Ekonom BCA Prediksi Inflasi Januari 2026 Meningkat Akibat Efek Tarif Listrik
JAKARTA - Memasuki awal tahun 2026, potret stabilitas harga di tingkat konsumen mulai menunjukkan dinamika yang menarik. Meskipun tekanan harga secara bulanan dinilai masih dalam batas aman, angka inflasi tahunan diprediksi akan menunjukkan lonjakan yang cukup kentara. Fenomena ini bukan semata-mata disebabkan oleh lonjakan harga barang secara mendadak, melainkan lebih dipengaruhi oleh faktor teknis pembanding tahun lalu yang cukup rendah, terutama terkait kebijakan subsidi energi pemerintah.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual, memberikan proyeksi bahwa angka inflasi pada Januari 2026 akan mencapai level 3,81% secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini mencerminkan adanya akselerasi jika dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya. Sementara itu, jika ditinjau dari pergerakan bulan ke bulan (month to month/mtm), inflasi diprediksi tetap landai di angka 0,10%, menandakan bahwa kenaikan harga sebenarnya tidak terlalu agresif dalam jangka pendek.
Anomali Efek Low Base dan Perubahan Kebijakan Subsidi Listrik
Penyebab utama di balik proyeksi kenaikan inflasi tahunan ini adalah apa yang disebut oleh para ekonom sebagai low base effect. David Sumual menjelaskan bahwa pada Januari tahun lalu (2025), pemerintah sempat memberlakukan kebijakan diskon tarif listrik yang cukup masif dan menyentuh berbagai lapisan masyarakat, termasuk pelanggan dengan daya hingga 2.200 VA. Kondisi tersebut membuat basis angka inflasi tahun lalu menjadi sangat rendah.
Namun, memasuki Januari 2026, kebijakan diskon listrik tersebut telah mengalami penyempitan cakupan secara signifikan. Saat ini, subsidi hanya diperuntukkan bagi kelompok pelanggan dengan daya 450 VA. Perbedaan kebijakan ini secara otomatis membuat indeks harga kelompok energi terlihat melompat jauh jika dibandingkan dengan setahun sebelumnya. “Inflasi Januari cenderung akselerasi secara tahunan karena efek low base dari diskon tarif listrik tahun lalu,” ujar David kepada Kontan.
Stabilitas Harga Pangan di Tengah Membaiknya Pasokan Nasional
Berbeda dengan komponen energi yang menyumbang tekanan inflasi, sektor pangan justru memberikan kabar baik bagi dompet konsumen. Di tengah naiknya angka inflasi secara tahunan, David Sumual mengamati bahwa harga mayoritas bahan pokok justru cenderung melandai pada awal tahun ini. Penurunan harga yang cukup signifikan terlihat pada kelompok bumbu dapur, terutama bawang dan cabai, yang selama ini sering menjadi "biang kerok" inflasi.
Membaiknya pasokan pangan di pasar menjadi faktor kunci yang menahan laju inflasi agar tidak terbang lebih tinggi. Penurunan harga pada komoditas utama ini berhasil menjadi penyeimbang (buffer) di tengah kenaikan biaya hidup lainnya. “Secara umum, harga bahan pangan utama relatif turun, sehingga menahan tekanan inflasi dari sisi pangan,” jelas David. Kondisi ini menunjukkan bahwa manajemen distribusi dan produksi pangan nasional berada dalam kondisi yang cukup terjaga pada pembukaan tahun 2026.
Akselerasi Inflasi Inti dan Pengaruh Harga Emas Global
Meskipun harga pangan stabil, inflasi inti diprediksi tetap merangkak naik. David memperkirakan inflasi inti akan berada di level 2,45% yoy dan 0,37% mtm. Menariknya, pendorong utama dari kenaikan inflasi inti ini bukanlah permintaan domestik yang meledak, melainkan pergerakan harga komoditas global, khususnya emas. Emas sebagai aset lindung nilai (safe haven) terus mengalami penguatan harga seiring dengan meningkatnya ketidakpastian di panggung politik dan ekonomi dunia.
Kenaikan harga emas ini secara langsung berdampak pada indeks harga konsumen di dalam negeri, terutama pada kelompok perhiasan. Bagi masyarakat Indonesia, emas memiliki peran ganda sebagai instrumen investasi sekaligus konsumsi, sehingga pergerakan harganya selalu memberikan dampak nyata pada angka inflasi inti. Faktor ini menjadi bukti betapa ketergantungan ekonomi domestik terhadap sentimen global masih sangat kuat di awal tahun ini.
Proyeksi Kuartal I Menghadapi Tekanan Musiman Hari Raya
Menatap sisa bulan di kuartal pertama tahun 2026, David Sumual mewanti-wanti adanya potensi kenaikan inflasi yang bergerak secara bertahap. Hal ini tidak terlepas dari kalender musiman yang cukup padat dengan perayaan besar. Dimulai dari perayaan Tahun Baru Imlek, yang kemudian akan segera disusul oleh momen bulan suci Ramadan serta hari raya Idulfitri.
Secara historis, rangkaian hari raya ini selalu memicu peningkatan permintaan masyarakat terhadap berbagai barang dan jasa, mulai dari pakaian hingga transportasi. Namun, David menilai bahwa meski akan ada kenaikan, skalanya diperkirakan masih akan tetap terkendali dan terukur oleh pemerintah maupun bank sentral. “Secara kuartalan, inflasi kuartal I cenderung naik bertahap karena faktor musiman hari raya. Namun, sejauh ini tekanannya masih terukur,” pungkas David menutup analisisnya.
Dengan proyeksi inflasi yang berada di level 3,81%, tantangan utama bagi pembuat kebijakan adalah memastikan bahwa daya beli masyarakat tidak tergerus, terutama bagi mereka yang tidak lagi menerima subsidi listrik secara penuh. Koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter akan sangat menentukan apakah akselerasi inflasi ini hanya bersifat temporer karena faktor teknis atau akan berlanjut menjadi tren jangka panjang.