Harga Emas Mengalami Koreksi, Pakar Justru Sarankan Beli

Ilustrasi Emas. (Foto: net)
Penulis: Ibtihal
Rabu, 01 Juli 2026 | 10:04:26 WIB

JAKARTA  – Penurunan harga emas dalam beberapa minggu belakangan dinilai bukan menjadi penanda berakhirnya tren penguatan, melainkan kesempatan bagi para investor untuk melakukan akumulasi. 

Pandangan tersebut diungkapkan oleh Co-Founder sekaligus Chief Investment Officer Waratah Capital Advisors, Brad Dunkley, yang meyakini prospek jangka panjang logam mulia ini masih sangat cerah.

Merujuk pemberitaan Kitco News, Dunkley menyatakan tren bullish emas tetap terjaga karena pemerintah serta bank sentral di berbagai negara tidak akan membiarkan perlambatan ekonomi atau resesi berlangsung dalam waktu lama.

Menurutnya, tingginya beban utang membuat pemerintah sulit mempertahankan tingkat suku bunga tinggi untuk jangka panjang. Dampaknya, kebijakan moneter yang lebih longgar, termasuk penambahan likuiditas atau pencetakan uang, pada akhirnya akan kembali diambil guna menjaga pertumbuhan ekonomi.

"Utang sudah terlalu besar sehingga suku bunga tidak bisa terus dinaikkan. Pada akhirnya mereka akan membiarkan ekonomi tetap panas dan kembali mencetak uang," ujar Dunkley.

Dunkley menilai banyak investor masih terlalu optimistis bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan moneter ketat dalam jangka waktu lama. 

Padahal, pengalaman selama beberapa tahun terakhir menunjukkan bank sentral cenderung segera memutar arah kebijakan ketika pasar keuangan mulai mendapat tekanan.

Menurut Dunkley, pemerintah saat ini semakin enggan membiarkan resesi, lonjakan angka pengangguran, maupun tekanan ekonomi berkepanjangan terjadi karena dampaknya terhadap stabilitas fiskal dan sosial jauh lebih besar jika dibandingkan dengan masa sebelumnya.

Dunkley memaparkan, lingkungan suku bunga riil yang rendah serta ekspansi moneter menjadi faktor utama yang menyokong harga emas dalam jangka panjang.

Ia menilai pemerintah akan terus menjaga biaya pinjaman tetap rendah guna mengelola utang yang terus membengkak. Kondisi tersebut membuat emas tetap memikat sebagai aset lindung nilai terhadap penurunan daya beli mata uang.

Selain faktor moneter, meningkatnya fragmentasi geopolitik juga menjadi pendorong positif bagi komoditas emas.

Menurutnya, ketidakpercayaan antarnegara mendorong banyak bank sentral meningkatkan kepemilikan emas sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa mereka.

"Bank-bank sentral terus menjadi pembeli besar emas karena situasi geopolitik yang semakin tidak menentu," katanya.

Meskipun optimistis terhadap harga emas, Waratah Capital lebih memilih menanamkan modal pada saham-saham emiten perusahaan tambang emas ketimbang membeli emas fisik.

Dunkley menilai valuasi emiten tambang emas saat ini masih berada jauh di bawah potensi fundamentalnya karena pelaku pasar belum sepenuhnya percaya harga emas akan bertahan di level tinggi.

Menurutnya, banyak produsen emas kini menghasilkan arus kas yang sangat kuat, bahkan sebagian telah memiliki posisi kas bersih. Namun, kondisi positif tersebut belum sepenuhnya tecermin pada harga saham mereka.

"Kalau tidak tahu mereka perusahaan tambang emas, Anda mungkin akan mengira ini adalah perusahaan terbaik di dunia. Margin arus kas bebas mereka sangat tinggi," ujarnya.

Associate Portfolio Manager Waratah Capital Advisors, Grant McAdam, mengimbuhkan bahwa banyak perusahaan tambang emas masih menawarkan tingkat free cash flow yield yang menarik jika dibandingkan dengan sektor saham lainnya.

Meski kinerja keuangan sektor tambang emas berada di level tertinggi, Dunkley menilai sebagian besar investor institusi masih memiliki eksposur yang rendah terhadap saham-saham emas. 

Menurutnya, minat terhadap sektor ini baru akan merangkak naik ketika pasar saham secara umum mulai kehilangan momentum.

Ia menilai kondisi tersebut serupa dengan siklus komoditas pada era 1970-an, ketika emas menjadi salah satu aset dengan performa terbaik saat valuasi pasar saham mengalami tekanan.

Reporter: Ibtihal