuan mereka pada rentang 3,50%-3,75%.
"Pasar sangat sensitif terhadap sinyal apa pun tentang apakah para pembuat kebijakan masih melihat ruang untuk pelonggaran di akhir tahun ini," ujar Ibrahim.
Sorotan pasar selanjutnya juga bakal mengarah pada agenda Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang digelar sepanjang tanggal 17-18 Juni 2026.
Menurut pandangannya, pertemuan RDG kali ini tergolong sangat krusial mengingat pada pekan sebelumnya secara tak terduga BI telah mengerek tingkat suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin ke level 5,50%.
Ibrahim menilai, kebijakan tersebut memperlihatkan komitmen kuat dari BI dalam mengawal stabilitas mata uang rupiah seusai nilai tukar domestik sempat dihadapkan pada tekanan yang cukup berat terhadap dolar AS dalam beberapa periode terakhir.
"Dengan demikian, dalam beberapa waktu terakhir BI telah mengambil langkah agresif untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Kebijakan tersebut menjadi perhatian pasar, terutama karena rupiah sebelumnya sempat mengalami tekanan cukup besar terhadap dolar AS," katanya.
Melihat dari rentetan sentimen yang menyelimuti jalannya pasar tersebut, Ibrahim memproyeksikan pergerakan kurs rupiah pada perdagangan besok hari, Kamis (18/6/2026), akan berakhir melemah dalam kisaran level Rp17.760 sampai Rp17.800 per dolar AS.