Dolar AS dan Bunga Naik Jadi Risiko Pasar, Cek Saham Pilihan Ini
JAKARTA - Gejolak harga minyak dunia memberikan tekanan terhadap pasar negara berkembang, tidak terkecuali Indonesia. Di tengah melonjaknya kebutuhan dolar serta peningkatan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS), negara-negara berkembang menghadapi risiko tekanan nilai tukar dan suku bunga yang lebih tinggi.
Chief Strategist Officer Sucor Sekuritas Arief Putra melalui riset yang dirilis Rabu (24/6/2026) mengungkapkan bahwa sejumlah negara berkembang mulai mengalami kendala likuiditas dolar imbas dari gejolak pasar internasional.
Salah satu contohnya ialah Turki yang dikabarkan memotong kepemilikan obligasi pemerintah AS atau US Treasury sebesar kisaran 90 persen pada Maret 2026, serta melepas atau menukar lebih dari 127 ton emas pada April 2026 demi mendulang aset valuta asing (valas) yang likuid untuk menyokong nilai tukar lira.
Menurut Arief, kendala yang serupa dapat berlangsung di negara berkembang lainnya. Situasi tersebut memicu kenaikan permintaan dolar AS sekaligus merangsang tekanan jual pada US Treasury, yang pada akhirnya ikut andil dalam kenaikan suku bunga internasional.
"Kenaikan imbal hasil obligasi AS membuat negara berkembang harus memilih antara menaikkan suku bunga domestik atau menghadapi tekanan terhadap mata uang dan arus keluar modal," tulis Arief dalam risetnya.
Dirinya memandang Indonesia berpotensi lebih mementingkan stabilitas ekonomi serta likuiditas eksternal jika terjadi lonjakan harga minyak dalam jangka panjang.
Otoritas moneter dan pemerintah diprediksi memprioritaskan perlindungan aliran modal, menjaga stabilitas rupiah, dan meredam tekanan eksternal daripada mengejar pertumbuhan ekonomi secara agresif.
"Dalam skenario tersebut, rupiah dapat terus melemah secara moderat, sementara suku bunga berpotensi naik lebih cepat dari ekspektasi pasar," ujar Arief.
Arief memberikan perumpamaan krisis likuiditas dolar Bangladesh pada 2022, saat cadangan devisa negara itu dikabarkan merosot dari hampir USD8 miliar menjadi sebatas kisaran USD50 juta.
Keadaan tersebut menjadi cerminan risiko yang ingin dijauhi oleh negara-negara berkembang ketika menjumpai tekanan eksternal.
Meski demikian, tidak semua perusahaan yang berorientasi dolar AS bakal otomatis mendapatkan keuntungan dari depresiasi rupiah.
Arief menilai sektor crude palm oil (CPO) serta batu bara masih menjumpai ketidakpastian regulasi imbas kebijakan ekspor yang kian terfokus, sehingga keuntungan dari depresiasi rupiah dapat menjadi terbatas.
Sebaliknya, Sucor Sekuritas tetap memberikan pandangan positif pada sektor energi serta logam, menimbang harga saham beberapa emiten telah melewati koreksi dalam walaupun fundamental bisnis terpantau masih relatif kokoh.
Di dalam daftar saham pilihan utama, Arief menyusun lima emiten berdasarkan urutan preferensi, yaitu PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM), serta PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO).
Arief menetapkan TPIA selaku saham dengan tingkat keyakinan paling tinggi. Menurut pandangannya, teka-teki utama investor ialah bagaimana korporasi yang selama sekian tahun mencatatkan kerugian mampu kembali mencetak profitabilitas inti yang kokoh pada 2026.
Ia melihat ada tiga faktor utama yang dapat menjadi stimulan untuk kinerja TPIA. Pertama, lonjakan harga minyak memiliki peluang menaikkan margin bisnis kilang secara masif.
Kedua, margin produk polimer pada bisnis petrokimia mulai memperlihatkan pemulihan sesudah melewati titik paling rendah siklusnya.
Ketiga, TPIA bakal memperoleh pasokan penuh selama satu tahun dari aset ESSO Singapura yang sebelumnya dibeli oleh perusahaan.
"Kombinasi faktor tersebut berpotensi menciptakan titik balik yang signifikan terhadap laba dan arus kas perusahaan dalam beberapa tahun ke depan," kata Arief.
Di lain pihak, sektor yang berorientasi domestik berpeluang menghadapi tekanan yang lebih besar. Sucor Sekuritas menilai sektor perbankan, konsumer diskresioner layaknya ritel dan otomotif, properti, hingga semen akan terdampak oleh melemahnya rupiah serta peningkatan suku bunga.
Walau begitu, koreksi harga saham yang sudah berlangsung cukup dalam memicu sebagian pemodal mulai menanyakan tingkatan valuasi yang dapat menyajikan nilai wajar dan profil risiko-imbal hasil yang memikat.
Sucor Sekuritas saat ini kembali memeriksa kalkulasi nilai wajar dengan menimbang asumsi laba yang lebih mini serta kenaikan premi risiko, yang tampak dari peningkatan asumsi weighted average cost of capital (WACC).