Usai Ambruk 5 Hari, Harga Batu Bara Melesat ke USD 130,85 per Ton

Ilustrasi batu bara. (Sumber: Bloomberg)
Penulis: Ibtihal
Kamis, 09 Juli 2026 | 10:25:08 WIB

JAKARTA - Tren penurunan harga batu bara akhirnya terhenti dan berbalik menguat setelah sempat terpuruk selama lima hari berturut-turut.

Berdasarkan data Refinitiv, pada sesi perdagangan Rabu (8/7/2026), harga batu bara ditutup menguat di level US$ 130,85 per ton. Nilai komoditas ini melesat sebesar 2,27%.

Posisi penutupan tersebut menjadi yang tertinggi sejak 23 Juni 2026.

Melalui lonjakan ini, batu bara berhasil keluar dari tren negatif setelah sebelumnya sempat terdepresiasi sebesar 1,2% dalam kurun waktu lima hari beruntun.

Akselerasi harga batu bara ini didorong oleh faktor pergerakan harga minyak mentah dunia serta tingginya tingkat permintaan.

Pada sesi perdagangan Rabu kemarin, harga minyak kontrak berjangka Brent meroket 5,43% ke level US$ 78,19 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) ikut menguat 4,37% menuju US$ 73,52 per barel.

Minyak bumi dan batu bara merupakan dua komoditas energi yang memiliki keterkaitan erat lantaran perannya yang bisa saling menggantikan (substitusi).

Di sisi lain, minat pasar terhadap batu bara terpantau masih sangat besar.

Melansir laporan Reuters, pemerintah Vietnam saat ini sedang mengkaji opsi untuk menambah pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara demi menjamin stabilitas pasokan energi di dalam negerinya.

Kebijakan tersebut dipertimbangkan seiring dengan pecahnya perang Iran yang mempersulit pengerjaan proyek infrastruktur gas alam cair (LNG) di negara jiran tersebut.

Sebagai salah satu pusat industri manufaktur utama di kawasan Asia Tenggara, Vietnam terus berupaya mendongkrak kapasitas produksinya guna menyokong pertumbuhan ekonomi yang bergerak cepat. Meski demikian, mereka juga tetap memberikan perhatian pada porsi bauran energi terbarukan dan LNG.

Kendati demikian, pihak otoritas Vietnam mengakui bahwa ketegangan yang terus berkecamuk di wilayah Timur Tengah telah mengganggu stabilitas distribusi pasokan LNG.

"Dalam beberapa waktu terakhir, konflik yang berkembang di Timur Tengah telah memengaruhi keamanan pasokan LNG, sehingga muncul kebutuhan untuk memperkuat ketahanan energi," kata pemerintah Vietnam dalam pernyataannya pada Rabu (8/7/2026).

Oleh sebab itu, pemerintah membuka opsi untuk merombak bauran energi pada Rencana Pengembangan Ketenagalistrikan Nasional dengan memperbesar kapasitas pembangkit yang menggunakan bahan bakar batu bara.

Pada strategi awal, Vietnam memproyeksikan kepemilikan pembangkit listrik berbasis LNG dengan total kapasitas kumulatif mencapai 22,5 gigawatt (GW) hingga tahun 2030 mendatang.

Namun sampai dengan saat ini, progres realisasinya baru menyentuh kisaran 7,3% dari target yang dicanangkan. Mandeknya proyek ini dipicu oleh kendala regulasi domestik serta rendahnya ketertarikan dari para investor. 

Hambatan tersebut kian diperparah oleh perang Iran yang memicu kekhawatiran atas pasokan gas cair.

Dalam peta jalan yang saat ini berjalan, Vietnam menargetkan kapasitas terpasang listrik nasional menyentuh 183-236 GW pada 2030. Merujuk target itu, PLTU batu bara diproyeksikan mengisi porsi 13,1%-16,9% dari bauran energi, sedangkan instrumen LNG kebagian jatah 9,5%-12,3%.

Merujuk pada data perusahaan listrik negara Vietnam (EVN), volume produksi energi listrik sepanjang semester I-2026 menembus 171,5 miliar kilowatt-jam (kWh), atau tumbuh 9,8% secara tahunan (YoY). 

Dari bauran total produksi tersebut, sebesar 54,5% pasokan utamanya masih ditopang oleh pembangkit listrik berbahan bakar batu bara.

Dari dalam negeri, volume pengapalan batu bara Indonesia lewat jalur laut terpantau menyusut pada Juni 2026 hingga kembali jatuh ke bawah level 40 juta ton. 

Walau demikian, performa ekspor ini dinilai masih jauh lebih mumpuni jika dibandingkan dengan pencapaian pada periode yang sama tahun lalu.

Merujuk pada data pelacakan kapal yang dirilis Kpler, total ekspor komoditas batu bara Indonesia sepanjang Juni berada di angka 39,22 juta ton. Angka ini melonjak 17,04% dibanding capaian Juni 2025 yang hanya sebesar 33,51 juta ton.

 Namun jika disandingkan secara bulanan (MoM), performa ekspor ini terkoreksi 1,97% dari posisi Mei 2026 yang sempat menyentuh 40,01 juta ton.

Pengiriman menuju pasar Asia mendominasi dengan volume 38,65 juta ton, atau merepresentasikan sekitar 98,5% dari total keseluruhan ekspor. Hasil tersebut tumbuh 15,08% secara tahunan, namun melemah 2,59% dibanding performa bulan Mei.

Tiongkok mantap berdiri sebagai negara tujuan utama bagi komoditas batu bara asal Indonesia dengan serapan mencapai 16,52 juta ton. Jumlah ini melesat hingga 50,79% secara tahunan, meskipun tipis melorot 2,54% dari pencapaian bulan sebelumnya.

Sementara itu, volume pengapalan ke India berada di angka 6,49 juta ton, atau terkoreksi 9,31% secara tahunan namun berhasil naik 4,37% secara bulanan. 

Di sisi lain, distribusi ekspor ke Filipina merangkak naik ke posisi 3,32 juta ton, diikuti Vietnam sebesar 2,58 juta ton, dan Malaysia yang menyerap 2,37 juta ton.

Secara akumulatif, total pengiriman batu bara Indonesia di sepanjang semester I-2026 menembus 227 juta ton, atau sedikit terkoreksi 0,44% dari periode yang sama tahun lalu. 

Sebaliknya, volume ekspor menuju pasar Tiongkok selama paruh pertama tahun ini justru terkerek naik 6,21% menjadi 87,49 juta ton.

Kondisi perdagangan batu bara termal di wilayah mulut tambang Tiongkok terpantau masih stagnan, meskipun terdapat beberapa korporasi tambang yang mencoba mengerek harga dalam skala terbatas.

Minimnya tingkat penyerapan dari konsumen membuat pergerakan harga batu bara di area mulut tambang terus berada dalam tekanan.

Tingkat cadangan batu bara di sejumlah pembangkit listrik dilaporkan masih melimpah, sementara volume pemakaian listrik domestik belum cukup masif untuk menguras sisa stok yang ada. 

Tingkat penyerapan batu bara harian pada enam grup pembangkit listrik pesisir utama Tiongkok berada di angka 786.300 ton per hari, menyusut 7,3% dari tahun lalu.

Melonjaknya pasokan dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang dipicu oleh curah hujan ekstrem di sepanjang Sungai Yangtze serta dampak dari Topan Maysak turut memangkas urgensi penggunaan pembangkit berbasis batu bara.

Lantaran ketersediaan stok yang masih melimpah, pihak pembangkit listrik cenderung memprioritaskan pemenuhan pasokan dari kontrak jangka panjang dan hanya akan masuk ke pasar spot jika mendesak. Kondisi ini membuat tingkat permintaan di pasar spot terus melemah.

Imbasnya, tumpukan stok batu bara di area tambang kian menggunung sehingga memaksa sejumlah korporasi tambang melakukan diskon harga demi menstimulasi penjualan. 

Di kawasan Ordos (Inner Mongolia), harga batu bara terpangkas 10-20 yuan/ton, sementara pemotongan nilai jual juga melanda wilayah Yulin (Shaanxi) serta Shanxi.

Reporter: Ibtihal