8 Emiten Antre IPO, BEI Kantongi Dana Rp80 Triliun

Karyawan melintas di Bursa Efek Indonesia (BEI). (Foto: BeritaSatu)
Penulis: Ibtihal
Senin, 29 Juni 2026 | 11:24:57 WIB

JAKARTA – Keinginan korporasi untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) terpantau masih bergairah tinggi walau situasi pasar saham sekarang ini tengah fluktuatif. 

Sampai dengan pengujung Juni 2026, didapati ada delapan perusahaan yang mengantre guna menggelar aksi penawaran umum perdana saham atau initial public offering.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, memaparkan bahwa delapan korporasi itu kini masih berada di dalam pipeline pencatatan saham. 

“Dari delapan perusahaan tersebut, satu merupakan perusahaan dengan aset skala kecil, satu perusahaan aset skala menengah, dan enam perusahaan aset skala besar," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Ditinjau dari sektornya, pipeline IPO ini didominasi oleh empat korporasi yang bergerak di bidang kesehatan. 

Di samping itu, ada dua perusahaan di sektor barang konsumsi primer, satu dari sektor barang konsumsi nonprimer, serta satu dari sektor infrastruktur.

Baca Juga BEI Resmi Buka Suspensi Saham BAPA Mulai Perdagangan Senin 29 Juni 2026

Sampai detik ini, belum ada calon emiten yang berlatar belakang sektor basic materials, energi, keuangan, industri, maupun properti dan real estat. 

Secara garis besar, BEI menghimpun total perolehan dana di pasar modal sepanjang tahun 2026 yang telah menembus angka Rp 80,28 triliun.

Perolehan tersebut bersumber dari penawaran umum perdana saham, peluncuran efek bersifat utang dan sukuk, serta rights issue. Modal yang didapat dari IPO sepanjang tahun ini terpantau baru menyentuh Rp 300 miliar.

Di sisi lain, penerbitan efek bersifat utang dan sukuk bertindak sebagai pemasok paling besar lewat perolehan Rp 76,09 triliun dari 71 emisi oleh 43 penerbit. 

Penyerapan dana lewat jalur rights issue menyentuh angka Rp 3,89 triliun yang berasal dari empat korporasi tercatat per 26 Juni 2026.

Merujuk pada data e-IPO BEI, ada enam perusahaan yang tengah melangsungkan periode penawaran umum perdana saham saat ini. 

Korporasi tersebut meliputi PT Niramas Utama Tbk, PT Prodia Diagnostic Line Tbk, PT Esa Medika Mandiri Tbk, PT Nitrasanata Dharma Tbk, PT Bach Multi Global Tbk, dan PT Rans Entertainment Indonesia Tbk.

Keenam korporasi itu diproyeksikan dapat menyerap modal berkisar Rp 2,14 triliun. PT Nitrasanata Dharma Tbk mengincar dana paling jumbo yaitu sekitar Rp 683 miliar, lalu diikuti oleh target korporasi lain dengan nominal yang beragam.

Investment Specialist KISI Sekuritas, Ahmad Faris Mu’tashim, berpandangan bahwa langkah enam korporasi itu untuk tetap masuk ke bursa di tengah situasi pasar yang bergejolak ialah opsi yang tepat. 

Kondisi ini dipicu oleh tensi harga minyak yang mulai melandai, sehingga situasi pasar perlahan-lahan mulai seimbang.

“Hal yang menjadi pertimbangan adalah kondisi pasar yang setidaknya mulai stabil, sehingga emiten dapat mengambil momentum potensi pembalikan arah,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Ahmad Faris Mu’tashim mengimbuhkan bahwa ketertarikan investor terhadap saham IPO tak sekadar tersengat oleh tren IHSG atau fundamental korporasi saja. 

Aspek utama yang diperhatikan investor ialah reputasi penjamin emisi sekaligus kejelasan pemanfaatan dana hasil IPO.

“Melihat behavior investor saat ini yang biasa, terlihat mayoritas orang lebih memilih saham IPO dari sisi kredibilitas underwriter dan peruntukan alokasi dana IPO. Sehingga, kondisi pasar dan valuasi yang cenderung premium sering kali tereduksi,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Reporter: Ibtihal