Dolar AS Tembus Puncak Setahun, Harga Emas Dunia Rontok 1,94 Persen

Ilustrasi Emas Batangan dan Dolar AS. (Foto: net)
Penulis: Ibtihal
Rabu, 24 Juni 2026 | 09:25:15 WIB

NEW YORK – Nilai emas global merosot pada sesi perdagangan Selasa (23/6/2026), menyusul keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS) yang menyentuh titik tertinggi dalam kurun waktu lebih dari satu tahun. 

Kondisi ini mengikis daya pikat logam mulia di tengah melonjaknya prediksi pasar mengenai kenaikan suku bunga acuan The Fed.

Harga emas di pasar spot ditutup jatuh sebesar 1,94% menuju angka US$ 4.110,11 per ons troi. Di waktu yang sama, kontrak berjangka emas AS untuk tenggat pengiriman Agustus ditutup anjlok 1,75% menuju level US$ 4.129 per ons troi.

Melansir laporan Reuters, apresiasi nilai dolar AS menjadi batu sandungan utama bagi pergerakan komoditas emas. 

Mata uang Negeri Paman Sam tersebut melonjak ke posisi puncaknya dalam setahun lebih, sehingga mengakibatkan harga emas menjadi lebih mahal bagi para pelaku pasar yang bertransaksi menggunakan mata uang di luar dolar.

Senior Market Strategist StoneX Bob Haberkorn mengungkapkan bahwa atensi pelaku pasar saat ini lebih tertuju pada arah kebijakan moneter di AS ketimbang situasi geopolitik yang terjadi di Timur Tengah.

“Untuk saat ini, emas dan perak tidak terlalu memperhatikan situasi di Timur Tengah. Investor lebih fokus pada pesan yang disampaikan The Fed pekan lalu,” ujarnya.

Para pelaku pasar semakin meyakini bahwa The Fed bakal mengerek kembali tingkat suku bunga menyusul sinyal hawkish dari Ketua The Fed Kevin Warsh yang menegaskan komitmen kuatnya untuk meredam laju inflasi. 

Hambatan ini memicu para investor untuk memperbesar spekulasi atas kenaikan suku bunga pada beberapa bulan ke depan.

Merujuk pada data CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga untuk bulan Desember sekarang berada di angka sekitar 86%, melonjak tajam dari posisi 61% sebelum terlaksananya rapat The Fed pada pekan lalu.

Walaupun kerap difungsikan sebagai sarana lindung nilai terhadap inflasi, performa emas cenderung mengalami tekanan dalam situasi suku bunga yang tinggi lantaran komoditas ini tidak memberikan keuntungan berbasis bunga atau imbal hasil.

Di sudut lain, situasi geopolitik global sebetulnya sempat memberikan sedikit bantalan bagi pasar. Pihak AS memberikan kelonggaran sanksi terhadap Iran selama 60 hari berturut-turut pasca-dialog awal dalam kerangka upaya damai yang baru bergulir. 

Kendati demikian, ketegangan bersenjata di Lebanon terpantau masih berjalan.

Wakil Presiden AS JD Vance mengutarakan bahwa pembicaraan bersama para pejabat Iran di Swiss telah meletakkan landasan yang kokoh demi tercapainya kesepakatan damai yang langgeng. 

Laju distribusi kapal tanker melewati Selat Hormuz juga diinfokan mulai merangkak naik setelah sebelumnya sempat terhambat akibat eskalasi wilayah.

Sementara itu, nilai minyak mentah jenis Brent merosot lebih dari 1%, menggambarkan berkurangnya rasa cemas para pelaku pasar terhadap potensi hambatan pasokan energi di tingkat global.

Saat ini pasar tengah mengantisipasi publikasi data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pada Kamis (25/6/2026), yang menjadi tolok ukur inflasi utama bagi The Fed. 

Angka tersebut diperkirakan bakal menjadi kompas penting bagi proyeksi arah kebijakan suku bunga mendatang. Kemerosotan tidak hanya melanda emas, melainkan juga berimbas pada komoditas logam mulia lainnya. 

Nilai perak spot jatuh sangat dalam sebesar 5,4% menuju harga US$ 61,59 per ons, platinum melorot 1,68% ke posisi US$ 1.654,9 per ons, sedangkan paladium ikut terpangkas 2,76% ke level US$ 1.234,5 per ons.

Reporter: Ibtihal