Terbelah Dua Kasta, Harga Batu Bara Melemah di Tengah Kabar Baik

ilustrasi harga batu bara. (Foto: net)
Penulis: Ibtihal
Selasa, 07 Juli 2026 | 11:03:12 WIB

JAKARTA - Nilai jual komoditas batu bara merosot selama empat hari secara berturut-turut kendati sedang dihujani oleh sentimen positif yang melimpah. 

Mengacu pada data Refinitiv, nilai jual batu bara pada sesi perdagangan Senin (6/7/2026) disudahi pada angka US$ 128,25 per ton. Tingkat harganya terpangkas 0,58%.

Tren pelemahan ini memperpanjang catatan negatif pergerakan komoditas batu bara yang tercatat sudah menyusut sebesar 0,93% sepanjang empat hari beruntun.

Nilai jual batu bara menderita pelemahan kendati diselimuti banyak kabar baik. Tingkat harga batu bara saat ini pun terpantau masih terpecah, yang mana produk jenis kokas mengalami penguatan sedangkan untuk jenis termal justru meluncur turun.

Volume pengapalan batu bara untuk beraneka rupa keperluan dari Pelabuhan Gladstone di kawasan Queensland, Australia timur laut, menyentuh angka 6,36 juta ton sepanjang Juni 2026. 

Nominal ini menjadi rekor volume ekspor bulanan paling tinggi di sepanjang paruh pertama tahun ini, merujuk pada rilis data paling gres dari Gladstone Ports Corporation (GPC).

Menyitir publikasi Mysteel Global, produk batu bara jenis kokas menyumbang porsi berkisar 70% dari akumulasi total arus keluar-masuk batu bara yang melalui Pelabuhan Gladstone, menjadikannya sarana pintu ekspor utama bagi komoditas batu bara yang ditambang pada area pertambangan Queensland bagian tengah.

Andai dikomparasikan dengan Mei, kapasitas pengapalan pada bulan Juni melonjak drastis hingga 41%, sementara itu dalam basis tahunan terkerek naik 13,6% jika disandingkan dengan Juni tahun yang lalu.

Volume ekspor batu bara dari wilayah Pelabuhan Gladstone menuju Jepang sepanjang Juni melonjak tajam 46% dibanding bulan sebelumnya dan terkerek naik 27% dibandingkan fase yang sama tahun lalu menuju angka 2,24 juta ton. Akumulasi volume tersebut bertindak selaku catatan tertinggi semenjak November 2022.

Pada waktu yang sama, arus ekspor batu bara dari Australia ke China lewat pintu pelabuhan terkait meroket 71% secara bulanan serta naik 5,5% secara tahunan menuju angka 576.221 ton, yang sekaligus menjadi rekor volume bulanan paling masif di sepanjang tahun ini.

Di fase awal Juni, gairah dari para pembeli asal China terhadap komoditas batu bara Australia terangkat tajam pasca terjadinya fenomena kelangkaan mendadak pada pasokan batu bara kokas domestik yang memicu lonjakan harga.

Sejumlah area pertambangan di China diinstruksikan guna menghentikan aktivitas operasional demi menjalani proses inspeksi keselamatan semenjak penghujung Mei, menyusul insiden ledakan fatal pada sebuah tambang bawah tanah di wilayah Provinsi Shanxi, China utara.

Tambang Blackwater, yang kepemilikan mayoritas sahamnya dikuasai oleh entitas korporasi Australia Whitehaven Coal Limited, umumnya menyalurkan produk batu baranya melewati jalur perkeretaapian menuju Pelabuhan Gladstone untuk keperluan ekspor.

Di antara jajaran destinasi ekspor utama lainnya, pengapalan produk batu bara ke India menyentuh angka 1,16 juta ton sepanjang Juni, terangkat naik 11,5% dibandingkan Mei, namun merosot 26% andai disandingkan dengan Juni tahun lalu.

Sementara itu, aktivitas ekspor ke Korea Selatan menyusut 10,4% dalam basis bulanan menjadi 1,29 juta ton. Kendati demikian, apabila dikomparasikan dengan periode yang sama tahun lalu, kapasitas volume ekspor menuju Korea Selatan terpantau masih meroket sebesar 52%.

Secara makro, sepanjang periode Januari-Juni 2026, akumulasi total ekspor komoditas batu bara melalui pintu Pelabuhan Gladstone menyentuh angka 33,27 juta ton, alias bertumbuh 10,5% jika disandingkan dengan paruh pertama tahun kemarin.

El Nino Picu Permintaan Batu Bara

Gejala cuaca Super El Niño pada tahun ini diprediksi bakal memacu lonjakan volume permintaan pasokan listrik berbasis bahan bakar batu bara di wilayah India sepanjang 12 bulan ke depan. 

Situasi tersebut dipicu oleh potensi defisit ketersediaan pasokan listrik imbas temperatur suhu yang lebih tinggi, mengacu pada publikasi laporan institusi riset yang berpusat di Finlandia, Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) yang dirilis pada hari Senin.

Berdasarkan analisis CREA, El Niño bakal berimbas terhadap pelbagai sistem energi di seluruh penjuru dunia. Walakin, dampak paling masif diperkirakan bakal dirasakan oleh negara India.

Gejala fenomena El Niño yang jamak diidentikkan dengan laju kecepatan angin yang lebih rendah serta volume curah hujan yang menyusut diproyeksikan bakal menekan kapasitas produksi energi listrik dari tenaga angin serta tenaga air di India. 

Konsekuensinya, bakal muncul celah defisit pasokan listrik yang kemungkinan besar bakal ditutupi lewat langkah akselerasi pembangkitan listrik berbahan bakar batu bara.

"Jika penurunan produksi energi terbarukan dikombinasikan dengan meningkatnya permintaan listrik, India berpotensi menghadapi kesenjangan pembangkitan listrik hampir 18 terawatt-hour (TWh)," tulis para analis CREA dalam laporannya, dikutip dari Reuters.

Skema yang paling rasional saat ini merupakan lonjakan pada aktivitas pembangkitan listrik berbasis komoditas batu bara, yang dikalkulasikan bakal melepaskan berkisar 17 juta ton emisi CO?.

Bertindak selaku importir sekaligus pemakai komoditas batu bara paling masif nomor dua di dunia pasca China, India masih teramat menggantungkan diri pada batu bara meskipun kapasitas energi terbarukannya tengah melaju pesat. 

Kehadiran Super El Niño dinilai mampu memperkuat basis alasan India untuk tetap melestarikan pemanfaatan batu bara sebagai instrumen sumber energi utama.

Secara menyeluruh, proses pembangkitan listrik beserta ekspansi kapasitas unit pembangkit berbahan bakar batu bara di wilayah India terus merangkak naik. 

Batu bara masih bertindak selaku tulang punggung bagi sistem kelistrikan di negara tersebut dengan menyumbang porsi berkisar 60% dari akumulasi total produksi listrik nasional.

Kendati proses pembangunan unit pembangkit energi terbarukan melaju kencang, India tetap menyandarkan diri pada batu bara demi memenuhi sebagian besar pos kebutuhan konsumsi listriknya.

Pihak otoritas pemerintah juga berupaya keras mengeliminasi risiko terjadinya pemadaman listrik, terkhusus di saat fenomena gelombang panas ekstrem mendongkrak volume konsumsi energi.

Penasihat energi pada lembaga kajian kebijakan otoritas pemerintah India, NITI Aayog, Rajnath Ram, pada penghujung tahun kemarin memaparkan bahwa komoditas batu bara dinilai masih akan memegang peranan krusial dari sistem kelistrikan India sepanjang dua dekade mendatang.

"Pertanyaannya adalah bagaimana kami dapat memanfaatkannya secara lebih berkelanjutan," ujarnya.

Pengiriman Batu Bara ke China Turun

Volume kedatangan komoditas batu bara melalui jalur kereta api menuju ke pelabuhan-pelabuhan utama di wilayah China utara pada 6 Juli 2026 merosot sebesar 18,63% dibandingkan capaian hari sebelumnya.

Penyusutan pasokan transportasi kereta merefleksikan berkurang digulirkannya pengiriman dari area pertambangan utama layaknya Shanxi, Shaanxi, serta Inner Mongolia menuju area pelabuhan ekspor domestik.

Bilamana volume kedatangan moda kereta secara kontinu berada di bawah level pemuatan kapal, maka persediaan komoditas batu bara di area pelabuhan berisiko menyusut.

 Keadaan ini lumrah bertindak selaku faktor pendorong bagi tingkat harga batu bara domestik China.

Walakin andai tingkat permintaan dari pihak pembangkit listrik terpantau masih lesu, maka dampak terhadap pergerakan harga berkecenderungan minim.

Sebaliknya, sektor pasar batu bara termal pada area pertambangan China terpantau masih berada di bawah bayang-bayang tekanan pada 6 Juli, lantaran belum menonjolkan adanya perbaikan riil pada fundamental aspek permintaan maupun pasokan. 

Stok persediaan batu bara pada unit pembangkit listrik masih tinggi, sementara itu kondisi cuaca yang relatif tidak terlalu terik menahan volume konsumsi listrik.

Faktor pemicu utama harga bergerak melemah ialah level konsumsi batu bara pada unit pembangkit listrik terpantau masih berada di bawah catatan tahun lalu. 

Pada 3 Juli, tingkat konsumsi harian dari enam grup pembangkit listrik pesisir utama terdata berkisar 786.300 ton, alias menyusut 7,3% andai disandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Sektor produksi listrik tenaga air (PLTA) terpantau stabil tinggi imbas intensitas curah hujan yang melimpah pada area Sungai Yangtze. 

Di samping itu, hujan yang disebabkan oleh sisa-sisa pergerakan Topan Maysak di pelbagai provinsi bagian selatan ikut mendongkrak performa pembangkitan listrik dari PLTA, alhasil memangkas porsi kebutuhan terhadap unit pembangkit listrik tenaga batu bara.

Berbekal volume stok batu bara yang melimpah, pihak pembangkit listrik lebih condong mengoptimalkan pemenuhan kebutuhan lewat skema kontrak jangka panjang, sementara untuk aktivitas pembelian pada pasar spot hanya dieksekusi demi pemenuhan kebutuhan yang mendesak. 

Sektor industri kimia serta kokas juga terpantau hanya mengeksekusi pembelian selaras dengan kebutuhan lantaran margin perolehan laba yang tipis.

Reporter: Ibtihal