Harga Minyak Dunia Turun, Pasokan Melimpah dan OPEC+ Naikkan Produksi

Iustrasi Kilang Minyak (Foto: Pexels)
Penulis: Ibtihal
Selasa, 07 Juli 2026 | 09:56:02 WIB

NEW YORK – Nilai komoditas minyak mentah global berakhir melemah pada sesi perdagangan Senin (6/7/2026) waktu setempat akibat lonjakan volume pasokan dari jajaran negara produsen utama serta normalisasi aktivitas ekspor lewat Selat Hormuz. 

Situasi ini mengembalikan posisi harga minyak ke tingkat sebelum terjadinya konflik Iran yang sempat mengacaukan sektor energi internasional.

Melalui data yang dihimpun Reuters, minyak varian Brent ditutup menyusut 0,2% ke angka US$ 71,99 per barel, sementara jenis West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi sebesar 0,2% menuju posisi US$ 68,55 per barel.

Fluktuasi ini mempertegas kelanjutan arah penurunan harga minyak sepanjang satu bulan terakhir, usai sempat melambung melampaui US$ 126 per barel pada April lalu dipicu ketegangan Iran yang mendatangkan disrupsi suplai energi paling masif dalam sejarah kontemporer, mengacu pada laporan International Energy Agency (IEA).

Analis dari UBS, Giovanni Staunovo, menyebutkan bahwa beban terhadap nilai minyak masih didominasi oleh penambahan stok global menyusul kembalinya armada kapal tanker yang sempat mandek untuk mengangkut minyak dari teritori Teluk.

"Minyak yang kembali mengalir ke pasar membuat pasokan di laut meningkat dan menjadi tekanan bagi harga," ujarnya.

Arah negatif juga dipicu oleh kebijakan Arab Saudi yang menurunkan harga jual resmi (OSP) minyak jenis Arab Light ke wilayah Asia untuk periode Agustus sebesar US$ 1,50 per barel di bawah nilai rata-rata Oman/Dubai. 

Kebijakan diskon ini merupakan yang paling radikal sejak catatan data Reuters dimulai pada 2003. Di samping itu, Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) dikabarkan turut menyodorkan minyak mentah lewat sistem tender dengan potongan harga.

Direktur Energy Futures di Mizuho, Robert Yawger, berpandangan bahwa strategi dari negara-negara Teluk tersebut mengindikasikan rivalitas tarif yang kian sengit. "Semakin terlihat bahwa produsen di kawasan Teluk sedang bersiap menghadapi perang harga," katanya.

Sentimen yang menekan nilai jual juga menguat setelah aliansi OPEC+ menyepakati penambahan target output sebesar 188.000 barel per hari per Agustus mendatang. 

Angka ini meneruskan kebijakan penambahan volume produksi yang sudah dirilis untuk periode Juni dan Juli.

Di luar lingkup OPEC+, Uni Emirat Arab (UEA) pun memacu level produksinya hingga menyentuh rekor tertinggi baru, melampaui 3,8 juta barel per hari pada Juni pasca-mundur dari OPEC demi menghindari regulasi pembatasan kuota produksi.

Kendati volume ketersediaan barang terus meroket, para pelaku industri masih memantau secara ketat dinamika relasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, khususnya menyangkut proteksi pelayaran komersial di kawasan Selat Hormuz, rute vital bagi sekitar seperlima distribusi minyak dunia.

Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan bahwa Washington akan mencapai kesepakatan dengan Iran atau mengambil langkah yang lebih tegas apabila diplomasi gagal. Statemen ini mengemuka setelah dialog tidak langsung antar-kedua negara pada minggu lalu masih buntu tanpa ada perkembangan signifikan menuju stabilitas jangka panjang.

Di sudut lain, friksi geopolitik tetap membayangi pergerakan pasar. Pihak militer Ukraina memberikan konfirmasi atas serangan terhadap kilang minyak terbesar milik Rusia yang berlokasi di Omsk serta beberapa infrastruktur energi strategis lainnya.

Pada waktu bersamaan, rilis data Departemen Energi AS memperlihatkan stok minyak mentah pada Strategic Petroleum Reserve (SPR) menyusut 6,2 juta barel menjadi tinggal 319,5 juta barel, capaian paling rendah sejak April 1983.

Informasi kondusif berembus dari sektor logistik maritim global. Dua raksasa pelayaran internasional, Maersk dan Hapag-Lloyd, dilaporkan mulai mengoperasikan kembali armada mereka melewati Terusan Suez seiring membaiknya proteksi keamanan. 

Koridor pelayaran ini sebelumnya dihindari akibat aksi agresi kelompok Houthi di area Laut Merah, dan pemulihan rute ini diproyeksikan memangkas durasi distribusi barang koridor Asia-Eropa hingga empat minggu.

Reporter: Ibtihal