Harga CPO Ambles Akibat Penguatan Ringgit dan Minyak Mentah

Ilustrasi Buah Kelapa Sawit. (Foto: net)
Penulis: Ibtihal
Rabu, 01 Juli 2026 | 10:04:26 WIB

JAKARTA – Nilai kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) merosot pada Selasa (30/6/2026). 

Penurunan ini disebabkan oleh menguatnya mata uang ringgit serta melemahnya harga minyak nabati kompetitor di bursa Dalian, China, dan Chicago, Amerika Serikat (AS).

Mengacu pada data BMD saat penutupan Selasa (30/6/2026), kontrak berjangka CPO untuk Juli 2026 merosot 49 Ringgit Malaysia menjadi 4.474 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Agustus 2026 merosot 40 Ringgit Malaysia menjadi 4.518 Ringgit Malaysia per ton.

Sementara itu, kontrak berjangka CPO September 2026 turun 42 Ringgit Malaysia menjadi 4.546 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Oktober 2026 anjlok 43 Ringgit Malaysia menjadi 4.569 Ringgit Malaysia per ton.

Kontrak berjangka CPO November 2026 menyusut 43 Ringgit Malaysia menjadi 4.590 Ringgit Malaysia per ton. Adapun Kontrak berjangka CPO Desember 2026 melemah 38 Ringgit Malaysia menjadi 4.615 Ringgit Malaysia per ton.

Dilansir dari Tradingview, sentimen negatif tambahan bersumber dari merosotnya harga minyak mentah dunia seiring munculnya harapan dibukanya dialog antara AS dan Iran. 

Melorotnya harga minyak mentah memperkecil daya tarik minyak nabati, termasuk CPO, sebagai bahan baku pembuatan biodiesel.

Walau begitu, harga CPO tetap berada dalam tren kenaikan bulanan. Sampai akhir Juni, nilai CPO terpantau menguat sekitar 0,3%, usai sempat melorot selama dua bulan berturut-turut.

Kenaikan itu didorong oleh pulihnya permintaan global, kecemasan terkait ketersediaan pasokan karena kondisi cuaca, serta kenaikan mandat pemanfaatan biodiesel di beberapa negara produsen terbesar.

Melihat aspek permintaan, prospek konsumsi CPO turut memperoleh sedikit stimulus dari pulihnya kegiatan ekonomi di China. 

Pada Juni, sektor manufaktur dan jasa di negara tersebut kompak menunjukkan ekspansi moderat, yang menandakan adanya pemulihan aktivitas bisnis dan berpeluang mendongkrak serapan minyak nabati.

Kendati demikian, dalam basis kuartalan harga CPO tetap diproyeksikan mengalami penurunan yang cukup dalam. Koreksi ini sekaligus mengikis sebagian besar keuntungan mendekati 20% yang sempat dicetak pada kuartal pertama tahun ini.

Para pelaku pasar saat ini tengah menunggu rilis data final ekspor minyak sawit Malaysia periode Juni dari lembaga survei kargo guna membaca arah permintaan global. 

Sebelumnya, distribusi produk sawit Malaysia untuk 25 hari pertama Juni dilaporkan melonjak 10,6% hingga 11,1% dibanding periode serupa di bulan Mei, yang memberi indikasi bahwa serapan ekspor mulai pulih.

Fluktuasi harga CPO dalam jangka pendek diproyeksikan tetap akan disetir oleh dinamika ekspor Malaysia, naik-turunnya harga minyak mentah, dinamika kurs ringgit, serta proyeksi permintaan dari negara-negara importir utama seperti China dan India.

Reporter: Ibtihal