Pasar Saham RI Berpotensi Turun ke Frontier Market, Ini Analisisnya

Ilustrasi Morgan Stanley Capital International, MSCI (Foto; SOPA)
Penulis: Ibtihal
Minggu, 05 Juli 2026 | 14:56:21 WIB

JAKARTA – Bursa Indonesia berpotensi mengalami penurunan status dari Emerging Market menjadi Frontier Market sebesar 27 persen pada November 2026 mendatang. 

Managing Director PT Samuel Tumbuh Bersama, Shim Tae Yong, berpendapat bahwa penilaian yang diberikan MSCI terhadap pasar saham Indonesia terlampau ketat.

Ia menyoroti langkah transformasi pasar saham yang diinisiasi oleh self regulatory organization Tanah Air, yang mewajibkan porsi free float emiten di Bursa minimal 15 persen sebagai sebuah kriteria yang sangat tinggi. 

“Free float SpaceX punya Elon Musk itu hanya 3%. Ini berarti mereka tentu tak bisa listing di Indonesia,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Pada tinjauan Mei lalu, MSCI telah mendepak enam saham dari Global Standard Index serta 13 saham dari daftar small cap. 

Status pembekuan untuk kenaikan peringkat terpantau masih berlaku sejak Januari 2026 dan tidak ada perubahan dalam tinjauan aksesibilitas pasar global pada 23 Juni 2026.

“Jadi, ini bukanlah hal yang baik. Sebenarnya, mereka hanya terus menunda-nunda keputusan dan diberi harapan palsu,” sebagaimana dilansir dari sumber berita. 

Shim memaparkan bahwa situs vending Polymarket memproyeksikan peluang penurunan status sebesar 27 persen, namun ia pribadi memperkirakan probabilitasnya berada di bawah 10 persen.

Hal tersebut dikarenakan isu terkait MSCI sudah diketahui jauh sebelum awal tahun 2026 dan harga saham-saham terkait sudah terkoreksi. 

“BBCA, MORA, emiten telekomunikasi, semua terdampak. Jadi, isu MSCI ini tidak akan menjadi faktor pendorong utama pergerakan harga saham, kecuali jika status pembekuannya dicabut, yang mana itu akan menjadi hal positif,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Samuel Tumbuh Bersama menilai pasar saham Indonesia mulai menawarkan titik masuk yang menarik setelah mengalami koreksi tajam. 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat turun dari 8.647 menjadi 5.643 atau melemah sekitar 35% year to date, dengan valuasi yang mendekati level krisis.

“Namun, kenaikan suku bunga dan risiko kebijakan membuat katalis pemulihan pasar belum sepenuhnya kuat,” sebagaimana dilansir dari sumber berita. Pada perdagangan Jumat (3/7/2026), IHSG ditutup di level 5.875 atau telah melemah 32,05% year to date.

Reporter: Ibtihal