IHSG Melemah Sepekan Investor Waspadai Proyeksi Pergerakan Pasar Awal Pekan Mendatang
- Minggu, 29 Maret 2026
JAKARTA - Pergerakan pasar saham Indonesia sepanjang pekan terakhir menunjukkan tekanan yang cukup terasa.
Indeks Harga Saham Gabungan tidak mampu mempertahankan penguatan sebelumnya. Pelemahan terjadi secara bertahap seiring meningkatnya tekanan jual. Investor pun mulai bersikap lebih hati-hati menghadapi awal pekan.
Penurunan indeks ini terjadi di tengah berbagai sentimen global dan domestik. Ketidakpastian geopolitik menjadi salah satu faktor dominan. Selain itu, kondisi likuiditas pasar juga memengaruhi arah pergerakan. Situasi ini mendorong pelaku pasar menahan transaksi.
Baca JugaHarga Saham Hari Ini 29 Maret 2026 Sentimen Global Domestik Penggerak IHSG
Pada akhir perdagangan Jumat, indeks tercatat turun signifikan. IHSG ditutup melemah 67,034 poin atau 0,94% ke 7.097,05. Secara keseluruhan dalam sepekan terakhir, IHSG melemah 0,56%. Koreksi ini menandakan tekanan masih berlangsung.
Tekanan Jual Meningkat Sepanjang Pekan
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengatakan pelemahan IHSG sepanjang sepekan ini disertai dengan meningkatnya tekanan jual di pasar. Aktivitas jual terjadi di berbagai sektor. Investor cenderung melakukan profit taking. Hal tersebut memperlemah indeks.
Menurut dia, kondisi tersebut dipengaruhi oleh durasi perdagangan yang relatif singkat. Situasi ini terjadi menjelang dan setelah libur panjang Nyepi serta Idul Fitri. Volume transaksi menjadi lebih tipis. Likuiditas pasar pun berkurang.
"Selain itu, pelaku pasar juga masih mencermati perkembangan situasi di Timur Tengah, khususnya terkait penjajakan menuju gencatan senjata, serta kenaikan harga minyak mentah yang terus berlanjut," kata Herditya kepada Kontan, Jumat (27/3/2026). Sentimen ini memicu kehati-hatian. Investor memilih menunggu kepastian.
Proyeksi IHSG Awal Pekan Mendatang
Untuk perdagangan Senin (30/3/2026), Herditya memperkirakan IHSG masih berpotensi melanjutkan koreksi. Area support berada di 7.059. Sementara resistance berada di 7.136. Level tersebut menjadi acuan teknikal.
Ia menambahkan sentimen awal pekan masih berkisar geopolitik Timur Tengah. Kondisi pasar global juga masih korektif. Kedua faktor ini berpotensi menekan indeks. Investor perlu mencermati pergerakan.
Secara umum, pasar berada dalam fase konsolidasi. Fluktuasi jangka pendek masih mungkin terjadi. Investor jangka pendek harus lebih selektif. Strategi defensif menjadi pilihan.
Sentimen Global dan Ketidakpastian Diplomatik
Secara terpisah, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menambahkan pergerakan indeks dipengaruhi sentimen negatif global. Ketidakpastian diplomatik antara AS dan Iran menjadi faktor utama. Pernyataan kontradiktif memicu kekhawatiran. Pasar merespons dengan pelemahan.
Menurut Alrich, pernyataan yang berbeda di antara kedua negara menimbulkan ketidakpastian tinggi. Hal ini memicu volatilitas. Investor global memilih mengurangi risiko. Dampaknya terasa pada IHSG.
Selain itu, kenaikan harga minyak mentah dan gas alam menjadi sentimen negatif. Kekhawatiran gangguan pasokan meningkatkan tekanan inflasi. Biaya energi yang meningkat berdampak luas. Pasar saham ikut tertekan.
Rupiah juga ditutup melemah 0,45% menjadi Rp16.980 per dolar AS. Pelemahan mata uang menambah tekanan. Investor asing cenderung melakukan aksi jual. Hal ini memperlemah indeks.
Pergerakan Sideways dan Data Ekonomi Domestik
Secara teknikal, Alrich memperkirakan IHSG cenderung bergerak sideways. Kisaran pergerakan berada di 7.000-7.200. Rentang ini mencerminkan fase konsolidasi. Pasar menunggu katalis baru.
Data jumlah uang beredar juga menjadi perhatian. Money Supply M2 menunjukkan kenaikan 8,7% YoY pada Februari 2026. Angka ini melambat dari 10% pada Januari 2026. Perlambatan menunjukkan dinamika likuiditas.
Kenaikan ini terutama dikontribusikan oleh pasokan M1 yang tumbuh 14,4% YoY. Uang kuasi meningkat 3,1% YoY. Pertumbuhan kredit juga turut berkontribusi. Hal ini menunjukkan aktivitas ekonomi tetap berjalan.
Pekan depan juga akan dirilis sejumlah data penting. Indeks S&P Global Manufacturing PMI menjadi perhatian. Selain itu, neraca perdagangan dan inflasi juga dinantikan. Data tersebut berpotensi memengaruhi arah pasar.
Rekomendasi Saham untuk Dicermati Investor
Dari sisi teknikal, Herditya merekomendasikan pelaku pasar mencermati sejumlah saham. Saham tersebut antara lain CUAN di kisaran Rp1.475-Rp1.745. Kemudian DSNG pada level Rp1.670–Rp1.745. UNTR juga menarik di area Rp31.300–Rp32.000.
Sementara itu, Alrich menyarankan beberapa saham lainnya. Saham tersebut meliputi MEDC, ENRG, PTRO, ANTM dan CUAN. Sektor energi menjadi perhatian. Kenaikan harga komoditas mendukung kinerja.
Investor disarankan tetap selektif dalam memilih saham. Fokus pada fundamental yang kuat. Perhatikan juga level teknikal. Strategi bertahap dapat mengurangi risiko.
Secara keseluruhan, pelemahan IHSG mencerminkan tekanan global dan domestik. Sentimen geopolitik dan energi menjadi faktor utama. Investor perlu memantau perkembangan terbaru. Pendekatan disiplin sangat penting.
Menghadapi awal pekan, strategi defensif disarankan. Diversifikasi portofolio dapat membantu. Investor juga sebaiknya memperhatikan data ekonomi. Langkah ini membantu mengurangi risiko.
Meski melemah, peluang tetap terbuka. Pergerakan sideways memberi ruang akumulasi. Investor jangka panjang dapat memanfaatkan momentum. Dengan analisis matang, peluang tetap ada.
Mazroh Atul Jannah
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Rekomendasi Tempat Makan Nasi Lesah Magelang Paling Enak Wajib Dicoba
- Minggu, 29 Maret 2026
Resep Batagor Tanpa Ikan Gurih Kenyal Ekonomis Ala Abang Abang Nikmat
- Minggu, 29 Maret 2026
Resep Kakiage Gurih Renyah Ala Jepang Mirip Bakwan Sayur Praktis Rumahan
- Minggu, 29 Maret 2026
Resep Sayur Bening Oyong Soun Praktis Lezat Sehat Bergizi untuk Keluarga
- Minggu, 29 Maret 2026
Rekomendasi Tempat Makan Lesehan Bandung Paling Enak Nyaman Wajib Dicoba
- Minggu, 29 Maret 2026
Berita Lainnya
Rupiah Diproyeksi Melemah Pekan Depan Berpotensi Sentuh Level 17100 Per Dolar
- Minggu, 29 Maret 2026
Yield SBN Tenor Sepuluh Tahun Naik Rupiah Bertahan Dari Tekanan Global
- Minggu, 29 Maret 2026
Harga Emas Antam Sepekan Turun Tipis Investor Pantau Pergerakan Terbaru Hari Ini
- Minggu, 29 Maret 2026








.jpg)



