Purbaya Sebut Anggaran Gentengisasi Tidak Sampai Satu Triliun Bisa Dari MBG

EK
Kamis, 05 Februari 2026
Purbaya Sebut Anggaran Gentengisasi Tidak Sampai Satu Triliun Bisa Dari MBG
Purbaya Sebut Anggaran Gentengisasi Tidak Sampai Satu Triliun Bisa Dari MBG

JAKARTA - Wacana mengenai program perbaikan atap sekolah atau yang dikenal dengan istilah "gentengisasi" kini memasuki babak baru dalam pembahasan anggaran negara. Purbaya Yudhi Sadewa, yang memberikan pandangan strategisnya mengenai kebijakan ini, menegaskan bahwa pembiayaan untuk program tersebut sebenarnya tidak sebesar yang dibayangkan banyak pihak. 

Dalam kalkulasinya, anggaran yang dibutuhkan untuk memperbaiki fasilitas pendidikan ini tidak akan menembus angka Rp1 triliun, sebuah angka yang dinilai masih sangat rasional dalam struktur keuangan negara saat ini.

Penyampaian Purbaya ini memberikan angin segar di tengah kekhawatiran publik mengenai beban APBN yang semakin berat. Dengan kebutuhan dana yang relatif kecil namun memiliki dampak besar bagi kenyamanan belajar siswa, Purbaya mengusulkan sebuah solusi taktis terkait sumber pendanaannya. 

Ia menyebutkan bahwa alokasi dana tersebut dapat diambil dari pos program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah langkah efisiensi yang dianggap mampu mempercepat perbaikan infrastruktur sekolah tanpa harus mengganggu pos anggaran krusial lainnya.

Analisis Purbaya Terkait Alokasi Dana Gentengisasi Dari Pos Makan Bergizi

Purbaya Yudhi Sadewa melihat adanya potensi sinergi antara program kesejahteraan siswa dengan perbaikan fasilitas fisik sekolah. Menurutnya, program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki alokasi yang cukup besar, sehingga penyisihan sebagian kecil dana untuk perbaikan atap sekolah tidak akan merusak skema utama program tersebut. Ia menilai bahwa gizi yang baik harus dibarengi dengan ruang belajar yang layak, sehingga keduanya merupakan satu kesatuan dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

"Anggaran untuk program gentengisasi ini sebenarnya tidak sampai Rp1 triliun. Angkanya relatif kecil jika dibandingkan dengan manfaat yang dihasilkan," ujar Purbaya. Ia menambahkan bahwa pengambilan dana dari pos MBG merupakan langkah logis karena kedua program tersebut memiliki target sasaran yang sama, yakni para siswa di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. 

Dengan pengelolaan yang tepat, dana yang disisihkan tersebut dipastikan cukup untuk menambal atap-atap sekolah yang rusak tanpa mengurangi kualitas gizi yang diberikan kepada siswa.

Efisiensi Anggaran Pendidikan Melalui Skema Pengalihan Pos Dana Yang Tepat

Usulan Purbaya ini menekankan pada pentingnya prioritas dan efisiensi dalam penggunaan anggaran. Purbaya menyadari bahwa infrastruktur sekolah sering kali menjadi kendala yang terlupakan di balik program-program besar lainnya. 

Dengan angka yang tidak mencapai Rp1 triliun, program gentengisasi ini seharusnya bisa diselesaikan dengan cepat melalui skema administrasi yang lebih fleksibel. Pengalihan dari pos MBG dianggap sebagai solusi tercepat dibandingkan harus menunggu pembahasan anggaran baru yang memakan waktu lama.

Purbaya menekankan bahwa keamanan dan kenyamanan siswa saat berada di kelas adalah harga mati. Atap yang bocor tidak hanya mengganggu proses belajar mengajar, tetapi juga membahayakan keselamatan penghuni sekolah. Oleh karena itu, fleksibilitas dalam penggunaan anggaran MBG untuk mendukung sarana prasarana sekolah dinilai sebagai langkah bijak. 

"Kita bisa mengambil sedikit dari pos MBG untuk memastikan genteng sekolah tidak lagi bocor. Ini demi kenyamanan anak-anak kita," tambahnya mempertegas urgensi program tersebut.

Dampak Jangka Panjang Perbaikan Fasilitas Sekolah Terhadap Kualitas Belajar Siswa

Secara filosofis, Purbaya memandang bahwa infrastruktur yang memadai adalah fondasi dari kesuksesan program pendidikan nasional. Makan bergizi memang krusial untuk pertumbuhan fisik dan kognitif, namun lingkungan belajar yang kering dan aman juga berperan penting dalam fokus belajar anak. Purbaya ingin memastikan bahwa investasi besar pemerintah dalam program MBG tidak sia-sia hanya karena gangguan teknis seperti atap sekolah yang rusak saat musim hujan tiba.

Melalui program gentengisasi ini, diharapkan tidak ada lagi laporan mengenai kegiatan belajar mengajar yang terpaksa dihentikan akibat plafon ambruk atau air hujan yang masuk ke kelas. Dengan estimasi biaya di bawah Rp1 triliun, program ini diproyeksikan bisa menjangkau ribuan sekolah yang membutuhkan perbaikan mendesak.

Purbaya yakin bahwa dengan koordinasi antar-instansi yang solid, pengalihan pos anggaran ini akan mendapatkan dukungan luas karena tujuannya yang sangat mendasar bagi dunia pendidikan.

Sinergi Program Pemerintah Dalam Membangun Sumber Daya Manusia Indonesia Emas

Purbaya menutup pandangannya dengan mengingatkan bahwa setiap rupiah dari APBN harus memberikan manfaat langsung bagi rakyat. Program gentengisasi dan Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah dua instrumen yang saling melengkapi dalam visi besar menuju Indonesia Emas 2045. Dengan manajemen anggaran yang cerdas seperti yang diusulkan Purbaya, pemerintah dapat menunjukkan keberpihakannya pada sektor pendidikan secara nyata dan terukur.

Fleksibilitas fiskal yang disarankan oleh Purbaya diharapkan menjadi model bagi pengelolaan program-program pemerintah lainnya. Keberanian untuk mengambil keputusan taktis dalam mengalihkan pos anggaran demi kebutuhan mendesak masyarakat adalah ciri dari tata kelola keuangan yang dinamis. 

Jika usulan ini terealisasi, maka program gentengisasi akan menjadi salah satu pencapaian infrastruktur tercepat dengan dampak sosial yang paling terasa langsung oleh para siswa dan guru di berbagai pelosok tanah air.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua