IHSG Ditutup Melemah Tajam Mayoritas Saham Terkoreksi Sentimen Global Membayangi Pasar Domestik
- Jumat, 27 Maret 2026
JAKARTA - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan kembali mencatat tekanan signifikan pada penutupan perdagangan.
Pelemahan terjadi di tengah dominasi aksi jual serta sentimen global yang kurang kondusif. Kondisi ini membuat mayoritas saham bergerak di zona merah dan menekan indeks secara keseluruhan. Investor terlihat lebih berhati-hati setelah volatilitas meningkat dalam beberapa sesi terakhir.
Tekanan yang terjadi tidak hanya berasal dari faktor domestik, tetapi juga dari pergerakan pasar global. Bursa saham kawasan Asia dan Eropa yang melemah turut memengaruhi sentimen pelaku pasar. Meski bursa Amerika Serikat bergerak positif, hal tersebut belum mampu mengangkat IHSG. Akibatnya, indeks ditutup turun cukup dalam.
Baca JugaAAJI Nilai New RBC Tingkatkan Transparansi Keuangan Industri Asuransi Nasional Indonesia
IHSG ditutup melemah signifikan
Indeks Harga Saham Gabungan ditutup di level 7.164 pada perdagangan Kamis sore. Indeks saham melemah 138,02 poin atau minus 1,89 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Pelemahan ini mencerminkan tekanan jual yang cukup besar di pasar saham domestik.
Mengutip data RTI Infokom, investor melakukan transaksi sebesar Rp32,34 triliun. Jumlah saham yang diperdagangkan mencapai 31,14 miliar saham. Aktivitas perdagangan yang tinggi menunjukkan investor tetap aktif meskipun indeks terkoreksi.
Pada penutupan tersebut, sebanyak 292 saham menguat. Sementara itu, 380 saham terkoreksi dan 148 saham stagnan. Komposisi ini menunjukkan dominasi saham yang melemah. Tekanan jual terlihat menyebar di berbagai sektor.
Mayoritas sektor saham berada di zona merah
Sebanyak 10 dari 11 sektor indeks tercatat melemah. Sektor energi menjadi yang mengalami tekanan terbesar. Sementara itu, hanya sektor transportasi yang mampu mencatatkan penguatan. Kondisi ini memperlihatkan pelemahan terjadi hampir merata.
Dominasi sektor yang terkoreksi mempertegas sentimen negatif di pasar. Pelaku pasar cenderung melakukan aksi ambil untung setelah sebelumnya terjadi penguatan. Selain itu, ketidakpastian global membuat investor mengurangi eksposur pada aset berisiko.
Pelemahan sektor energi juga berkaitan dengan dinamika harga komoditas global. Pergerakan harga energi yang fluktuatif memengaruhi saham-saham berbasis komoditas. Hal tersebut turut menekan kinerja indeks secara keseluruhan.
Bursa Asia turut bergerak melemah
Tekanan terhadap IHSG juga dipengaruhi pergerakan bursa saham di kawasan Asia. Mayoritas indeks utama di wilayah tersebut bergerak di zona merah. Hal ini mencerminkan sentimen global yang belum stabil.
Indeks Hang Seng Composite di Hong Kong melemah 1,89 persen. Sementara indeks Straits Times di Singapura turun 0,14 persen. Pelemahan ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi global.
Di China, indeks Shanghai Composite turun 1,09 persen. Sementara indeks Nikkei 225 di Jepang melemah 0,27 persen. Pergerakan negatif ini menunjukkan tekanan regional cukup luas.
Kondisi bursa Asia yang melemah membuat sentimen investor domestik ikut tertekan. Investor cenderung mengikuti arah pasar regional. Akibatnya, IHSG sulit mempertahankan penguatan.
Pasar Eropa ikut terkoreksi
Selain Asia, mayoritas bursa saham Eropa juga mencatat pelemahan. Indeks utama di kawasan tersebut bergerak turun pada perdagangan yang sama. Hal ini semakin memperkuat sentimen negatif global.
Indeks DAX di Jerman melemah 1,24 persen. Sementara indeks FTSE 100 di Inggris turun 0,85 persen. Pelemahan ini terjadi di tengah kekhawatiran ekonomi global.
Pergerakan negatif di Eropa menambah tekanan bagi pasar Asia, termasuk Indonesia. Investor global cenderung mengurangi risiko. Kondisi tersebut memicu aksi jual di berbagai bursa saham.
Sentimen global yang melemah seringkali berdampak langsung pada IHSG. Hal ini karena aliran dana asing dapat berubah mengikuti kondisi global. Ketika pasar global terkoreksi, investor cenderung menarik dana.
Bursa Amerika Serikat bergerak positif
Berbeda dengan Asia dan Eropa, bursa Amerika Serikat justru bergerak menguat. Indeks S&P 500 naik 0,54 persen. Sementara Dow Jones Industrial Average bertambah 0,66 persen.
Indeks NASDAQ Composite juga mencatat kenaikan. Penguatan ini menunjukkan optimisme investor di pasar Amerika. Namun sentimen positif tersebut belum mampu mengangkat IHSG.
Perbedaan arah antara bursa Amerika dan kawasan lain mencerminkan kondisi pasar global yang beragam. Investor domestik lebih terpengaruh oleh pergerakan regional. Akibatnya, penguatan Wall Street belum berdampak signifikan.
Pelemahan IHSG kali ini menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap sentimen global. Investor disarankan mencermati perkembangan pasar internasional. Langkah selektif dan manajemen risiko menjadi kunci dalam kondisi volatil.
Mazroh Atul Jannah
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Proyeksi Pembangunan Jalan Tol Kuningan Hingga 2030 Bisa Urai Macet Jabodetabek
- Jumat, 27 Maret 2026
Daftar Harga BBM Pertamina Maret 2026 di Seluruh Wilayah Indonesia Terbaru
- Jumat, 27 Maret 2026
Berita Lainnya
Harga Emas Dunia Stabil di Level Tinggi Namun Tertekan Faktor Global Pekan Ini
- Jumat, 27 Maret 2026
Harga Emas Antam Turun Tajam Tertekan Global Buyback Anjlok Pada Perdagangan Hari
- Jumat, 27 Maret 2026












