Status Emerging Markets RI Kokoh, 11 Saham Penuhi Syarat MSCI

Ilustrasi bursa efek Indonesia (BEI). (Foto: SHUTTERSTOCK)
Penulis: Ibtihal
Rabu, 08 Juli 2026 | 13:49:54 WIB

JAKARTA - Rumor yang menyatakan Indonesia berpeluang merosot dari kelompok Emerging Markets (EM) ke Frontier Market (FM) dianggap tidak mempunyai landasan yang kokoh. 

Pengamat pasar modal Hans Kwee mengungkapkan, merujuk pada MSCI Market Classification Review yang diterbitkan pada Juni 2026, posisi Indonesia tetap dijaga sebagai bagian dari golongan Emerging Markets.

"Kalau kami pelajari dokumen MSCI, sebenarnya tidak ada dasar yang kuat untuk menyebut Indonesia akan turun ke Frontier Market," ujar Hans dalam keterangannya, Rabu (8/7/2026).

Hans menerangkan, demi bertahan di dalam kelompok Emerging Markets, sebuah negara wajib mempunyai sekurang-kurangnya tiga saham yang lolos kriteria MSCI, yaitu dari aspek skala korporasi, kapitalisasi pasar berbasis free float, dan juga likuiditas transaksi. 

Untuk klasifikasi EM, ketetapan minimumnya meliputi kapitalisasi pasar emiten berkisar US$ 3,9 miliar, kapitalisasi pasar free float berkisar US$ 1,9 miliar, beserta level likuiditas paling sedikit 15% merujuk pada Annualized Traded Value Ratio (ATVR).

Menurut Hans, saat ini ada sekitar 11 saham di Bursa Efek Indonesia yang sudah meloloskan seluruh kriteria tersebut.

"Artinya, meskipun ada beberapa saham yang keluar dalam penyesuaian indeks MSCI pada Agustus 2026, jumlah saham yang memenuhi syarat masih jauh di atas batas minimum," jelasnya.

Oleh sebab itu, dia beranggapan kecemasan terkait Indonesia bakal didegradasi ke kelompok Frontier Market tidak disokong oleh keadaan pasar saat ini.

Walau begitu, Hans membenarkan bahwa MSCI tetap memberlakukan status freeze terhadap Indonesia. Menurut pandangannya, perkara tersebut lebih condong berkaitan dengan tahapan penyelarasan data pascareformasi pasar modal yang dijalankan oleh regulator.

"MSCI kemungkinan masih menggunakan dan menyesuaikan data baru Indonesia yang kini lebih lengkap dan transparan, sehingga membutuhkan waktu untuk dianalisis lebih lanjut," katanya.

Dia mengimbuhkan, pembaharuan data, layaknya perbaikan klasifikasi investor serta peningkatan keterbukaan kepemilikan saham, bakal menyajikan basis analisis yang lebih menyeluruh bagi MSCI di masa yang akan datang.

Pada aspek lain, Hans memandang sentimen pada pasar saham Indonesia pun mulai berangsur pulih sejalan dengan meredanya tensi geopolitik dunia. 

Menurut dia, capaian perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang dilanjutkan dengan pengoperasian kembali Selat Hormuz telah mendongkrak suplai minyak dunia sekaligus memicu merosotnya harga minyak global.

Bukan hanya itu, tatanan pasar minyak pun berganti dari backwardation menuju contango, yang memperlihatkan menyusutnya kecemasan pasar atas risiko hambatan pasokan dalam kurun pendek.

"Sebagai net importir minyak, penurunan harga minyak akan mengurangi tekanan terhadap APBN, memperbaiki neraca perdagangan, serta menopang daya beli masyarakat," ujar Hans.

Dia mengukur, perpaduan antara aspek domestik serta global ini berpeluang menekan bobot tekanan pada pasar saham Indonesia untuk beberapa waktu mendatang.

Reporter: Ibtihal