Bitcoin Rebound ke Level 60.000 Dollar AS Usai Pidato Kevin Warsh

Ilustrasi Bitcoin (BTC). (Foto: ist)
Penulis: Ibtihal
Kamis, 02 Juli 2026 | 10:18:37 WIB

NEW YORK - Nilai tukar Bitcoin sukses merangkak naik ke zona 60.000 dollar AS pada Rabu (2/7/2026) waktu setempat, pasca-Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh mengungkapkan bahwa ancaman inflasi sudah mulai menyusut, sembari mempertegas komitmen bank sentral Amerika Serikat (AS) guna menarik kembali tingkat inflasi ke sasaran 2 persen.

Saat mengisi diskusi panel di agenda tahunan Bank Sentral Eropa (ECB) yang bertempat di Sintra, Portugal, Warsh enggan memberikan kisi-kisi perihal arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan. 

Menurut pandangannya, jajaran perumus kebijakan masih bakal mengkaji berbagai rilis data ekonomi terbaru pada rapat internal The Fed yang dijadwalkan empat minggu ke depan. 

Alih-alih membocorkan hal itu, Warsh menggarisbawahi kalau atensi utama bank sentral AS tetap fokus pada pemeliharaan stabilitas harga.

“Risiko inflasi telah menurun. Jika ada rumah tangga, pelaku usaha, maupun pelaku pasar keuangan yang mengira bank sentral akan merasa nyaman dengan target inflasi di atas 2 persen, maka mereka akan kecewa. Kami akan mewujudkan stabilitas harga di Amerika Serikat,” ujar Warsh dikutip dari CoinDesk, Kamis (2/7/2026).

Pemaparan tersebut seketika memicu Bitcoin memotong tren koreksi yang sempat terjadi di sesi sebelumnya hingga kembali ditransaksikan melampaui level 60.000 dollar AS. Mengacu pada data CoinDesk, nilai aset kripto tersebut terapresiasi di atas 2 persen dalam kurun waktu 24 jam terakhir.

Warsh juga menyoroti akselerasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai instrumen yang berpeluang merombak tatanan struktural ekonomi Amerika Serikat. 

Ia menilai, masifnya arus investasi di bidang AI sekarang ini memicu lonjakan belanja modal (capital expenditure/capex) yang dampaknya masih terlihat dari aspek permintaan, namun ke depannya diprediksi akan mempertebal kapasitas pasokan ekonomi.

Sangat kontras dengan kondisi terdahulu di mana mayoritas korporasi cenderung bertumpu pada langkah rekayasa keuangan, layaknya aksi pembelian kembali saham (share buyback), saat ini pelaku usaha mulai gencar memperbesar investasi lantaran optimis AI sanggup mendongkrak kapasitas produksi.

Jika ekspansi investasi tersebut benar-benar mampu memperluas sisi penawaran ekonomi, kondisi ini dipastikan membawa dampak yang sangat masif bagi arah kebijakan moneter, kendati menurut Warsh masih terlampau prematur untuk mengambil konklusi dari fenomena itu sekarang.

Pertemuan tersebut turut dihadiri oleh pimpinan tertinggi Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde, Gubernur Bank Sentral Inggris (BoE) Andrew Bailey, serta Gubernur Bank Sentral Kanada (BoC) Tiff Macklem. 

Secara garis besar, para petinggi otoritas moneter tersebut sepakat bahwa sudah momentumnya bagi bank sentral untuk memangkas penggunaan proyeksi kebijakan (forward guidance) yang sifatnya terlalu gamblang.

Lagarde membeberkan bahwa dirinya menyesal pernah merasa “terpasung dan terdesak” akibat formula forward guidance

Ia sekarang lebih condong pada opsi yang diistilahkannya sebagai “framework guidance”, yaitu sebuah metode di mana ECB memaparkan kerangka kerja beserta poin pertimbangan dalam merumuskan keputusan kebijakan tanpa memberikan sinyal eksplisit terkait arah suku bunga yang dipatok sebelumnya.

Warsh turut menyampaikan pandangan yang selaras. Menurut dirinya, esensi paling utama dari Federal Reserve adalah menelurkan regulasi kebijakan yang akurat. 

Oleh sebab itu, bilamana sebuah instrumen komunikasi justru mendatangkan hambatan bagi proses perumusan keputusan terbaik, maka opsi instrumen tersebut sudah selayaknya untuk ditinggalkan.

Reporter: Ibtihal