Selat Hormuz Dibuka, Cek Deretan Saham RI yang Diuntungkan

Suasana di Bursa Efek Indonesia (Foto: KONTAN)
Penulis: Ibtihal
Jumat, 19 Juni 2026 | 09:47:57 WIB

JAKARTA - Dibukanya kembali akses Selat Hormuz berpeluang menjadi stimulus positif bagi pasar keuangan domestik Indonesia, khususnya lewat reduksinya premi risiko geopolitik serta melandainya tekanan nilai energi dunia. 

Menurut Analis Maybank Sekuritas Jeffrosenberg Chenlim dalam riset 18 Juni 2026, pemulihan arus distribusi minyak lewat salah satu jalur logistik energi paling krusial di bumi tersebut bakal menopang stabilitas pasokan global, memangkas harga energi, dan meminimalisir beban pada pos fiskal, tingkat inflasi, sekaligus kurs rupiah.

“Pembukaan kembali Selat Hormuz dan penurunan premi risiko geopolitik memperbaiki prospek sektor domestik Indonesia melalui penurunan harga energi, penguatan rupiah, dan berkurangnya tekanan fiskal,” tulis Jeffrosenberg dalam risetnya, 18 Juni 2026.

Ia menggarisbawahi bahwa Indonesia selaku negara net importer energi bakal memperoleh dampak positif secara instan dari koreksi harga minyak dunia. 

Pada tahun 2025, Indonesia terdata mendatangkan kurang lebih 362.000 barel minyak mentah per hari dari luar negeri, di mana sebagian pasokannya berasal dari Timur Tengah yang sirkulasinya sempat terganggu di jalur Hormuz.

Maybank Sekuritas memproyeksikan, lini bisnis yang bakal mendulang keuntungan paling besar ialah saham-saham siklikal domestik serta sektor yang reaktif terhadap fluktuasi suku bunga, terutama perbankan dan properti, diikuti oleh industri konsumer, ritel, infrastruktur, hingga utilitas.

Pada sektor perbankan, Jeffrosenberg berpendapat bahwa apresiasi nilai tukar rupiah serta susutnya ongkos energi bakal menyokong penurunan tekanan beban pendanaan, sekaligus meningkatkan mutu aset dan gairah kredit. 

Ia menyelisik beberapa saham yang berpeluang meraup berkah, di antaranya Bank Central Asia (BBCA), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Mandiri (BMRI), dan Bank Negara Indonesia (BBNI).

Sektor barang konsumsi pun diperkirakan memperoleh angin segar dari penurunan ongkos bahan baku serta biaya transportasi, mencakup perusahaan seperti KLBF, MYOR, dan INDF. 

Di sisi lain, sektor perdagangan ritel layaknya ACES, MAPI, dan AMRT berpotensi memetik keuntungan seiring meningkatnya daya beli masyarakat.

Untuk lini sektor lainnya, industri properti (SMRA, CTRA, BSDE, PWON) dinilai memperoleh imbas positif dari naiknya keterjangkauan konsumen, sedangkan sektor infrastruktur dan utilitas juga berpeluang melaju seiring melandainya ongkos energi.

Jeffrosenberg memandang industri minyak dan gas bumi menjadi kelompok yang paling tertinggal dalam kondisi seperti ini, lantaran normalisasi harga minyak dapat memangkas proyeksi pendapatan perusahaan. 

Ia menunjuk emiten seperti MEDC sebagai pihak yang paling merasakan imbas negatifnya. Sebaliknya, sektor tambang logam diproyeksikan bergerak relatif netral hingga mengarah positif. 

Perusahaan seperti ANTM, AMMN, dan MDKA diperkirakan bakal tertopang oleh penyusutan ongkos energi serta operasional logistik, meskipun sebagian efeknya berpotensi tertahan akibat pelemahan mata uang dolar AS.

Secara garis besar, Maybank Sekuritas menilai dibukanya kembali Selat Hormuz kian mengukuhkan preferensi investasi pada saham domestik siklikal dan sektor sensitif suku bunga ketimbang sektor komoditas.

Reporter: Ibtihal