Prediksi Pergerakan IHSG Jumat, 26 Juni 2026 Berpotensi Sideways

Pengunjung berada di galeri BEI. (Foto: Investor Daily)
Penulis: Ibtihal
Jumat, 26 Juni 2026 | 09:50:23 WIB

JAKARTA — Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menyudahi sesi perdagangan Kamis (25/6/2026) dengan bertengger di zona hijau. 

Tren penurunan harga minyak mentah global yang terus berlanjut hingga mendekati target asumsi pemerintah di APBN 2026 turut memicu sentimen positif di kalangan pelaku pasar. 

Berdasarkan laporan data IDX Mobile, IHSG bergerak menguat sebesar 115,16 poin atau naik 1,96% menuju posisi 5.999,04 pada penutupan bursa. 

Di sepanjang hari, pergerakan indeks berada pada koridor batas bawah 5.864 hingga batas atas 6.056,20. Dari aspek likuiditas perputaran dana, akumulasi nilai transaksi hari ini menembus Rp13,63 triliun, dengan volume saham yang diperjualbelikan sebanyak 20,9 miliar lembar. 

Frekuensi perdagangan tercatat berkisar 1,66 juta kali. Secara rinci, sebanyak 562 saham mencatatkan kenaikan, 148 saham mengalami penurunan, dan sisa 249 saham lainnya bergerak stagnan. 

Sejumlah emiten yang menjadi motor penggerak utama penguatan pada indeks LQ-45 meliputi saham PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR) yang melonjak 7,14% ke level Rp390, disusul saham PT Japfa Comfeed Tbk. (JPFA) yang merangkak naik 6,91% ke posisi Rp2.010, serta saham PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) yang menguat 6,62% ke angka Rp2.900. 

Di samping itu, saham PT Astra International Tbk. (ASII) juga terkerek naik 6,03% menuju level Rp4.920, dan saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) naik 41% ke posisi Rp1.655.

Berlawanan dengan tren tersebut, beberapa emiten yang ikut menyeret penurunan indeks lebih dalam di antaranya ialah saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) yang terkoreksi 3,13% ke level Rp1.395, dilanjutkan oleh saham PT Bukit Asam (Persero) Tbk. (PTBA) yang turun sebesar 2,07% ke posisi Rp2.370, lalu PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA) yang melemah 1,80% ke angka Rp1.910, serta saham PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) yang menyusut 1,31% menuju level Rp4.530.

Analis dari tim riset Phintraco Sekuritas mengungkapkan bahwa kemerosotan harga minyak dunia yang terus terjadi hingga kian mendekati proyeksi parameter pemerintah dalam APBN 2026 menjadi faktor penentu utama yang memicu optimisme pelaku pasar. 

Mereka menilai kelanjutan koreksi harga minyak mentah global ini memberikan dampak bagus bagi sektor keuangan dalam negeri. 

Nilai minyak Brent yang melorot mendekati batas US$70 per barel dinilai sanggup meminimalkan kecemasan investor terkait ketahanan anggaran negara. 

Hal tersebut dikarenakan tingkat harga minyak saat ini semakin selaras dengan estimasi nilai minyak yang dipasang oleh pemerintah ketika menyusun APBN 2026. 

Situasi ini berpeluang memangkas risiko pembengkakan defisit anggaran yang selama ini kerap menjadi perhatian serius para pelaku pasar.

Selain memunculkan ruang gerak yang lebih dinamis bagi kestabilan fiskal nasional, penurunan harga komoditas minyak juga diestimasikan berpotensi meredam laju inflasi ke depannya. 

Dengan tekanan harga yang jauh lebih terkendali, tingkat daya beli masyarakat diharapkan mampu bertahan stabil guna menopang aktivitas konsumsi domestik. 

Dorongan positif tambahan bersumber dari beredarnya informasi bahwa pihak pemerintah tengah menimbang kembali opsi pemangkasan anggaran ekstra sebesar Rp50 triliun untuk alokasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Kebijakan efisiensi finansial tersebut ditanggapi positif oleh pasar keuangan sebagai cerminan keseriusan dalam mengawal kedisiplinan fiskal di tengah iklim ekonomi global yang penuh tantangan.

Pada pasar valuta asing, mata uang rupiah turut memperlihatkan performa menguat. Nilai tukar rupiah disudahi dengan penguatan sekitar 0,05% menuju level Rp17.943 per dolar AS. 

Penguatan mata uang Garuda ini sejalan dengan arah pergerakan mata uang regional Asia yang mendapat angin segar akibat depresiasi dolar AS. 

Koreksi nilai dolar terjadi lantaran kemerosotan harga minyak berhasil mengikis kecemasan pasar terhadap potensi akselerasi suku bunga acuan Federal Reserve yang agresif.

Walau IHSG sanggup melakukan pemulihan (rebound) secara signifikan, Phintraco Sekuritas memproksikan laju pergerakan indeks untuk sesi perdagangan Jumat (26/6/2026) mendatang cenderung akan berjalan dalam rentang terbatas atau bergerak mendatar (sideways). 

Pelaku investasi diperkirakan masih akan mencermati dinamika fluktuasi harga komoditas dunia, arah pergerakan kurs rupiah, serta perkembangan kebijakan fiskal yang diambil oleh pemerintah.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Indikatorbisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Reporter: Ibtihal