Solar Turun Tapi Harga RON 92 & 95 Tak Berubah, Ini Penyebabnya

Harga BBM RON 92 dan RON 95 tetap stabil meskipun harga solar mengalami penurunan. ()Foto: ANTARA
Penulis: Ibtihal
Kamis, 02 Juli 2026 | 10:16:17 WIB

JAKARTA - PT Pertamina beserta entitas niaga swasta seperti BP-AKR dan Shell kompak memotong nilai jual Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi kategori diesel mulai 1 Juli 2026. 

Kendati demikian, koreksi harga ini terpantau belum menyentuh varian bensin dengan Research Octane Number (RON) 92 serta RON 95.

Pertamina terpantau memangkas tarif empat lini produk BBM-nya, yang mencakup: Pertamax Turbo, Pertamina Dex, Dexlite, dan Avtur. Di bawah ini merupakan rincian harganya:

  • Pertamax Turbo: melandai dari nominal Rp 20.750 tiap liter menjadi Rp 19.300 tiap liter. Mengalami penyusutan sebesar Rp 1.450 tiap liter atau berkisar 7%.
  • Pertamina Dex: merosot dari posisi Rp 24.800 tiap liter menuju Rp 21.150 tiap liter. Terpangkas sebesar Rp 3.650 tiap liter atau berkisar 15%.
  • Dexlite: turun dari angka Rp 23.000 tiap liter ke posisi Rp 19.700 tiap liter. Terkoreksi sebesar Rp 3.300 tiap liter atau berkisar 14%.

Avtur Penerbangan Domestik (belum termasuk komponen pajak) di Bandara Soekarno Hatta: menyusut dari harga Rp 22.190 tiap liter (Juni) menjadi Rp 19.190 tiap liter (Juli). Penurunan menyentuh Rp 3.000 tiap liter atau berkisar 14%.

Pada jaringan Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU) swasta, tarif BP Ultimate Diesel mencatatkan penurunan Rp 3.720 tiap liter, di mana dari posisi sebelumnya Rp 25.060 sekarang ditawarkan seharga Rp 21.340 tiap liter. 

Di sisi lain, harga Shell V-Power Diesel terkoreksi Rp 3.150 tiap liter dari nominal Rp 24.490 kini dibanderol di angka Rp 21.340 tiap liter.

Langkah pemangkasan harga ini terpantau belum menyasar produk BBM non-subsidi varian RON 92 dan RON 95. Pertamina terpantau masih mempertahankan harga Pertamax pada level Rp 16.250 tiap liter. Kondisi serupa terjadi pada produk Pertamax Green yang posisinya tetap di angka Rp 17.000 tiap liter.

Untuk lini SPBU swasta, tarif jual BP 92 beserta BP Ultimate dilaporkan belum memperlihatkan fluktuasi. Produk BP 92 masih dipatok senilai Rp 16.670 tiap liter, dan nominal Rp 17.240 tiap liter untuk jenis BP Ultimate. 

Sebagai catatan, varian BBM jenis RON 92 serta RON 95 tersebut baru saja mengalami eskalasi harga pada tanggal 10 Juni 2026.

Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora menjelaskan kalau langkah penyesuaian tarif ini merupakan bagian dari agenda evaluasi periodik yang berjalan sesuai dengan formula yang ada. 

Langkah kebijakan ini bertumpu pada pergerakan harga pasar minyak mentah dunia, kalkulasi aspek fiskal, serta tingkat daya beli sekaligus kondisi makro ekonomi publik.

Pergeseran tarif BBM non-subsidi menyelaraskan diri terhadap dinamika pasar minyak mentah internasional serta mengikuti regulasi atau formula baku yang berlaku. 

Kitty juga menggarisbawahi bahwa langkah penyesuaian harga jual BBM non-subsidi ini sudah dikonsultasikan bersama pihak eksekutif. Berdasarkan evaluasi itu, Pertamina memangkas harga jual Pertamax Turbo, Pertamina Dex, Dexlite, beserta Avtur. 

Sementara untuk banderol Pertamax dan Pertamax Green, Pertamina masih memantau pergerakan situasi serta hasil tinjauan yang bergulir secara berkala.

"Terkait penyesuaian harga Pertamax and Pertamax Green, kami akan mengikuti perkembangan selanjutnya serta melakukan evaluasi secara berkala bersama dengan pihak terkait dan Pemerintah," kata Kitty, Rabu (1/7/2026).

Di pihak lain, Manajemen BP-AKR memaparkan bahwa keputusan penyesuaian tarif ditempuh melalui pertimbangan multi-aspek. Hal itu mencakup pergerakan harga energi internasional, situasi pasar domestik, ongkos pengadaan komoditas, serta aturan resmi yang berlaku pada sektor energi nasional.

"Penyesuaian harga merupakan bagian dari mekanisme industri, perusahaan melakukan evaluasi, penyesuaian operasional, dan implementasi harga secara berkala sesuai ketentuan ketentuan yang berlaku," ungkap keterangan yang disampaikan Manajemen BP-AKR.

Saat dihubungi secara terpisah, Anggota DEN Unsur Pemangku Kepentingan dari Kalangan Konsumen Muhammad Kholid Syeirazi menilai bahwa pemotongan tarif solar non-subsidi, Pertamax Turbo, serta avtur bakal menekan pengeluaran operasional pada bidang transportasi, rantai logistik, dunia industri, hingga moda penerbangan. 

Kholid menaruh harapan agar penyesuaian nilai jual ini mampu memicu sentimen positif yang mendongkrak optimisme masyarakat.

Di sudut lain, Kholid membeberkan kalau formulasi nilai jual BBM tidak melulu bertumpu pada fluktuasi harga minyak mentah di satu momentum tertentu saja. 

Namun, formula itu turut memperhitungkan arah pergerakan harga, ongkos persediaan (inventory cost), fluktuasi nilai tukar rupiah, hingga keberlangsungan roda bisnis korporasi.

Apalagi, kondisi dunia saat ini masih dibayangi ketidakpastian pasar energi global akibat labilnya konfrontasi di Selat Hormuz. Di samping itu, pergeseran harga BBM non-subsidi juga berkaitan erat terhadap taktik korporat dari masing-masing entitas bisnis. 

Kholid mencermati keputusan Pertamina mematok stabil harga RON 92 dan RON 95, yang mana berpotensi menjadi bagian dari strategi usaha dalam memulihkan margin keekonomian produk Pertamax serta Pertamax Green yang sempat ditahan pada beberapa bulan terdahulu.

Dalam konteks ini, Kholid menitikberatkan esensi dari aspek konsistensi serta keterbukaan dalam formula penyesuaian harga maupun aspek pemenuhan energi nasional.

"Jika tren harga minyak dunia turun, penurunan harga BBM akan menumbuhkan kepercayaan pasar dan konsumen. Penyedia energi juga perlu transparan terkait dasar perhitungan harga, sehingga masyarakat memahami mengapa suatu jenis BBM turun sementara lainnya tetap," kata Kholid, Rabu (1/7/2026).

Anggota DEN Unsur Pemangku Kepentingan dari Kalangan Industri, Satya Widya Yudha berpandangan bahwa skema penyesuaian harga BBM non-subsidi ini sudah tergolong ideal dalam mengantisipasi harga pasar. 

Pemotongan harga diprioritaskan terlebih dahulu pada komoditas BBM non-subsidi kategori diesel, Pertamax Turbo serta Avtur yang pada periode sebelumnya sempat mendapati lonjakan harga lebih dulu.

"Sementara waktu itu Pertamax RON 92, dan RON 95 yang seharusnya ikut naik, tetapi tetap ditahan oleh pemerintah. Sehingga saat ini masih dihitung penyesuaiannya," kata Setya.

Sementara itu, Pengamat Migas sekaligus Dewan Penasihat Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) Hadi Ismoyo mewanti-wanti bahwa nilai jual BBM non-subsidi sejatinya berjalan beriringan dengan tingkat harga minyak mentah (crude) internasional. 

Kendati demikian, penyesuaian tarif tidak dapat digulirkan secara mendadak, melainkan menggunakan basis bulanan yang mengacu pada parameter Indonesian Crude Price (ICP) yang dirilis berkala tiap bulan.

Hadi menguraikan, penurunan nilai jual crude dengan patokan Brent dari posisi US$ 95 menuju kisaran US$ 83 per barel dipicu oleh tercapainya kesepakatan damai antara pihak Iran dengan Amerika Serikat (AS). 

Bilamana penurunan tensi konflik ini terus berlanjut dan dibarengi dengan pembukaan jalur blokade oleh kedua belah pihak, maka dalam jangka menengah tarif crude memiliki potensi untuk kembali normal menuju area US$ 60 - US$ 70 untuk setiap barelnya.

Hadi memprediksikan, nilai keekonomian untuk Pertamax sejatinya masih bertengger di kisaran Rp 17.400 per liter, dengan asumsi rata-rata harga Brent masih berada di kisaran US$ 95 sepanjang bulan Juni serta kalkulasi kurs di seputaran Rp 17.500 per dolar AS. 

Menggunakan skenario di mana rata-rata nilai jual crude mampu berbalik ke level US$ 70 per barel, maka peluang tarif Pertamax untuk ikut menyusut menuju kisaran Rp 12.800 dipastikan bakal semakin terbuka lebar.

"Daya beli sedang rendah, sehingga (penurunan harga BBM Subsidi) sangat membantu masyarakat luas. Tren harga minyak dunia akan menuju US$ 70 per barel, bahkan mungkin ke US$ 60 per barel. Artinya harga minyak akan kembali normal setelah nota perdamaian Iran vs AS berlanjut," tandas Hadi.

Reporter: Ibtihal