Harga Minyak Pekan Ini Tertekan, Brent Berpotensi Turun ke Level USD65

Brent Berpotensi Turun. (Foto: KabarBursa)
Penulis: Ibtihal
Senin, 29 Juni 2026 | 10:02:52 WIB

JAKARTA – Nilai jual minyak mentah diprediksikan masih akan bergerak di bawah tekanan pada aktivitas perdagangan pekan ini setelah mencatatkan penyusutan tajam di sepanjang minggu lalu.

Menyusutnya kecemasan terhadap potensi kemacetan distribusi pasokan dari area Timur Tengah menjelma sebagai aspek utama yang menekan harga komoditas minyak, meskipun risiko dari sektor geopolitik tetap membayangi pergerakan pasar.

Harga minyak mentah jenis Brent berakhir melandai sebesar 4,34 persen menuju posisi USD71,99 per barel pada transaksi Jumat (26/6/2026) pekan kemarin.

Di waktu yang sama, minyak mentah berjenis West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat (AS) terpangkas 3,74 persen ke angka USD69,23 per barel.

Secara akumulasi mingguan, nilai Brent anjlok hingga 10,86 persen, sementara jenis WTI melorot sebanyak 9,62 persen.

Kemerosotan harga tersebut terjadi pasca armada kapal tanker dilaporkan kembali meneruskan aktivitas pengapalan melewati Selat Hormuz, sehingga sanggup memotong kekhawatiran pelaku pasar terkait ancaman tersumbatnya distribusi energi global.

Sebelumnya, pasar sempat mengkhawatirkan risiko terhadap kelancaran arus minyak selepas satu unit kapal kargo didera gempuran di area dekat Oman.

Walau begitu, ketakutan tersebut mulai mereda setelah tercapainya konsensus seputar gencatan senjata temporer antara pihak Amerika Serikat dan Iran.

"Ada keyakinan yang semakin kuat bahwa minyak akan tetap mengalir melalui Selat Hormuz," kata Analis Senior Price Futures Group Phil Flynn, dikutip Reuters.

Kendati demikian, para pelaku pasar terus memantau dinamika perselisihan yang terjadi di Timur Tengah.

Indikator bahwa konsensus gencatan senjata antara AS dan Iran sedang menghadapi ujian kembali mencuat pasca kedua negara diinformasikan meluncurkan aksi saling serang pada momen akhir pekan.

Situasi tersebut kembali membuka kesempatan bagi mencuatnya volatilitas harga komoditas minyak, utamanya jikalau perselisihan melebar serta mengancam koridor niaga energi yang utama.

Kembalinya tensi geopolitik dapat menjelma sebagai aspek pendorong harga minyak, terkhusus ketika stok minyak dunia mulai memperlihatkan tren penyusutan.

Di sisi lain, muncul indikasi kalau Presiden AS Donald Trump tidak menghendaki perselisihan tersebut meluas menjadi sebuah perang terbuka.

Pemberitaan media memaparkan bahwa kecemasan atas konsekuensi ekonomi serta politik menjelang agenda pemilu sela AS dapat memicu lahirnya upaya demi meredam ketegangan.

Ditinjau dari indikator teknikal, para pengamat pasar menilai pergerakan harga minyak cenderung masih berada di zona bearish.

Nilai Brent tercatat telah melorot dari posisi tertinggi sepanjang tahun berjalan di level USD119,75 per barel menuju kisaran USD73,60 per barel.

Harga Brent pun terpantau telah melewati level retracement Fibonacci 61,8 persen, di mana indikator teknikal memperlihatkan sinyal penurunan lanjutan.

Pergerakan rata-rata 50 hari (MA-50) serta 100 hari (MA-100) dikabarkan telah menciptakan pola bearish crossover, sedangkan untuk indikator Relative Strength Index (RSI) dan Moving Average Convergence Divergence (MACD) terpantau masih bergulir melandai.

Berbekal situasi tersebut, beban penurunan diproyeksikan masih berpeluang berlanjut dalam jangka pendek.

Brent diestimasi dapat menguji titik support selanjutnya pada kisaran level USD65 per barel.

Namun, ramalan bearish tersebut dapat berputar arah jikalau harga minyak sanggup menembus kembali zona resistance di angka USD80 per barel.

Reporter: Ibtihal