The Fed Tahan Suku Bunga, Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Rawan Melemah

Ilustrasi Rupiah dan dolar. (Dok: Antara)
Penulis: Ibtihal
Kamis, 18 Juni 2026 | 09:44:50 WIB

JAKARTA  - Federal Reserve (The Fed) menahan tingkat suku bunga acuannya atau Federal Funds Rate pada rentang 3,5-3,75 persen dalam rapat pertama yang dinakhodai oleh Ketua The Fed Kevin Warsh, Rabu (17/6/2026) waktu setempat. 

Walaupun putusan tersebut selaras dengan estimasi pasar, bank sentral Amerika Serikat (AS) itu malah mengindikasikan bahwa opsi pengerekan suku bunga masih terbuka untuk kebijakan mendatang.

Merujuk data CNBC International, Kamis (18/6/2026), Federal Open Market Committee (FOMC) menetapkan untuk mempertahankan Federal Funds Rate pada kisaran 3,5-3,75 persen. 

Tingkat bunga acuan tersebut tercatat berada pada posisi yang sama semenjak The Fed memotong suku bunga sebesar 75 basis poin (bps) pada paruh kedua tahun 2025.

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, berpandangan bahwa keputusan The Fed menahan suku bunga dapat memicu depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

Menurutnya, laju rupiah saat ini tidak semata dipengaruhi oleh langkah moneter Negeri Paman Sam, melainkan ikut dipicu oleh sederet faktor eksternal lainnya, termasuk ketegangan perang dagang yang kembali meruncing antara AS dan Tiongkok.

“Pada saat Bank Sentral Amerika mempertahankan suku bunga, kemungkinan besar rupiah akan melemah,” ujar Ibrahim saat dihubungi Kompas.com, Rabu malam (17/6/2026).

“Karena rupiah sendiri pun bukan berkiblat terhadap keputusan Bank Sentral yang mempertahankan suku bunga juga. Karena di sini pun juga akan membahas tentang masalah perang dagang. Ya perang dagang sudah mulai lagi genderang antara Amerika dan Tiongkok,” paparnya.

Nilai kurs rupiah di pasar spot berakhir melemah pada sesi perdagangan Rabu sore. Mata uang Garuda tersebut mengalami penurunan sebesar 37 poin atau terkoreksi 0,21 persen menuju level Rp 17.762 per dollar AS.

Ibrahim memproyeksikan kurs rupiah memiliki peluang untuk melorot hingga menyentuh Rp 18.500 per dollar AS. Estimasi tersebut terhitung lebih landai jika dibandingkan dengan prediksi terdahulu yang sempat bertengger di posisi Rp 19.000 per dollar AS.

“Kemarin saya pernah bilang rupiah bisa ke Rp 19.000 per dollar AS apabila Selat Hormuz tetap ditutup, kemudian dollar masih akan terus penguat, perang masih berjalan, tapi ini tidak lagi kemungkinan besar hanya di Rp 18.500an, itu level tertinggi (pelemahan,” pungkas dia.

Bahkan, seandainya secara tidak terduga The Fed justru mengerek suku bunga acuan, maka imbasnya bakal kurang menguntungkan bagi iklim pasar keuangan Indonesia, baik terhadap pergerakan kurs rupiah maupun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Kendati begitu, ia menganggap tingkat probabilitas Kevin Warsh untuk menaikkan suku bunga pada tahun ini terbilang cukup tipis. 

Meredanya ketegangan konflik di kawasan Timur Tengah serta beroperasinya kembali Selat Hormuz menjadi aspek penahan yang mengurangi tensi inflasi global, khususnya lewat penurunan harga komoditas energi.

Reporter: Ibtihal