Jelang Hasil RDG BI Hari Ini, Saham Bank Raksasa Kompak Merosot

Ilustrasi saham, IHSG. (Foto: canva.com)
Penulis: Ibtihal
Kamis, 18 Juni 2026 | 11:09:12 WIB

JAKARTA - Berbagai saham emiten perbankan khususnya kelompok bank berkapitalisasi besar serentak mengalami penurunan menjelang penyampaian hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada hari ini, Kamis (18/6/2026). 

Saham bank-bank dengan kapitalisasi pasar jumbo seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), hingga PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sama-sama bergerak turun pada transaksi perdagangan sesi pertama di siang ini.

Sampai pukul 10.00 WIB pada aktivitas perdagangan sesi I hari ini, nilai saham BBRI mencatatkan koreksi paling dalam yakni sebesar 2,60% menuju level Rp 2.990 per saham. Sementara itu pada pembukaan perdagangan, saham tersebut juga sudah melemah pada posisi Rp 3.040 per saham.

Selanjutnya, saham BBCA menyusut sebesar 1,59% menuju level Rp 6.200 per saham. Di awal pembukaan perdagangan, sahamnya pun terpantau melemah pada posisi Rp 6.250 per saham. 

Nilai saham bank pelat merah lainnya yaitu BBNI terpangkas 80 poin atau turun 2,11% menuju level Rp 3.730 per saham. Di sektor pembukaan perdagangan, saham tersebut juga melemah di angka Rp 3.780. 

Kemudian, saham BMRI terlihat berada di posisi Rp 4.390 atau merosot 100 poin sebesar 2,23%. BMRI sempat mengawali perdagangan hari ini dengan dibuka pada level Rp 4.440.

Bank Indonesia (BI) diproyeksikan bakal kembali mempertahankan tingkat suku bunga acuan atau BI-Rate pada posisi 5,50% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juni 2026. 

Berdasarkan pemaparan LPEM FEB UI, langkah untuk menahan suku bunga ini dibutuhkan usai bank sentral menerapkan kebijakan pengetatan moneter yang terbilang agresif semenjak Mei 2026, dengan total akumulasi kenaikan mencapai 75 basis poin. Kebijakan tersebut dinilai telah cukup untuk menekan gejolak terhadap kurs rupiah sekaligus mengontrol ekspektasi inflasi.

"Dengan mempertimbangkan pengetatan kebijakan yang telah berlangsung secara bertahap sejak Mei, intervensi valuta asing yang terus berlanjut, serta kebutuhan untuk mengevaluasi dampak dari langkah-langkah yang baru-baru ini diambil, kami berpandangan bahwa Bank Indonesia perlu mempertahankan suku bunga kebijakannya pada level 5,50% dalam Rapat Dewan Gubernur yang akan datang," tulis Jahen Fachrul Rezki, Wakil Direktur LPEM FEB UI dalam laporannya, Rabu (17/6/2026).

Angka inflasi tahunan pada Mei 2026 mengalami kenaikan menjadi 3,08% dari posisi 2,42% pada April 2026. Lonjakan tersebut utamanya dipicu oleh terkereknya harga pangan akibat selesainya masa panen raya, faktor cuaca yang terganggu, serta melonjaknya tingkat permintaan menjelang momen Iduladha.

Bukan hanya itu, beban inflasi pun datang dari sektor energi menyusul adanya penyesuaian harga bahan bakar nonsubsidi serta liquefied petroleum gas (LPG) untuk kebutuhan rumah tangga. 

Walau begitu, tingkat inflasi terpantau masih berada di dalam koridor target yang ditetapkan BI yakni sebesar 1,5%-3,5%. 

Lantaran faktor pemicu inflasi lebih dominan bersumber dari jalur pasokan serta harga yang dikontrol oleh pemerintah, LPEM UI menilai tingkat efektivitas penambahan suku bunga demi meredam inflasi dalam jangka pendek terhitung cukup terbatas.

Di sisi lain, tekanan yang melanda mata uang rupiah tetap menjadi fokus utama. Kurs rupiah sempat terperosok ke level terendah di atas Rp18.000 per dolar AS pada awal Juni, yang memicu BI mengambil langkah menaikkan suku bunga di luar jadwal resmi sebesar 25 basis poin pada 9 Juni 2026. 

Tindakan menaikkan suku bunga di luar agenda berkala RDG ini menjadi yang pertama kalinya dilakukan semenjak tahun 2018. LPEM UI menganggap langkah darurat BI tersebut sudah tepat demi menjaga stabilitas nilai tukar di tengah meningkatnya rasa cemas para investor atas sejumlah risiko domestik.

Lewat hasil analisisnya, LPEM UI memberikan sorotan bahwa guncangan di pasar keuangan belakangan ini lebih banyak distimulasi oleh faktor dalam negeri ketimbang eksternal. 

Salah satu pemicunya ialah pendirian Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar terkait potensi menguatnya campur tangan negara dalam lini ekspor komoditas. 

Situasi ini terefleksikan dari masih berlanjutnya tren hengkangnya modal asing, khususnya di instrumen pasar saham. Sepanjang periode 20 Mei hingga 11 Juni 2026, pasar saham menorehkan arus modal keluar mencapai US1,5miliar,berbanding terbalik dengan pasar obligasi yang hanya mencatatkan arus modal masuk tipis senilai US0,02 miliar.

Ditambah lagi, jumlah cadangan devisa tanah air juga terus mengalami penyusutan. Sampai dengan Mei 2026, posisi cadangan devisa merosot US$ 1,3 miliar jika dikomparasikan dengan April, dan sudah berkurang sekitar US$ 11,6 miliar sejak awal tahun sebagai imbas dari langkah intervensi BI di pasar valuta asing.

Meski demikian, LPEM UI mengukur bahwa kondisi cadangan devisa saat ini masih berada di batas aman lantaran setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor. 

Ke depannya, lembaga ini memproyeksikan celah untuk penurunan suku bunga masih berpotensi terbuka apabila pergerakan ekonomi memperlihatkan adanya perlambatan. Kendati demikian, kesempatan itu akan amat bergantung pada kondisi pergerakan nilai tukar rupiah.

"Inflasi tetap berada dalam kisaran target Bank Indonesia sehingga mengurangi urgensi untuk kenaikan suku bunga tambahan. Namun ruang untuk pemangkasan suku bunga kemungkinan akan tetap terbatas selama rupiah masih mengalami tekanan," tulis Jahen.

Melihat kondisi inflasi yang terpantau masih berada di bawah kendali, efek pengetatan moneter yang belumlah terserap secara menyeluruh, serta gejolak rupiah yang perlahan mulai melandai pasca-kenaikan suku bunga darurat, LPEM UI memprediksi BI bakal memilih mengambil posisi wait and see dengan mempertahankan BI Rate pada level 5,50% dalam RDG Juni 2026.

Reporter: Ibtihal