Harga Bitcoin Ambruk ke USD 62.082 Akibat Geopolitik dan Tekanan Jual
NEW YORK – Pergerakan harga Bitcoin (BTC) kembali mengalami tekanan pada sesi perdagangan Kamis (9/7/2026) pagi.
Kondisi ini dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta kecemasan pasar yang kian membesar terkait potensi pelepasan Bitcoin dalam jumlah masif oleh perusahaan pemegang aset tersebut, Strategy.
Berdasarkan laporan CoinTelegraph, situasi tersebut memicu gelombang penghindaran risiko (risk-off) di kalangan pelaku pasar, sekaligus memperbesar peluang BTC untuk kembali menguji level psikologis di angka US$ 60.000.
Data dari CoinMarketCap pada pukul 07.35 WIB menunjukkan kapitalisasi pasar kripto secara global merosot 1,71% menjadi US$ 2,15 triliun dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Di saat yang sama, nilai Bitcoin hari ini terpantau anjlok 2,32% menuju level US$ 62.082,74 per koin, atau berkisar Rp 1,12 miliar (mengacu pada kurs Rp 18.075 per dolar AS).
Penurunan juga melanda Indeks CoinDesk 20 yang mengukur performa 20 aset kripto papan atas, dengan koreksi sebesar 2,2%. Sementara itu, Ethereum meluncur turun 2,25% ke posisi US$ 1.737, dan Binance (BNB) ikut terdepresiasi 1,67% ke level US$ 567.
Kemerosotan Bitcoin ini terjadi pasca-kegagalan aset tersebut untuk menembus batas US$ 64.500 pada awal pekan. Kondisi ini berbanding terbalik dengan indeks Nasdaq yang sanggup memulihkan sebagian kerugiannya, sementara Bitcoin justru terus melemah dan kesulitan untuk bangkit dari zona US$ 62.000.
Situasi tersebut mengindikasikan adanya beban tambahan yang menghimpit pasar kripto di luar sentimen makroekonomi biasa.
Salah satu faktor penggeraknya adalah lonjakan harga minyak mentah Brent yang merangkak naik ke kisaran US$ 74 per barel dari posisi US$ 68 pada minggu lalu.
Kenaikan harga komoditas energi ini dipicu oleh keretakan hubungan diplomatik AS-Iran setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan kesepakatan temporer dengan pihak Teheran telah berakhir.
Ketegangan di ranah geopolitik ini mempertinggi risiko inflasi global, yang pada gilirannya mempersempit ruang bagi The Fed untuk memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
Merujuk pada data pasar terkini, para pelaku pasar sekarang memproyeksikan peluang kenaikan suku bunga AS pada September mendatang mencapai 69%, melonjak drastis dari angka 42% pada bulan sebelumnya.
Iklim suku bunga tinggi umumnya menjadi katalis negatif untuk instrumen investasi berisiko tinggi. Hal ini termasuk Bitcoin, yang hingga saat ini dinilai belum terbukti menjadi aset lindung nilai (safe haven) yang efektif melawan inflasi.
Sentimen negatif bagi Bitcoin pun diperparah oleh kecemasan pasar atas potensi divestasi aset kripto oleh perusahaan investasi Strategy.
Pihak manajemen pada hari Senin mengumumkan penjualan Bitcoin senilai US$ 216 juta, di luar dari program monetisasi senilai US$ 1,25 miliar yang telah dipublikasikan sebelumnya.
Keputusan tersebut mengejutkan pelaku pasar dan memicu spekulasi bahwa Strategy bakal terus melego sebagian portofolio Bitcoin mereka untuk mengelola kewajiban utang serta struktur permodalan perusahaan.
Sebagai informasi, perusahaan tercatat memikul kewajiban pembayaran dividen tahunan sebesar US$ 1,76 billion serta utang konversi yang menembus US$ 3,8 miliar, dengan tenggat jatuh tempo perdana sebelum April 2027.
Psikologis pasar juga ikut terbebani oleh tingginya ketidakpastian situasi ekonomi global. Di Jepang, tingkat imbal hasil obligasi pemerintah untuk tenor 30 tahun melesat ke level tertinggi dalam tiga dekade terakhir lantaran munculnya keraguan terhadap independensi bank sentral mereka.
Sementara itu, Presiden Trump turut memicu friksi baru dengan melontarkan ancaman akan memutuskan hubungan dagang AS dengan Spanyol. Langkah ini diambil karena negara tersebut dianggap lalai dalam memenuhi target komitmen belanja pertahanan NATO.
Melihat dari sektor regulasi, bank sentral India dikabarkan tengah menggodok kebijakan yang lebih ketat terhadap aset kripto.
Regulasi ini mencakup larangan bagi sektor perbankan untuk memiliki eksposur pada aset virtual guna memitigasi risiko terhadap stabilitas keuangan negara.
Rentetan kabar miring dan sentimen negatif ini memaksa para pelaku pasar bergerak lebih defensif, sekaligus memperlebar risiko bagi Bitcoin untuk kembali menguji tingkat batas bawah (support) di posisi US$ 60.000 dalam jangka pendek.