Kamis, 02 April 2026

BRIN WRI Dorong Strategi Pemulihan Pascabanjir Berbasis Kekuatan Masyarakat Lokal

BRIN WRI Dorong Strategi Pemulihan Pascabanjir Berbasis Kekuatan Masyarakat Lokal
BRIN WRI Dorong Strategi Pemulihan Pascabanjir Berbasis Kekuatan Masyarakat Lokal

JAKARTA - Pemulihan pascabencana banjir di Sumatera kini mulai diarahkan pada strategi berbasis komunitas dan ketahanan jangka panjang. 

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama World Resources Institute (WRI) Indonesia mendorong riset kolaboratif sebagai salah satu upaya memperkuat ketahanan masyarakat, khususnya melalui skema perhutanan sosial.

Melalui kajian bertajuk Pemulihan Pascabencana Banjir Sumatera 2025, kedua lembaga ini menekankan pendekatan build back better (BBB) agar proses pemulihan tidak sekadar membangun kembali infrastruktur, tetapi juga memperkuat kemampuan masyarakat menghadapi risiko bencana di masa depan.

Baca Juga

KemenPAN-RB Permudah Pemda Gunakan Aplikasi Digital Susun Layanan MPP

Kajian ini dilaksanakan di dua provinsi terdampak, yaitu Sumatera Barat dan Aceh, dengan melibatkan lima Kelompok Perhutanan Sosial (KPS) sebagai bagian penting dalam pemulihan berbasis lokal. 

Pendekatan ini diharapkan mendorong pembangunan yang lebih tangguh dan berkelanjutan, seiring peningkatan kapasitas masyarakat untuk menghadapi risiko serupa.

Tujuan dan Harapan Riset

Senior Manager Regional Sumatera WRI Indonesia, Rakhmat Hidayat, menyampaikan bahwa kajian ini diharapkan menjadi rujukan bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan. 

“Harapannya, riset ini dapat menjadi acuan bagi pihak terkait dalam melakukan upaya pemulihan pascabencana,” ujarnya.

Kajian ini tidak hanya menyoroti pembangunan fisik, tetapi juga pentingnya penguatan kapasitas masyarakat. Fokus pada ketahanan komunitas dimaksudkan agar masyarakat lokal dapat memainkan peran aktif dalam mitigasi dan adaptasi bencana, sehingga respons terhadap bencana ke depannya lebih cepat, efektif, dan terstruktur.

Metode Riset Terintegrasi

Riset dilakukan selama Februari hingga Maret 2026 dengan pendekatan terintegrasi. Model Pressure and Release (PAR) digunakan untuk mengidentifikasi kerentanan masyarakat, sementara pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) menekankan pemanfaatan kekuatan lokal dalam proses pemulihan.

Selain itu, riset mengkaji peran berbagai aktor, mulai dari pemerintah, LSM, hingga masyarakat setempat, serta tingkat literasi kebencanaan di wilayah terdampak. Hal ini memungkinkan perencanaan pemulihan yang lebih tepat sasaran dan sesuai dengan kondisi lokal.

Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian mencakup sejumlah daerah di Sumatera Barat, seperti Kota Padang dan Kabupaten Agam, serta wilayah di Aceh, termasuk Aceh Besar dan Aceh Utara. Pemilihan wilayah ini didasarkan pada tingkat kerentanan yang tinggi akibat banjir dan potensi risiko berulang.

Pendekatan ini menegaskan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik seperti perbaikan rumah atau infrastruktur, tetapi juga penguatan kapasitas sosial, ekonomi, dan lingkungan agar masyarakat lebih tangguh menghadapi risiko bencana di masa mendatang.

Peran Kelompok Perhutanan Sosial

Kelompok Perhutanan Sosial (KPS) menjadi bagian penting dari strategi pemulihan berbasis komunitas. Melalui pengelolaan sumber daya hutan secara partisipatif, KPS membantu masyarakat memperkuat mata pencaharian, menjaga lingkungan, dan memitigasi risiko bencana alam.

Pendekatan ini sejalan dengan prinsip BBB, yaitu membangun kembali lebih baik dari kondisi sebelumnya, tidak sekadar membangun fisik tetapi juga memperkuat ketahanan sosial dan ekonomi masyarakat. Keberadaan KPS memungkinkan masyarakat terdampak mengambil peran aktif dalam proses rehabilitasi pascabencana.

Hasil Riset untuk Kebijakan Daerah

Kepala Pusat Riset Kependudukan BRIN, Ali Yansyah Abdurrahim, menekankan bahwa hasil kajian ini masih akan disempurnakan melalui masukan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, akademisi, dan pelaku lapangan. 

“Kami berharap dokumen ini dapat memberikan manfaat nyata bagi para pengambil kebijakan di tingkat daerah,” ujarnya.

Lokakarya validasi hasil riset digelar di Padang sebagai forum untuk menghimpun masukan dari berbagai pemangku kepentingan. Forum ini bertujuan memastikan strategi pemulihan pascabencana lebih realistis, implementatif, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat lokal.

Pemulihan Jangka Panjang dan Inklusif

Melalui pendekatan kolaboratif ini, pemulihan pascabencana di Sumatera diharapkan tidak bersifat respons jangka pendek saja. Strategi ini bertujuan membangun sistem pemulihan yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.

Ketahanan masyarakat menjadi fokus utama, sehingga mereka dapat menghadapi bencana serupa dengan kesiapan lebih baik. Pendekatan berbasis komunitas juga memungkinkan proses pengambilan keputusan yang partisipatif, di mana suara masyarakat lokal menjadi bagian dari perencanaan pemulihan.

Manfaat untuk Masyarakat

Pemulihan berbasis komunitas menghadirkan manfaat ganda. Selain memperbaiki infrastruktur yang rusak, masyarakat juga memperoleh keterampilan baru, memperkuat jejaring sosial, dan meningkatkan kapasitas pengelolaan sumber daya lokal.

Pendekatan ini memungkinkan masyarakat tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga sebagai pelaku aktif dalam proses pemulihan. Keberlanjutan program ini diharapkan menciptakan masyarakat yang lebih mandiri, resilien, dan siap menghadapi risiko bencana di masa depan.

Sinergi Pemerintah dan Lembaga Swadaya

Kerja sama antara BRIN dan WRI menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, lembaga swadaya, akademisi, dan masyarakat. Dengan koordinasi yang baik, strategi pemulihan dapat dirancang secara komprehensif, mengurangi tumpang tindih program, dan mempercepat proses rehabilitasi.

Pendekatan kolaboratif ini sekaligus menjadi model bagi daerah lain yang terdampak bencana, menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana dapat efektif jika berbasis kekuatan lokal dan didukung kebijakan yang tepat.

Pemulihan pascabencana banjir di Sumatera yang berfokus pada komunitas dan ketahanan jangka panjang menunjukkan arah baru dalam penanganan bencana. Dengan riset kolaboratif, penguatan KPS, dan validasi kebijakan daerah, proses pemulihan diharapkan lebih efektif, inklusif, dan berkelanjutan.

Pendekatan ini juga menekankan bahwa masyarakat bukan hanya penerima bantuan, tetapi aktor utama dalam membangun ketahanan sosial, ekonomi, dan lingkungan. Hasilnya, Sumatera lebih siap menghadapi bencana di masa depan dengan kapasitas lokal yang kuat dan sistem pemulihan yang lebih tangguh.

Sindi

Sindi

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Menteri P2MI Lepas Seribuan PMI Bali Menuju Negara Bulgaria 2026

Menteri P2MI Lepas Seribuan PMI Bali Menuju Negara Bulgaria 2026

Penjualan Mobil Listrik di Indonesia Februari 2026 Terus Tumbuh Pesat

Penjualan Mobil Listrik di Indonesia Februari 2026 Terus Tumbuh Pesat

Arus Balik Lebaran 2026: 3,38 Juta Kendaraan Capai Jabotabek Aman

Arus Balik Lebaran 2026: 3,38 Juta Kendaraan Capai Jabotabek Aman

Strategi Kemenag Memastikan Penghulu Utama Tersedia Minimal 2 Per Provinsi

Strategi Kemenag Memastikan Penghulu Utama Tersedia Minimal 2 Per Provinsi

Airlangga Hartarto Bahas Pasokan LNG dan Batubara Ke Korea Selatan

Airlangga Hartarto Bahas Pasokan LNG dan Batubara Ke Korea Selatan