Melantai di Bursa, EMMI Targetkan Dana Rp245,74 Miliar

Ilustrasi Investor melihat pergerakan harga saham menggunakan ponsel. (Foto: BeritaSatu)
Penulis: Ibtihal
Kamis, 02 Juli 2026 | 17:08:35 WIB

JAKARTA – PT Esa Medika Mandiri Tbk. (EMMI) sudah menetapkan harga nominal untuk penawaran umum perdana saham mereka sebesar Rp470 per saham. 

Lewat aksi korporasi ini, total dana segar yang berpotensi dihimpun diprediksi dapat mencapai Rp245,74 miliar.

Sebelumnya, pada masa penawaran awal atau book building yang berjalan pada tanggal 22 sampai 24 Juni 2026, EMMI sempat menawarkan perkiraan harga saham di rentang Rp446 hingga Rp515.

Manajemen pada akhirnya menjatuhkan pilihan untuk menetapkan nominal Rp470 per saham atas total 522.857.000 lembar saham baru yang bakal dilepas oleh emiten tersebut.

Direktur Utama Esa Medika Mandiri, Florian Chris Widjaja, menyebutkan bahwa langkah untuk melantai di bursa saham merupakan keputusan strategis untuk memperkuat basis pertumbuhan korporasi sebagai pemasok perangkat medis di dalam negeri.

”IPO ini bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari fase pertumbuhan baru. Melalui IPO ini, kami optimistis dapat mendorong EMMI menjadi perusahaan alat kesehatan nasional yang lebih kuat dan semakin relevan dalam mendukung peningkatan layanan kesehatan di Indonesia,” katanya dalam keterangan resmi, Kamis (2/7/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berdasarkan dokumen prospektus yang dipublikasikan, seluruh perolehan dana dari hasil penawaran umum ini, sesudah dipotong dengan semua biaya emisi, akan dialokasikan ke dalam tiga segmen operasional utama.

Segmen pertama yaitu sekitar Rp50 miliar digunakan untuk melunasi sebagian dari pokok utang pinjaman yang ditanggung perseroan.

Segmen kedua, yakni sebesar 6,4%, dialokasikan untuk belanja modal dalam rangka pembangunan unit pabrik yang bertempat di Cikupa.

Sementara itu, porsi paling besar sebanyak 72,3% akan dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan modal kerja operasional, termasuk untuk pengadaan barang operasional proyek softloan hingga pembelian bahan baku produksi.

”Kami melihat kebutuhan alat kesehatan nasional masih memiliki ruang pertumbuhan yang luas, didorong oleh modernisasi rumah sakit, peningkatan kapasitas layanan kesehatan, serta penguatan industri alat kesehatan dalam negeri,” katanya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Jika dilihat dari aspek operasional finansial, EMMI menunjukkan grafik peningkatan kinerja yang konsisten selama rentang waktu tiga tahun terakhir.

Nilai penjualan bersih korporasi tercatat bergerak naik dari Rp172,98 miliar pada periode 2023, melonjak ke angka Rp384,93 miliar di sepanjang tahun 2024, dan terus melesat hingga menyentuh nominal Rp454,64 miliar pada pembukuan tahun 2025.

Pertumbuhan pendapatan tersebut pun berjalan selaras dengan perolehan laba bersih emiten yang terkerek naik secara masif, bermula dari posisi Rp939,42 juta pada tahun 2023, lalu melompat ke level Rp11,01 miliar pada 2024, hingga puncaknya berhasil mengantongi Rp34,13 miliar pada laporan akhir tahun 2025.

Sesudah selesainya semua rangkaian proses IPO serta penerapan program ESA, porsi kepemilikan saham oleh masyarakat diproyeksikan akan berada di kisaran 29,7%.

Di sisi lain, sosok Surya Gunawan Widjaja akan tetap bertahan sebagai pemegang saham mayoritas dengan persentase kepemilikan sebesar 21,1%.

Porsi kepemilikan berikutnya ditempati oleh Andrew Ignatius Widjaja dengan andil saham sebesar 16,4%, lalu Florian Chris Widjaja sebesar 11,2%, Andrian Matthew Widjaja di angka 11,2%, serta Eddy Lie yang menguasai 10,2%.

Secara akumulatif, total modal ditempatkan serta disetor oleh korporasi mengalami kenaikan dari yang semula sejumlah 1,22 miliar lembar saham menjadi sebanyak 1,74 miliar lembar saham pasca-IPO digulirkan.

Sampai saat ini, pihak EMMI mengonfirmasi telah menyuplai kebutuhan operasional ke lebih dari 200 unit rumah sakit beserta jaringan fasilitas pelayanan kesehatan yang tersebar di wilayah Indonesia.

Dalam melancarkan jalannya pelaksanaan IPO ini, pihak korporasi menunjuk BRI Danareksa Sekuritas bersama Ina Sekuritas Indonesia untuk memegang tugas sebagai penjamin pelaksana emisi efek. 

Sementara itu, peran sebagai penjamin emisi efek diserahkan kepada Yulie Sekuritas Indonesia serta Investindo Nusantara Sekuritas.

Reporter: Ibtihal