Harga Minyak Dunia Melonjak 3 Persen Imbas Konflik Baru AS-Iran

Ilustrasi harga minyak mentah dunia naik. (Foto: AdobeStock)
Penulis: Ibtihal
Rabu, 08 Juli 2026 | 09:53:47 WIB

NEW YORK - Nilai jual minyak global meroket kisaran 3 persen pada penutupan sesi perdagangan Selasa (7/7/2026) waktu setempat atau Rabu (8/7/2026) pagi WIB, seiring memanasnya kembali gesekan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. 

Kenaikan harga ini dipicu oleh aksi penyerangan Iran terhadap tiga armada kapal dagang di kawasan Selat Hormuz, yang kemudian dibalas AS lewat pencabutan izin umum (general license) untuk perdagangan minyak mentah Iran sekaligus peluncuran aksi militer anyar ke teritori Iran. 

Berdasarkan laporan Reuters, nilai minyak mentah Brent terkoreksi naik 2,17 dollar AS atau 3,01 persen ke angka 74,16 dollar AS per barrel. 

Di sisi lain, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menanjak 1,89 dollar AS atau 2,76 persen ke posisi 70,44 dollar AS per barrel.

Pasca-penutupan perdagangan resmi, tren penguatan harga minyak didapati masih berlanjut. Nilai Brent kembali mendaki ke level 75,88 dollar AS per barrel, diikuti WTI yang merangkak naik ke posisi 72,20 dollar AS per barrel. 

Kedua patokan kontrak tersebut terpantau melonjak di atas 5 persen jika disandingkan dengan hasil penutupan pada hari sebelumnya.

Otoritas AS resmi membekukan lisensi umum yang mulanya memperbolehkan transaksi minyak Iran, menyusul aksi Teheran yang menyerang tiga kapal niaga kala melintasi Selat Hormuz. 

Guna menyikapi gempuran itu, Komando Pusat Militer AS mengonfirmasi telah melepaskan rentetan serangan balasan ke wilayah Iran.

Direktur perdagangan energi berjangka Mizuho, Bob Yawger, berpandangan bahwa dinamika terkini memperlihatkan eskalasi gesekan yang kian meruncing dibanding nota kesepahaman yang sempat disepakati kedua belah pihak terdahulu.

"Jelas hari ini merupakan babak baru yang menjauh dari nota kesepahaman," ujar Yawger.

Dirinya menyebutkan, belum dapat dipastikan secara terang apakah pergerakan Iran tersebut bermaksud mengukuhkan dominasi atas Selat Hormuz atau sekadar unjuk kekuatan di tengah momen berkabung nasional atas meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Pada Juni kemarin, AS bersama Iran sejatinya telah menyepakati nota kesepahaman demi mengakhiri konflik bersenjata sekaligus memulihkan jalur pelayaran di Selat Hormuz. 

Direktur energi dan pengilangan ICIS, Ajay Parmar, menilai konstelasi terkini menjadi bukti nyata bahwa kesepakatan damai kedua negara tersebut masih sangat ringkih.

"Ini menunjukkan betapa rapuhnya gencatan senjata yang ada. Serangan lanjutan dapat kembali muncul sewaktu-waktu dalam beberapa bulan ke depan dan akan semakin meningkatkan volatilitas pasar," ujarnya.

Ia mengimbuhkan bahwa gertakan Iran untuk menutup kembali akses Selat Hormuz saja sudah cukup memicu lonjakan nilai minyak yang masif.

"Jika Iran kembali mengancam menutup Selat Hormuz, harga minyak akan melonjak tajam. Karena itu kami meyakini volatilitas pasar akan tetap berlangsung," kata Parmar.

Sementara itu, berdasar kacamata Analis UBS Giovanni Staunovo, meningginya tensi geopolitik di Timur Tengah berisiko menghambat laju ekspor komoditas minyak dari wilayah bersangkutan.

"Ketegangan baru di Timur Tengah dan kekhawatiran atas serangan terhadap kapal dapat menekan ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah," ujar Staunovo.

Para pelaku pasar terus memantau jalannya diplomasi antara AS dan Iran terkait arah kelanjutan relasi kedua negara beserta imbasnya pada aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, sebuah jalur krusial yang sebelum konflik meletus dilewati oleh sekitar seperlima pasokan minyak bumi serta gas alam cair (LNG) global tiap harinya.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran menegaskan bahwasanya proses negosiasi guna mencapai mufakat akhir tidak akan bergulir sepanjang intimidasi dari pihak AS masih terus ditiupkan. 

Reaksi keras tersebut mencuat usai Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman bakal "menuntaskan persoalan" seandainya konsensus tidak kunjung dirampungkan dalam waktu dekat.

Di luar isu panas Timur Tengah, pelaku pasar turut mengamati kelanjutan konflik bersenjata antara Rusia dan Ukraina. 

Pihak militer Ukraina mengklaim armada pesawat tanpa awak (drone) milik mereka berhasil menggempur 8 unit kapal tanker yang masuk bagian "shadow fleet" Rusia, yang dialokasikan untuk mengirim pasokan bahan bakar ke Crimea demi menghindari sanksi negara-negara Barat.

Sementara itu, kompilasi data American Petroleum Institute (API) memperlihatkan stok minyak mentah domestik AS merosot sekitar 399.000 barrel pada pekan lalu. 

Publik kini tengah menanti rilis laporan resmi pasokan minyak dari Energy Information Administration (EIA) AS yang dijadwalkan meluncur pada Rabu waktu setempat.

Reporter: Ibtihal