Kurs Rupiah Loyo ke Rp18.101 Dipicu Beban Fiskal dan Tensi Global

Ilustrasi kurs dolar AS terhadap rupiah. (Foto: Bloomberg)
Penulis: Ibtihal
Jumat, 10 Juli 2026 | 11:38:07 WIB

JAKARTA - Nilai tukar mata uang garuda terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau kembali mengalami koreksi. 

Melansir data Bloomberg, Kamis (9/7/2026) pada pukul 12.05 WIB, posisi rupiah di pasar spot merosot sebesar 0,48% menuju level Rp 18.101 per dolar AS. 

Pada hari sebelumnya, Rabu (8/7/2026), mata uang rupiah di pasar spot juga sudah ditutup melemah sebesar 0,19% secara harian ke posisi Rp 18.014 per dolar AS.

Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi, memaparkan bahwa penurunan nilai tukar rupiah ini turut dipicu oleh sentimen dari defisit fiskal domestik. 

Berdasarkan data yang dirilis, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sepanjang Semester I-2026 membukukan defisit hingga Rp 196,5 triliun, atau setara dengan 0,76% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). 

Sementara itu, realisasi untuk pos pendapatan negara terkumpul sebesar Rp 1.459,4 triliun, berbanding dengan pos belanja negara yang membengkak hingga Rp 1.656 triliun. 

Catatan defisit ini memperlihatkan adanya kenaikan apabila dibandingkan dengan posisi per Mei 2026 yang kala itu berada di angka Rp 180,4 triliun atau 0,70% terhadap PDB.

Deretan pengamat ekonomi menilai rapor keuangan tersebut telah menjadi sinyal peringatan dini terhadap meluasnya tekanan pada APBN, khususnya jika mencermati dinamika yang bergejolak sejak awal tahun. 

Berdasarkan postur APBN saat ini, penyusutan nilai tukar rupiah justru bergerak lebih agresif dalam memicu lonjakan belanja dibandingkan kontribusinya terhadap penerimaan negara.

"Kondisi ini pada akhirnya mempersempit ruang fiskal pemerintah," ucap Ibrahim saat dikonfirmasi, Kamis (9/7/2026).

Di samping faktor domestik, memanasnya kembali eskalasi geopolitik global antara pihak AS dan Iran ikut memberikan beban tambahan bagi laju rupiah. 

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan damai antara AS dan Iran telah dibatalkan.

"Perang kembali terjadi, harga minyak mentah WTI diperkirakan akan kembali menguat di atas US$ 100 per barel," kata Ibrahim.

Untuk estimasi pergerakan, Ibrahim memproyeksikan pergerakan nilai tukar rupiah pada hari ini akan berjalan fluktuatif, namun berpotensi besar ditutup melemah pada kisaran rentang Rp 18.010 sampai Rp 18.060 per dolar AS.

Reporter: Ibtihal