Konflik AS-Iran Memanas, Harga Minyak WTI Naik Jadi USD 69,72
JAKARTA – Nilai jual minyak dunia kembali merangkak naik pada awal perdagangan Senin (29/6/2026) pasca Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meluncurkan gempuran militer.
Eskalasi paling baru ini memicu kecemasan pasar atas potensi tersendatnya distribusi minyak dari wilayah Timur Tengah.
Menyadur laporan CNBC internasional, nilai minyak West Texas Intermediate (WTI) hari ini menguat 0,71% menuju angka US$ 69,72 per barel, setelah pada Jumat kemarin sempat terperosok di bawah level US$ 70 untuk pertama kalinya sejak 27 Februari atau sehari sebelum konflik Iran meletus.
Sedangkan untuk harga minyak patokan global, Brent, hari ini terpantau menguat 0,36% menuju level US$ 72,25 per barel.
Lonjakan harga minyak dipicu oleh kabar bahwa proses perundingan demi mengakhiri perselisihan antara pihak AS dan Iran kembali menemui jalan buntu setelah Washington meluncurkan serangan ke rentetan fasilitas militer Iran sebagai tindakan balasan atas gempuran Teheran terhadap armada kapal komersial di Selat Hormuz.
Narasumber yang berkecimpung dalam agenda negosiasi memaparkan pembicaraan memang tengah dibekukan sementara waktu. Kendati demikian, semua delegasi dilaporkan masih bertahan di Swiss dan bersiap meneruskan perundingan pasca memperoleh lampu hijau dari tiap-tiap kubu.
Di lain pihak, petinggi senior dari pemerintahan Presiden Donald Trump menyanggah kabar bahwa agenda negosiasi telah dianulir.
"Belum ada yang dibatalkan," kata pejabat tersebut.
Pihaknya menambahkan diskusi teknis seputar penerapan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) dipastikan tetap berjalan seturut jadwal dalam kurun beberapa hari mendatang.
Penjelasan yang serupa turut diutarakan oleh seorang pejabat AS kepada CNBC yang menegaskan perbincangan teknis masih akan diteruskan.
Meski begitu, ketidakpastian di jalur diplomatik ini belum sanggup meredam kecemasan pasar setelah perselisihan kembali meruncing.
Presiden Donald Trump melayangkan peringatan bahwa Iran bakal menerima dampak yang besar pasca militer AS menggempur titik penyimpanan rudal, drone, serta radar pantai kepunyaan Iran sebagai jawaban atas serangan terhadap koridor pelayaran di Selat Hormuz, keliru satu jalur distribusi minyak paling krusial di dunia.
Pada waktu yang bersamaan, Kuwait dan Bahrain mengabarkan adanya serangan rudal dan drone yang meluncur pada Minggu malam, memperlebar ketakutan kalau konflik tersebut berpeluang merembet ke area Teluk.
Meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menyita atensi para pelaku pasar energi.
Para investor sekarang ini mencermati dinamika perselisihan yang berpeluang mengganggu ketersediaan minyak global serta memicu fluktuasi harga dalam jangka pendek.