PDM Surabaya Inisiasi Kajian Ramadan 2026 Paparkan Formula 5T1I untuk Ibadah Puasa

EK
Senin, 02 Maret 2026
PDM Surabaya Inisiasi Kajian Ramadan 2026 Paparkan Formula 5T1I untuk Ibadah Puasa
PDM Surabaya Inisiasi Kajian Ramadan 2026 Paparkan Formula 5T1I untuk Ibadah Puasa

JAKARTA - Pimpinan Daerah Muhammadiyah atau PDM Surabaya menyelenggarakan kajian Ramadan guna memberikan pemahaman mendalam mengenai formula 5T1I dalam menjalankan ibadah puasa tahun ini.

Langkah ini diambil untuk membekali para jamaah agar tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, namun juga mampu meraih esensi spiritual yang lebih tinggi selama bulan suci.

Kajian yang menghadirkan tokoh agama terkemuka ini menjadi magnet bagi warga Muhammadiyah di Kota Pahlawan yang ingin meningkatkan kualitas ketakwaan mereka secara signifikan saat ini.

Acara yang berlangsung khidmat pada Senin 2 Maret 2026 ini membedah secara tuntas bagaimana penerapan rumus praktis dalam kehidupan sehari-hari umat muslim di tengah modernitas.

Paparan Kiai Sholihin Mengenai Konsep Dasar Ibadah Puasa

Dalam ceramahnya, Kiai Sholihin menekankan bahwa puasa harus dijalankan dengan kesadaran penuh akan kehadiran Tuhan dalam setiap helaan napas dan gerak langkah manusia di bumi.

Beliau menjelaskan bahwa tanpa pemahaman yang benar, ibadah puasa hanya akan menjadi rutinitas tahunan yang kehilangan makna transformatif bagi karakter dan kepribadian seorang mukmin sejati.

Formula yang ditawarkan merupakan hasil perenungan mendalam terhadap ayat-ayat suci Al-Quran dan hadis nabi yang sangat relevan untuk diaplikasikan oleh generasi muda masa kini yang dinamis.

Masyarakat yang hadir tampak sangat antusias menyimak setiap poin yang disampaikan, mengingat tantangan menjaga integritas moral di era digital semakin berat dari tahun ke tahun.

Rincian Formula Lima T dalam Menjalankan Ibadah Ramadan

Poin pertama dari formula tersebut adalah Tazkiyatun Nafs atau penyucian jiwa dari segala kotoran hati seperti iri, dengki, dan sombong yang dapat merusak pahala ibadah puasa seseorang.

Selanjutnya adalah Tilawah yang berarti meningkatkan interaksi dengan kitab suci Al-Quran, baik melalui membaca, menghafal, maupun mentadabburi maknanya untuk dijadikan pedoman hidup yang nyata saat ini.

Poin ketiga yaitu Tafakkur, di mana umat diajak untuk merenungi kebesaran penciptaan alam semesta sehingga tumbuh rasa rendah hati dan kekaguman yang luar biasa kepada Sang Pencipta.

Adapun dua T lainnya mencakup Tawadhu dalam berperilaku serta Taqarrub atau upaya mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Allah melalui berbagai rangkaian ibadah wajib maupun sunah harian.

Unsur Satu I sebagai Pelengkap Kesempurnaan Spiritual

Selain lima unsur T tersebut, Kiai Sholihin menambahkan satu unsur I yaitu Ikhlas sebagai pondasi paling utama yang menentukan diterima atau tidaknya amal perbuatan manusia di sisi Tuhan.

Ikhlas bermakna melakukan seluruh rangkaian ibadah semata-mata hanya mengharap ridha Allah tanpa ada campuran motivasi ingin dipuji oleh orang lain atau tujuan duniawi yang sangat semu.

Tanpa adanya rasa ikhlas, maka lima poin T yang telah disebutkan sebelumnya tidak akan memiliki bobot spiritual yang kuat di hadapan pengadilan akhirat pada masa yang akan datang.

Kombinasi antara 5T dan 1I ini disebut sebagai formula emas yang dapat mengubah pola pikir dan perilaku seseorang menjadi lebih religius namun tetap humanis dalam pergaulan sosial.

Implementasi Kajian dalam Kehidupan Sosial Warga Surabaya

Pimpinan Daerah Muhammadiyah berharap melalui kajian rutin seperti ini, warga Surabaya dapat menjadi teladan dalam menunjukkan wajah Islam yang damai, sejuk, dan penuh dengan toleransi antar sesama.

Kegiatan ini juga menjadi sarana silaturahmi yang efektif bagi pengurus dan anggota organisasi untuk memperkuat ukhuwah islamiyah di tingkat akar rumput selama bulan suci Ramadan tahun ini.

Setelah sesi pemaparan materi berakhir, acara dilanjutkan dengan diskusi interaktif di mana jamaah bebas bertanya mengenai problematika hukum islam kontemporer yang sering mereka jumpai dalam aktivitas keseharian.

Semangat yang dibawa dari kajian ini diharapkan terus membara hingga akhir Ramadan, sehingga setiap individu keluar sebagai pemenang yang berhasil melakukan revolusi mental ke arah yang lebih baik.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua