Jumat, 27 Maret 2026

IHSG Ditutup Melemah 1,89 Persen ke Level 7.164 Dipengaruhi Sentimen Global

IHSG Ditutup Melemah 1,89 Persen ke Level 7.164 Dipengaruhi Sentimen Global
IHSG Ditutup Melemah 1,89 Persen ke Level 7.164 Dipengaruhi Sentimen Global

JAKARTA - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menjadi sorotan setelah mengakhiri perdagangan dengan tekanan cukup dalam. 

Sejak awal sesi, indeks sudah menunjukkan kecenderungan melemah dan tidak mampu keluar dari zona merah. Kondisi ini mencerminkan sentimen pasar yang masih dibayangi ketidakpastian global. Investor pun terlihat lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan sepanjang hari.

IHSG pada penutupan perdagangan sore ini 'terdampar' ke zona merah. Pergerakan indeks terpantau terlalu 'nyaman' berada di jalur negatif sejak pembukaan pasar pagi. Hal ini memperlihatkan tekanan jual yang terus berlanjut tanpa adanya dorongan signifikan untuk berbalik arah. Akibatnya, indeks gagal mempertahankan posisi di zona hijau hingga akhir perdagangan.

Baca Juga

Perkuat Pasar Keuangan Syariah, Bank Mandiri Raih Empat Penghargaan Dealer Utama SBSN Terbaik 2025

Berdasarkan data RTI, Kamis, 26 Maret 2026, IHSG sore terpental 138,029 poin atau setara 1,89 persen ke posisi 7.164. Sebelumnya, IHSG sempat dibuka di level 7.313 dan bergerak dalam rentang tertentu sepanjang hari. Indeks tercatat menyentuh level terendah di 7.152 dan tertinggi di posisi 7.323. Rentang ini menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi selama perdagangan berlangsung.

Total volume saham yang diperdagangkan mencapai 31,144 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp32,348 triliun. Angka tersebut mencerminkan aktivitas pasar yang tetap ramai meskipun tekanan jual mendominasi. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp12,620 triliun dengan frekuensi transaksi sebanyak 1.725.785 kali. Data ini menunjukkan dinamika perdagangan yang aktif di tengah sentimen negatif.

pergerakan saham masih didominasi tekanan jual

Pada sesi penutupan, jumlah saham yang melemah jauh lebih banyak dibandingkan yang menguat. Tercatat sebanyak 380 saham mengalami penurunan, sementara 292 saham berhasil mencatatkan kenaikan. Selain itu, terdapat 148 saham yang bergerak stagnan tanpa perubahan berarti. Komposisi ini memperlihatkan dominasi tekanan jual di pasar saham.

Kondisi tersebut mencerminkan sikap investor yang cenderung defensif dalam menghadapi ketidakpastian. Banyak pelaku pasar memilih untuk melepas saham guna mengamankan posisi. Hal ini berdampak langsung pada pergerakan indeks yang terus berada di zona merah. Tekanan yang terjadi juga menunjukkan bahwa sentimen positif masih belum cukup kuat untuk membalikkan arah pasar.

Pasar yang didominasi pelemahan ini menjadi indikasi adanya kekhawatiran terhadap faktor eksternal. Investor tampaknya merespons perkembangan global dengan sikap hati-hati. Aksi jual yang terjadi secara masif membuat IHSG sulit untuk bangkit. Situasi ini mencerminkan kondisi pasar yang masih rapuh.

sentimen global dan minyak jadi perhatian investor

Pasar mencermati upaya gencatan senjata AS-Iran sebagai salah satu faktor utama yang mempengaruhi pergerakan saham. Ketegangan geopolitik ini memberikan dampak besar terhadap psikologi investor. Kondisi tersebut turut memicu fluktuasi harga minyak yang menjadi perhatian utama pasar global. Sentimen ini kemudian merambat ke pasar saham domestik.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya menyarankan investor untuk melakukan average up dengan penuh perhitungan. Ia juga menekankan pentingnya penerapan money-management secara disiplin dalam kondisi pasar seperti saat ini. Strategi tersebut dinilai dapat membantu investor menghadapi volatilitas yang tinggi. Pendekatan hati-hati menjadi kunci dalam situasi penuh ketidakpastian.

Di sisi lain, dari mancanegara, AS mengajukan proposal damai 15 poin, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz dan dismantling fasilitas nuklir Iran. Trump menyebut negosiasi berjalan, namun Iran menegaskan tidak ada pembicaraan, dan tidak akan menghentikan perang sebelum syaratnya terpenuhi. Perbedaan pernyataan ini menambah ketidakjelasan arah situasi geopolitik. Hal tersebut turut mempengaruhi sentimen pasar global.

Iran menuntut penghentian penuh perang, pengakuan atas kontrol Selat Hormuz, pencabutan sanksi, kompensasi, serta kebebasan program militer. Komunikasi masih berlangsung melalui mediator seperti Pakistan, Turki, dan Mesir. Namun, jarak kepentingan antara kedua pihak dinilai masih sangat jauh. Kondisi ini membuat ketidakpastian tetap tinggi di pasar.

pasar berada dalam kondisi hope vs reality

"Pasar berada dalam kondisi “hope vs reality". Setiap headline positif memicu risk-on, tetapi langsung diimbangi denial dari Iran,'" ujar Liza. Pernyataan ini menggambarkan bagaimana pasar merespons informasi secara cepat namun tidak stabil. Sentimen positif yang muncul sering kali tidak bertahan lama. Akibatnya, volatilitas pasar tetap tinggi.

Kondisi ini membuat investor harus lebih selektif dalam mengambil keputusan investasi. Perubahan sentimen yang cepat dapat memicu pergerakan harga yang tidak terduga. Oleh karena itu, strategi yang matang menjadi sangat penting. Pasar yang bergerak dinamis menuntut kewaspadaan tinggi dari para pelaku investasi.

Fenomena ini juga menunjukkan bahwa faktor psikologis memegang peranan penting dalam pergerakan pasar. Harapan akan perdamaian kerap berbenturan dengan realitas di lapangan. Hal tersebut menciptakan ketidakpastian yang sulit diprediksi. Dampaknya, pasar menjadi lebih sensitif terhadap setiap perkembangan berita.

ekspektasi suku bunga global ikut berubah

Selain faktor geopolitik, ekspektasi terhadap suku bunga global juga mengalami perubahan signifikan. Pasar kini tidak lagi memperkirakan bahwa The Fed akan melakukan pemangkasan suku bunga tahun ini. Sebelumnya, terdapat ekspektasi dua kali pemangkasan yang sempat menjadi sentimen positif. Perubahan ini tentu mempengaruhi arah pergerakan pasar keuangan global.

Bank of America (BofA) menyatakan bahwa harga minyak saat ini sudah berada di zona hawkish bagi The Fed. Jika harga minyak WTI bertahan di kisaran USD80 hingga USD100 per barel, maka risiko kenaikan suku bunga akan meningkat. Kondisi ini dapat memberikan tekanan tambahan pada pasar saham. Investor pun harus mempertimbangkan kemungkinan tersebut.

Namun, jika lonjakan harga minyak hanya bersifat sementara dan berdampak pada penurunan konsumsi, maka The Fed dapat kembali bersikap dovish. Hal ini membuka peluang perubahan arah kebijakan moneter di masa depan. Ketidakpastian ini menjadi faktor penting yang terus dipantau oleh pelaku pasar. Dinamika tersebut turut memengaruhi pergerakan IHSG secara keseluruhan.

Mazroh Atul Jannah

Mazroh Atul Jannah

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Harga Emas Antam Pegadaian Naik Tipis Kamis 26 Maret 2026 Investor Menyimak

Harga Emas Antam Pegadaian Naik Tipis Kamis 26 Maret 2026 Investor Menyimak

Harga Perak Lotus Archi Stabil Kamis 26 Maret 2026 Investor Cermati Spread

Harga Perak Lotus Archi Stabil Kamis 26 Maret 2026 Investor Cermati Spread

Harga Perak Antam Turun 26 Maret 2026 Setelah Lonjakan Tajam Kemarin

Harga Perak Antam Turun 26 Maret 2026 Setelah Lonjakan Tajam Kemarin

Rekomendasi Saham Dan Pergerakan IHSG Kamis 26 Maret 2026 Berpotensi Menguat Hari

Rekomendasi Saham Dan Pergerakan IHSG Kamis 26 Maret 2026 Berpotensi Menguat Hari

Asing Diam Diam Lepas Saham Saat IHSG Menguat Signifikan Rabu 25 Maret

Asing Diam Diam Lepas Saham Saat IHSG Menguat Signifikan Rabu 25 Maret