OPEC+ Sepakat Dongkrak Produksi Minyak 188.000 Barel per Hari Mulai Agustus
NEW YORK — Sebanyak tujuh negara yang tergabung dalam aliansi OPEC+ mencapai kesepakatan untuk mendongkrak target suplai minyak bumi sebesar 188.000 barrel per hari (bph) terhitung sejak Agustus 2026.
Langkah ini diputuskan lewat forum pertemuan virtual yang dilangsungkan pada Minggu (5/7/2026).
Agenda diskusi tersebut dihadiri oleh Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, serta Oman.
Ketujuh wilayah ini merupakan pilar inti dari OPEC+ yang sebelumnya mengimplementasikan langkah penyesuaian sukarela (voluntary adjustment) terhadap sektor pasokan minyak global sejak April 2023.
Melalui rilis resminya, pihak OPEC menyampaikan bahwa keputusan untuk mengerek volume produksi diambil usai mencermati proyeksi peta pasar minyak mentah dunia yang dinilai berada dalam fase stabil serta indikator fundamental pasar yang masih terjaga prima.
"Kenaikan bertahap tersebut merupakan bagian dari pengembalian secara bertahap penyesuaian produksi sukarela sebesar 2,2 juta barrel per hari yang diumumkan pada April 2023," demikian pernyataan OPEC, dikutip dari laman resmi, Senin (6/7/2026).
Suplemen pasokan sebesar 188.000 bph ini menggenapi langkah ekspansi produksi yang sebelumnya juga sudah direalisasikan pada Juni dan Juli 2026.
Pasokan Bertambah di Tengah Pelemahan Harga Minyak
Langkah penambahan output ini digulirkan ketika kurva harga minyak dunia sedang menunjukkan tren koreksi seiring mulainya normalisasi aktivitas ekspor minyak mentah yang melintasi Selat Hormuz.
Berdasarkan laporan CNBC, guyuran pasokan dari OPEC+ ini hadir berbarengan dengan melandainya harga minyak setelah rute distribusi laut di Selat Hormuz secara perlahan kembali dioperasikan untuk pengiriman minyak.
Sepanjang kurun waktu April sampai Juli 2026, tujuh anggota utama OPEC+ tercatat sudah mengerek kuota produksi mereka hingga mendekati angka 800.000 bph.
Kendati demikian, kalkulasi penambahan tersebut mayoritasnya masih berstatus proyeksi di atas kertas lantaran pecahnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran sempat memicu pemblokiran Selat Hormuz bagi pergerakan armada kapal tanker.
Situasi ini memberikan dampak langsung bagi operasional produsen raksasa OPEC+, termasuk di antaranya Arab Saudi, Kuwait, dan Irak.
Produksi Mulai Pulih
Merujuk data resmi OPEC, volume produksi dari kelompok OPEC+ sempat merosot ke level 33,13 juta bph pada Mei 2026 dari yang sebelumnya mencapai 42,77 juta bph pada Februari 2026.
Roda produksi baru mulai merangkak naik pada Juni setelah Amerika Serikat turut mengasistensi Uni Emirat Arab beserta beberapa negara mitra OPEC+ lainnya untuk menggenjot aktivitas ekspor.
Walau begitu, raihan produksinya masih berada di bawah garis sebelum meletusnya konflik.
Di sisi lain, nilai tukar minyak dunia kini sudah mendarat kembali ke level sebelum ketegangan terjadi. Penurunan harga ini dipicu oleh menyusutnya angka impor dari China, melonjaknya volume ekspor dari produsen di luar kawasan Timur Tengah, serta langkah pelepasan cadangan minyak strategis global dalam skala masif yang dipandu oleh International Energy Agency (IEA).
Analis dari UBS, Giovanni Staunovo, mengemukakan bahwa langkah yang diambil oleh OPEC+ ini sudah selaras dengan prediksi pelaku pasar.
"Kelompok tujuh negara tersebut terus mengurangi pemangkasan produksi mereka seperti yang diperkirakan secara luas. Fokus jangka pendek akan tetap pada berapa banyak kapal tanker yang berhasil melewati Selat Hormuz dan seberapa cepat permintaan dan impor minyak mentah China pulih," kata Staunovo.
Bukan hanya itu, jalinan nota kesepahaman yang diteken oleh Washington dan Teheran untuk menyudahi konflik bersenjata turut andil dalam menebarkan sentimen positif bagi para pelaku pasar bahwa distribusi pasokan minyak ke depannya akan kembali normal.
Penyesuaian Produksi Tetap Fleksibel
Pihak OPEC memberikan penegasan bahwa skema pemulihan angka produksi ini dijalankan dengan metode bertahap dan adaptif. Lembaga tersebut menyampaikan jika akselerasi output dapat disetop untuk sementara waktu ataupun dianulir andaikata dinamika pasar mengalami pergeseran.
Menurut pandangan OPEC, ruang fleksibilitas ini menjadi instrumen penting bagi kelompok produsen dalam menjaga ekuilibrium pasar minyak dunia.
Ketujuh negara tersebut juga kembali mengikrarkan kesetiaan mereka untuk mematuhi poin-poin Deklarasi Kerja Sama (Declaration of Cooperation/DoC), termasuk penyesuaian produksi sukarela lanjutan yang disetujui dalam forum ke-53 Joint Ministerial Monitoring Committee (JMMC) pada 3 April 2024.
Mereka pun menegaskan kesiapan untuk menyetorkan kompensasi penuh atas kelebihan produksi di atas batas kuota yang terjadi sejak Januari 2024.
Irak Dorong Kuota Lebih Besar
Di luar agenda pembahasan kenaikan output, kubu OPEC+ kini juga dihadapkan pada dinamika baru pasca-keluarnya Uni Emirat Arab dari lingkaran aliansi serta adanya sinyalemen dari Irak yang menghendaki porsi kuota produksi yang lebih longgar.
Secara total, OPEC+ saat ini dihuni oleh 21 negara anggota, termasuk Iran di dalamnya. Meski begitu, dalam beberapa tahun belakangan, praktis hanya tujuh negara inti yang memegang kendali atas manajemen produksi minyak bulanan.
Ketujuh negara ini menakhodai pemulihan bertahap atas pemangkasan produksi sebesar 1,65 juta bph yang disepakati pada tahun 2023 sewaktu Uni Emirat Arab masih tergabung di dalam kelompok.
Uni Emirat Arab sendiri memilih hengkang dari OPEC+ pada pengujung April 2026 demi menyelaraskan kapasitas produksi domestiknya tanpa terikat oleh regulasi pembatasan dari aliansi.
Melalui formula kalkulasi Reuters yang dilansir CNBC, sesudah mengalkulasi absennya Uni Emirat Arab sejak 1 Mei 2026, blok tujuh negara inti ini masih mengantongi sisa sekitar 379.000 bph dari kebijakan pemotongan tahun 2023 yang belum dilepas kembali ke pasar.
Dengan disahkannya penambahan volume untuk Agustus ini, kebijakan pemotongan produksi tersebut diprediksi bakal sepenuhnya tuntas dipulihkan apabila pada forum berikutnya OPEC+ kembali menggulirkan kenaikan dengan volume yang setara.
Pertemuan Berikutnya pada 2 Agustus 2026
OPEC mengonfirmasi bahwa ketujuh negara pilar utama tersebut dijadwalkan menggelar pertemuan lanjutan pada 2 Agustus 2026 guna merumuskan batas produksi untuk periode September 2026.
Agenda tersebut juga bakal dimanfaatkan untuk meninjau situasi pasar minyak global, memantau rapor kepatuhan tiap-tiap negara terhadap pakta produksi, serta mematangkan skema kompensasi bagi negara yang memproduksi minyak melampaui batasan kuota.