Ekonom: Rupiah Menanti Arus Modal Asing Masuk ke Pasar Obligasi
JAKARTA – Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian berpendapat bahwa kemerosotan nilai tukar rupiah yang terus bergulir saat ini merupakan bagian dari dinamika penyesuaian di pasar keuangan, dan bukan menjadi cerminan dari memburuknya kondisi fundamental ekonomi tanah air.
Menurut pandangannya, Indonesia sekarang sudah masuk dalam tahapan stabilisasi pasca beragam strategi kebijakan moneter serta tata kelola likuiditas direalisasikan oleh Bank Indonesia (BI).
Pada sesi perdagangan Kamis (2/7/2026), nilai tukar mata uang rupiah berakhir melemah sebesar 43 poin menuju posisi Rp 17.995 per dolar AS.
Fakhrul menjelaskan, indikasi positif mulai nampak dari kembalinya para penanam modal asing ke sektor pasar surat utang atau obligasi negara dalam beberapa waktu belakangan.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa pasar mulai mengapresiasi perubahan arah regulasi yang diambil otoritas, khususnya dalam hal tata kelola likuiditas serta langkah mengembalikan sistem pembentukan harga yang lebih sehat di sektor pasar obligasi.
Menurutnya, saat ini mulai terlihat sinyal yang positif. Investor asing telah kembali masuk ke pasar obligasi pemerintah dalam beberapa waktu terakhir.
“Hal ini menunjukkan bahwa pasar mulai mengapresiasi perubahan arah kebijakan yang dilakukan otoritas, terutama dalam pengelolaan likuiditas serta upaya mengembalikan mekanisme pembentukan harga yang lebih sehat di pasar obligasi," ujar Fakhrul dalam keterangannya, Kamis (2/7/2026).
Walau demikian, ia memberikan catatan bahwa proses pemulihan nilai rupiah tidak bakal terjadi dalam waktu singkat.
Pada saat ini, sektor pasar obligasi menjadi instrumen paling krusial bagi pergerakan mata uang Garuda lantaran bertindak sebagai pintu gerbang utama masuknya aliran modal portofolio dari luar negeri.
"Rupiah pada dasarnya sedang menunggu capital inflow yang lebih besar. Untuk menghasilkan arus masuk modal yang berkelanjutan, pasar obligasi Indonesia perlu menawarkan tingkat imbal hasil yang cukup menarik dibandingkan risiko global yang masih tinggi. Investor asing memang mulai kembali membeli obligasi Indonesia, namun menurut saya proses tersebut masih berada pada tahap awal," jelasnya.
Fakhrul berpandangan bahwa langkah BI dalam memperketat tata kelola likuiditas merupakan fondasi yang tepat demi memelihara stabilitas nilai tukar.
Sisi lain, keberhasilan dari agenda tersebut juga memerlukan sokongan dari kebijakan fiskal serta tata kelola surat utang negara yang berkesinambungan agar proses normalisasi di pasar obligasi bisa berjalan secara maksimal.
Menurut dia, sektor pasar obligasi bertindak sebagai jangkar utama untuk stabilitas mata uang rupiah.
Sebelum rupiah sanggup menguat secara berkesinambungan, pasar obligasi wajib merampungkan proses penyesuaian harga (repricing) terlebih dahulu agar mampu menggaet lebih banyak pemodal jangka panjang.
"Pasar obligasi adalah jangkar utama stabilitas nilai tukar. Sebelum rupiah dapat menguat secara berkelanjutan, pasar obligasi terlebih dahulu perlu menyelesaikan proses repricing sehingga mampu menarik lebih banyak investor jangka panjang," katanya.
Fakhrul pun memberikan penekanan terkait pentingnya aspek sinergi antara pihak BI dan Kementerian Keuangan untuk memelihara konsistensi regulasi.
Menurutnya, kedua lembaga tersebut dituntut memberikan ruang bagi terciptanya tingkat keuntungan (yield) obligasi yang merefleksikan situasi pasar riil, agar Indonesia kembali memiliki daya saing tinggi dibanding negara-negara berkembang lainnya.
"Konsistensi merupakan faktor yang sangat penting. Ketika Bank Indonesia telah memperketat likuiditas dan pasar mulai melakukan penyesuaian, maka proses tersebut perlu dijaga hingga selesai. Apabila terjadi inkonsistensi kebijakan yang kembali menahan kenaikan imbal hasil sebelum waktunya, maka proses masuknya investor asing dapat kembali tertunda dan hasil stabilisasi rupiah menjadi tidak optimal," ujarnya.
Fakhrul melihat bahwa Indonesia sekarang telah bergeser dari fase penuh tekanan menuju fase stabilisasi. Namun, masih terdapat satu tahapan krusial yang wajib dilewati, yaitu meningkatnya volume aliran modal asing ke pasar obligasi negara agar mampu memperkokoh keseimbangan pada sektor pasar valuta asing.
"Yang dibutuhkan saat ini bukan intervensi tambahan, melainkan konsistensi kebijakan. Ketika pasar melihat bahwa proses normalisasi benar-benar dijalankan secara konsisten oleh Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan, kepercayaan investor akan meningkat, capital inflow akan semakin besar, dan rupiah akan memperoleh fondasi yang jauh lebih kuat," katanya.
Ia memberikan tambahan bahwa selama agenda tersebut bergulir, tingkat volatilitas rupiah masih tetap akan dipengaruhi oleh dinamika global, khususnya terkait ekspektasi atas kebijakan suku bunga acuan The Fed.
Walau begitu, ditinjau dari sisi domestik, fondasi untuk stabilisasi dinilai mulai terbangun sehingga celah pelemahan rupiah menjadi kian terbatas jika dibandingkan dengan situasi beberapa bulan yang lalu.
"Tantangan berikutnya bukan lagi menghentikan tekanan terhadap rupiah, tetapi membangun keyakinan investor bahwa proses normalisasi pasar obligasi akan dijalankan secara konsisten hingga Indonesia kembali menjadi salah satu tujuan utama investasi portofolio di kawasan. Ketika capital inflow kembali menguat, rupiah akan memperoleh dukungan yang jauh lebih kokoh dan proses stabilisasi akan semakin berkelanjutan," tutup Fakhrul.