6 Calon Emiten Siap Gelar IPO Juli 2026 di Tengah Gejolak IHSG

Ilustrasi bursa efek Indonesia (BEI). (Foto: SHUTTERSTOCK)
Penulis: Ibtihal
Kamis, 25 Juni 2026 | 12:53:55 WIB

JAKARTA – Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) bakal menyambut kehadiran enam perusahaan baru yang bersiap melangsungkan aksi penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) pada awal Juli 2026.

Langkah korporasi ini direalisasikan di tengah situasi pasar modal yang bergejolak, ditandai dengan posisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih terjebak dalam jalur penurunan.

Keenam calon perusahaan terbuka yang bersiap melantai di BEI tersebut bergerak di pelbagai lini bisnis, antara lain PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS), PT Bach Multi Global Tbk (BACH), PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), serta PT Niramas Utama Tbk (JELI).

Seluruh perusahaan tersebut bakal meresmikan pencatatan saham perdana mereka di Bursa Efek Indonesia pada awal Juli 2026 apabila seluruh tahapan proses berjalan lancar.

Pada sesi penutupan transaksi Rabu (24/6/2026), IHSG melemah 3,56 persen menuju level 5.883,88 dan secara kumulatif sepanjang tahun berjalan (year to date) indeks bursa domestik telah terpangkas sebesar 31,95 persen.

Analis yang juga menjabat sebagai Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, berpendapat bahwa saham-saham IPO dari industri kesehatan memiliki peluang untuk menjadi opsi yang lebih prospektif di kala tren pasar sedang melemah (bearish).

"Saya melihat emiten sektor kesehatan seperti EMMI, JECX dan PRDL relatif lebih menarik," kata Elandry sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Industri kesehatan dipandang mempunyai ketahanan yang lebih baik sewaktu kondisi pasar modal sedang mengalami volatilitas tinggi karena memiliki karakteristik bisnis yang defensif dengan tingkat permintaan yang tergolong stabil.

Elandry memberikan catatan tambahan bahwa RANS mempunyai magnet tersendiri bagi para pemodal ritel berkat kekuatan nama besar (brand) serta masifnya sorotan dari publik.

"Namun dalam kondisi pasar saat ini, investor cenderung lebih fokus pada fundamental dan valuasi dibanding faktor popularitas semata," ujar Elandry sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Para pelaku pasar diimbau untuk mencermati instrumen penting seperti tingkat valuasi, prospek ekspansi bisnis, tujuan pemanfaatan dana hasil IPO, kinerja laporan keuangan, hingga kapasitas manajemen sebelum memutuskan mengoleksi saham.

Indikator fundamental tersebut dinilai memegang peranan yang jauh lebih krusial demi menjamin keberlanjutan ekspansi usaha perusahaan untuk jangka panjang.

"Di tengah market sentiment yang masih hati-hati, pendekatan yang selektif dan berbasis fundamental menjadi kunci dalam memilih saham IPO," pungkas Elandry sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Reporter: Ibtihal