Multi Indocitra Bagikan Dividen Rp6 Miliar dan Rencana Jamin Aset

Ilustrasi produk peralatan dan perlengkapan bayi di mana MICE menjadi distributornya. (Foto: Shutterstock)
Penulis: Ibtihal
Jumat, 03 Juli 2026 | 13:24:51 WIB

JAKARTA – PT Multi Indocitra Tbk (MICE) memastikan pembagian dividen tunai sebesar Rp6 miliar atau setara Rp10 per saham bagi para pemegang saham, yang bersumber dari perolehan laba bersih tahun buku 2025 senilai Rp43,61 miIiar. 

Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia yang dirilis pada 2 Juli 2026, ketetapan ini telah disahkan lewat Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang diselenggarakan pada 30 Juni 2026. 

Pertemuan tersebut dihadiri oleh perwakilan pemegang saham yang menguasai 512,17 juta saham atau setara dengan 85,36% dari total seluruh saham yang memiliki hak suara resmi.

Distribusi dividen ini dijadwalkan berlangsung pada 31 Juli 2026, dengan tanggal cum date jatuh pada 7 Juli 2026, serta recording date atau tanggal pencatatan resmi pada 9 Juli 2026.

Mayoritas pemegang saham memberikan persetujuan penuh terhadap agenda rapat ini. Perusahaan menetapkan pembagian dividen senilai Rp10 per saham untuk total 600 juta saham yang beredar, sehingga akumulasi nilainya mencapai Rp6 miliar.

Angka tersebut setara dengan kisaran 13,76% dari laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sepanjang tahun 2025. Di sisi lain, sisa perolehan laba sebesar Rp37,61 miliar bakal ditempatkan sebagai laba ditahan guna memperkuat struktur permodalan internal korporasi.

Bukan cuma menyepakati pemanfaatan laba bersih, pemegang saham juga memberikan pengesahan terhadap laporan tahunan serta laporan keuangan untuk tahun buku 2025. 

Langkah ini sekaligus memberikan pelunasan serta pembebasan tanggung jawab sepenuhnya (acquit et décharge) kepada jajaran direksi maupun dewan komisaris atas segala aktivitas pengelolaan dan pengawasan yang dilakukan selama periode tahun buku terkait.

Selain itu, RUPS menyerahkan mandat penuh kepada Dewan Komisaris dalam menunjuk akuntan publik independen guna mengaudit laporan keuangan tahun buku 2026, serta menyusun besaran remunerasi bagi dewan komisaris dan direksi. 

Pada agenda perubahan susunan manajemen, para pemegang saham sepakat mempertahankan seluruh susunan direksi serta dewan komisaris yang menjabat saat ini hingga rampungnya RUPS Tahunan tahun buku 2028 yang direncanakan bergulir pada tahun 2029.

Dengan begitu, jajaran direksi tetap dipimpin oleh Anthony Honoris selaku Direktur Utama, yang disokong oleh Budiman Gitaloka bersama Hendro Wibowo di posisi Direktur. 

Pada jajaran Dewan Komisaris, Alka Tranggana tetap menjabat sebagai Komisaris Utama, didampingi Budi Setyawan selaku anggota komisaris dan Teddy Syarief Natawidjaja di posisi Komisaris Indenpenden.

Melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), para pemegang saham turut menyetujui langkah krusial berupa pemberian wewenang kepada manajemen untuk menjaminkan aset-aset perusahaan yang nilainya melebihi angka 50% dari total kekayaan bersih, berdasarkan data laporan keuangan 2025. 

Persetujuan ini diberikan guna memberikan fleksibilitas bagi perusahaan dalam memperoleh fasilitas pinjaman perbankan ataupun instrumen pendanaan eksternal lainnya.

Jajaran direksi juga memperoleh kuasa penuh untuk menandatangani seluruh dokumen yang diperlukan untuk mengeksekusi keputusan strategis tersebut. 

Multi Indocitra mulai memperlebar fleksibilitas keuangan mereka dengan membuka potensi pemanfaatan aset sebagai agunan pendanaan. 

Kebijakan ini diperkirakan mampu meningkatkan kapasitas korporasi dalam mengawal ekspansi bisnis maupun pemenuhan kebutuhan modal kerja jika sewaktu-waktu diperlukan di masa depan.

KINERJA KEUANGAN

Multi Indocitra memperlihatkan kinerja keuangan yang terbilang kokoh sepanjang tahun 2025 melalui pencatatan pertumbuhan nilai aset, penguatan posisi modal (ekuitas), serta perolehan laba bersih di tengah situasi menantang pada sektor industri barang konsumsi. 

Korporasi berhasil meraup laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai Rp43,61 miliar pada tahun 2025. 

Dari perolehan keuntungan tersebut, manajemen mengalokasikan Rp6 miliar atau sekitar 13,8% sebagai dividen. 

Sementara sisa dana senilai Rp37,61 miliar dimasukkan ke dalam pos laba ditahan untuk menyokong modal kerja serta mendukung program ekspansi perusahaan.

Sampai pada akhir Desember 2025, akumulasi total aset konsolidasian menyentuh Rp1,48 triliun, atau mengalami kenaikan sebesar 4,2% jika dikomparasikan dengan angka Rp1,42 triliun pada akhir tahun 2024. 

Lonjakan aset ini utamanya dipicu oleh penambahan nilai persediaan menjadi Rp448,31 miIiar, investasi pada penyertaan saham yang naik menjadi Rp107,49 miliar, serta aset hak guna yang merangkak naik ke posisi Rp8,60 miIiar.

Di waktu yang sama, aset lancar juga terkerek naik menuju angka Rp790,92 miIiar dari posisi periode tahun sebelumnya yang berada di angka Rp740,89 miIiar. 

Pos kas dan setara kas bertengger di angka Rp74,02 miIiar pada akhir tahun 2025. Jumlah ini memang mengalami penyusutan jika dihadapkan pada posisi akhir tahun sebelumnya yang menyentuh Rp80,62 miIiar. 

Pos piutang usaha tercatat berada di angka Rp228,52 miIiar, sedangkan nilai persediaan naik menjadi Rp448,31 miIiar demi menjaga kelancaran operasional kerja serta jalur distribusi barang.

Di sisi lain, total liabilitas perusahaan pada akhir Maret 2026 berada di angka Rp517,97 miIiar, mengalami sedikit kenaikan dari posisi akhir tahun 2025 yang tercatat sebesar Rp509,12 miIiar. 

Lonjakan ini mayoritas bersumber dari peningkatan penarikan utang bank jangka pendek demi mendanai kebutuhan modal kerja operasional.

Meski demikian, postur permodalan internal korporasi dinilai masih berada dalam batas aman dan konservatif karena akumulasi total ekuitas tercatat hampir dua kali lipat lebih masif ketimbang total kewajibannya. 

Nilai ekuitas bertengger di angka Rp968,45 miIiar pada akhir 2025, lalu merangkak naik menuju Rp969,34 miIiar pada akhir triwulan pertama tahun 2026. 

Pertumbuhan ekuitas ini didominasi oleh adanya tambahan dari saldo laba yang diperoleh dari hasil keuntungan operasional riil perusahaan.

Pendapatan bersih yang diraih perseroan sukses menyentuh Rp329,72 miIiar, atau melonjak sebesar 35,4% jika disandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang sebesar Rp243,53 miIiar. 

Walau begitu, adanya pembengkakan pada pos biaya operasional mengakibatkan perolehan laba bersih menyusut menjadi Rp1,05 miIiar, dari yang sebelumnya mampu mencapai Rp4,06 miIiar pada kuartal pertama tahun 2025.

Reporter: Ibtihal